Balon Bupati Jangan Hanya Berani Pasang Wajah

KUNINGAN (MASS) – Untuk membangun Kuningan yang Makmur, Moderat dan Mandiri, perlu dibangun dan dilakukan 3 hal. Yaitu, Membangun Faksi Kerakyatan, Membangun Sistim Ekonomi Persatuan dan Restorasi Budaya.

“Faksi Kerakyatan (politik), Sistem Ekonomi Persatuan (ekonomi) dan Restorasi Budaya (sosbud). Tri Konsep Poleksosbud sebagai TRI SAKTI Orang Kuningan,” kata Koordinator Nasional ANCaR (Aliansi Nasional Cendikia Akar Rumput), Tunggul Naibaho, Selasa (19/9/2017).

Ia menegaskan, ini adalah TriSAKTI orang Kuningan yang disarikan dari gen politik orang Kuningan. Dari Tri Konsep inilah akan diturunkan visi misi dan selanjutnya program kerja.

“Tidak bisa ujug-ujug dirumuskan visi misi. Jika itu dilakukan, pasti ngarang-ngarang dan dipantas-pantaskan,” ujar pria yang tinggal di Cibingbin itu.

Untuk membangun Faksi Kerakyatan yang kuat, salah satunya dapat dilakukan dengan membentuk Forum Masyarakat Desa (FMD). Disamping sebagai strategi massal menghadapi tekanan global, nasional dan regional, tapi juga sekaligus upaya taktis untuk menghadapi para penjahat desa yang mengangkangi dan mengkorup ADD (alokasi dana desa) dan DD (dana desa).

“Saya dan sedikit kawan aktivis yang peduli dengan kondisi Kuningan, telah turun ke desa-desa membentuk FMD-FMD. Tapi karena keterbatasan diri, baru sekitar 15 FMD yang berhasil kami bentuk,” tuturnya.

Ternyata, upayanya itu diam-diam mendapat gangguan dari elit-elit parpol tertentu dan juga elit-elit desa. Mereka ingin agar masyarakat desa tetap seperti sekarang, bersifat imajiner sehingga mudah dimanipulasi.

“Karena kalau masyarakat desa (MD) sudah berbentuk FMD maka masyarakat desa jadi organ yang berstruktur, sehingga kehadirannya dalam Musyawarah Desa, yang dihadiri Pemdes, BPD, tidak bisa lagi dimanipulir. Dan MD menjadi aktif dan partisipatif dalam pembangunan desa baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan juga pada tahap pengawasan,” jelasnya.

Tunggul merasa kecewa terhadap para bakal calon bupati yang tampil dengan pencitraan belaka, lalu partai dengan cara apa merekomendasi mereka. Sementara tidak ada satu kalimat apapun dari para bakal calon untuk membangun Kuningan.

“Apa kriteria yang dibuat parpol, karena parpol punya tanggungjawab dalam hal rekrutmen politik. Menurut saya, Membangun Faksi Kerakyatan, Membentuk Sistim Ekonomi Persatuan, dan Restorasi Budaya, adalah 3 hal prioritas yang harus dilakukan bupati dan rakyat Kuningan,” tandas Tunggul.

Tiga hal itu, imbuhnya, dapat menjadi tantangan terbuka kepada para balon agar bicara. Sehingga rakyat tahu jeroan para balon dan mereka tidak seperti membeli musang dalam karung. Rakyat tahu para balon punya konsep, visi dan lain-lain. Biar rakyat mendengar, karena pepatah ‘Diam itu Emas’ jangan salah taroh.

“Saya sengaja lontarkan Tri Konsep ini lewat kuninganmass.com agar mereka jangan hanya berani memasang wajah tapi juga harus berani bicara konsep membangun Kuningan. Karena tanpa konsep, para balon bupati itu hanya akan jadi bupati administratur. Tidak lebih,” ketusnya.

Berbulan-bulan wajah para balon terpampang di wilayah publik, tapi Tunggul mempertanyakan, apa yang didapat rakyat. Seandainya ada satu kalimat saja dari para balon, tentu hal itu akan dibincangkan, ditafsirkan warga. “Kalau hanya wajah, apa yang didapat warga?,” tanyanya.

Parpol sendiri, menurutnya, tidak menunjukan tanggungjawab moralnya dan profesionalismenya karena hanya melakukan sosialisasi wajah balon kepada para calon pemilih.

“Lalu, apa kriteria parpol merekomendsi seorang balon menjadi calon? Apa kriterianya? Selera Ketum? Baiknya bubarkan saja parpol yang seperti itu, karena kalau demikian Ketum telah menjadikan parpol sebagai korporasi,” pungkasnya. (deden)

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com