Sejak Awal Toto Merasa ‘Dijegal’ untuk Mendaftar Ketua KONI

KUNINGAN (MASS)- Mundurnya Toto Surifto dari pencalonan Ketua Umum KONI Kuningan menjadi pertanyaan besar? Ada apa sebenarnya yang terjadi sehingga Toto yang lama menjadi pengurus Pesik Kuningan itu mundur.

Kepada wartawan di BP Resto  Jalan Pramuka, Toto berbicara panjang lebar. Ia mengaku, meski secara persyaratan sudah memenuhi dan siap bertarung di Musorkab. Namun, karena  banyak pertimbangan lebih baik mundur terhormat.

“Ya kalau disebut ada interpensi dari penguasa, ya bisa, tapi memang sulit untuk dibuktikan. Namun, yang pasti saya merasa untuk mendaftar menjadi calon Ketua Umum KONI seperti dipersulit,” ujarnya kepada wartawan, Kamis siang.

Sebagai bukti, panitia mengharuskan calon harus berpendidikan S1, harus aktif sebagai pengurus di salah satu cabor dan juga harus mendapatkan dukungan dari tiga cabor.  Meski semuanya memenuhi tapi ia merasakan kesulitan untuk memenuhi persyaratan itu.

Untuk, mendapatkan tiga dukungan cukup sulit, dimana H-1 pendaftaran ditutup baru dapat dukungan dari cabor dan itu IPSI. Kebetulan ia pengurus di Ikatan Penca Silat Idonesia itu. Sedangkan dua cabor yang memberikan dukungan adalah  renang dan taekwondo.

“Seharus tidak seperti ini, jangan dipersulit kalau pun cukup satu cabor saja. Saya juga bersyukur mendapatkan dukungan dan itu sudah secara maksimal. Sedangkan calon yang lain sampai mendapatkan dukungan dari belasan cabor,” jelasnya.

Ia juga menyayangkan dari panitia yang tidak menyediakan waktu untuk menyapaikan visi misi kepada para pengurus cabor. Harusnya para pengurus cabor di kumpulkan dan para kandidat menyampaikan visi misi serta juga mereka berhak untuk mengetahui jejak rekam calon.

“Kan pengurus cabor belum tentu semua tahu tentang kita, maka harus diperkenalkan dong. Itu tidak dilakukan padahal waktu ada. Ini juga aneh. Saya justru   maju karena banyak hal  yang ingin dirubah ditubuh KONI,” jelasnya.

Toto tidak mau menghubungkan hal ini dengan politik, karena selama ini ia mendukung Capres 02. Terkait interpensi bupati, itu sulit membuktikan meski ada. Namun, yang pasti 70 persen pengurus cabor adalah para pejabat sehingga semua pihak  bisa memberikan penilaian.

“Sekali lagi kalah menang biasa dalam pertandingan. Tapi kalau sudah tidak ada yang beres sejak awalnya, tentu mencedrai sportifivitas. Ingat olahraga  itu mengajarkan harus sportif tapi kalau kita sudah mengetahui pemenangnya maka percuma maka saya lebih baik mundur,” tandasnya.

Ia mengaku, awalnya maju menjadi calon Ketua karena ingin merubah pengurus KONI yang selama ini banyak dihuni oleh para pensiunan. Sebagai pengusaha tentu ia tidak ingin ‘numpang makan’ justru ingin mendatangkan sponsor agar cabor yang ada di Kuningan bisa berkembang. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com