BEM UNISA Kecam Kekerasan Aparatur

KUNINGAN (Mass) – Para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNISA angkat bicara menyikapi aksi pemukulan mahasiswa pada aksi di depan gedung DPRD Kuningan, Senin (7/8). Mereka sangat menyayangkan dan mengecam keras sikap aparatur yang menggunakan cara kekerasan.

“Ketika usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata, Lawan!,” tegas Presma BEM UNISA, Yanto Susanto dan wakilnya, Ine Agustine dalam rilis yang dikirimkan ke kuninganmass.com Selasa (8/8).

Kebetulan, pada aksi tersebut dirinya ikut serta. Aksi yang dilancarkan waktu itu menyuarakan penolakan terhadap Perppu No 2 tahun 2017 tentang ormas. Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, kata dia, seolah dikebiri oleh terbitnya Perppu tersebut.

“Nah ketika kami sedang berorasi menyuarakan penolakan kami, terjadilah insiden kecil yang berdampak besar, yaitu salah satu kawan kami terkena kepalan tangan salah satu staf dewan dan kepolisian,” ungkapnya.

Dia tidak habis pikir, apakah harus dengan cara seperti itu menyambut kehadiran mahasiswa. Sebagai negara Pancasila serta menganut sistem demokrasi, kekerasan sudah bukan zamannya lagi.

“Kami memiliki hak untuk berdemonstrasi bahkan negara ini sekalipun membebaskan berekspresi dengan cara demonstrasi,” tandasnya.

Untuk itu, atas nama BEM UNISA pihaknya sangat menyayangkan dan mengecam keras atas sikap aparatur yang menggunakan kekerasan terhadap mahasiswa. Karena dia yakin, setiap aparat yakni anggota dewan maupun kepolisian memiliki tupoksinya masing-masing.

“Dan kami rasa tindakan seperti itu sudah tidak sesuai dengan tupoksinya. Apalagi sebagai staf anggota dewan, karena memang sudah ada pihak kepolisian untuk mengamankan selama aksi berlangsung,” pungkas Yanto diamini Ine. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com