Warga Dukuhmaja Nyuguh di Petilasan Prabu Siliwangi

LURAGUNG (MASS) – Upacara adat Nyuguh masih dilestarikan oleh warga Desa Dukuhmaja Kecamatan Luragung. Mereka berbondong-bondong menuju Makam Cireundeu sambil membawa sesajen.

Sedikitnya ratusan warga mengikuti upacara adat tersebut. Mereka harus menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer agar sampai di Makam Cireundeu. Kondisi jalannya masih setapak dan berjurang, belum tersentuh pembangunan.

“Kami menggelar acara ini dalam rangka melestarikan adat budaya Sunda. Namanya Nyuguh atau hajat bumi. Ini rutin kami selenggarakan tiap Bulan Mulud Jumat pertama,” tutur Kaur Kesra Desa Dukuhmaja, Rasidin, Selasa (28/11/2017).

Acara diawali dengan kirab atau pawai dari Balai Desa menuju Makam Cireundeu. Masyarakat mengenakan pakaian adat Sunda sambil membawa sesajen. Terdapat 41 jenis sesajen mulai telor asin, bubur hingga tumpeng.

Sesampai di Cireundeu, sesajen diletakkan di Makam Ratu Buyut Pakuan. Di sana, diceritakan asal usul Nyuguh, dibacakan wasiat Prabu Siliwangi serta sambutan Kades Dukuhmaja Rohaman dan Kasi Kesra Kecamatan Luragung Drs Nana.

Setelah itu dilaksanakan penyerahan tumpeng oleh perwakilan camat kepada kuwu yang kemudian diserahkan ke 41 prajurit sebagai simbol.

Rasidin menceritakan asal usul acara Nyuguh. Menurutnya, acara tersebut merupakan wasiat dari Eyang Suramanggala, sesepuh Luragung. Isi wasiatnya, siapapun kuwu Luragung yang menjabat harus nyuguh.

“Seharusnya yang melakukan sesajen ini dari keturunan Suramanggala. Tapi karena sudah gak sanggup maka oleh Desa Dukuhmaja dilestarikan. Dukuhmaja ini pemekaran Desa Luragung Landeuh yang biasanya menyelenggarakan,” jelas Rasidin.

Kisah dari Nyuguh tersebut, bermula dari kedatangan 42 prajurit yang diutur oleh Raja Padjadjaran Siliwangi. Waktu itu, raja tidak punya panglima. Lewat impiannya, yang harus menjadi panglima perang adalah Suramanggala di Wewengkon Luragung daerah Cireundeu.

Sesampai di Cireundeu, 42 prajurit menanyakan rumah Suramanggala kepada orang yang sedang mencangkul. Oleh pria tersebut, puluhan prajurit yang dipimpin Ki Centong itu diarahkan. Namun sesampai di rumah, mereka hanya mendapati istri Suramanggala.

“Pas bertanya ke istrinya, ternyata pria yang nyangkul itulah Suramanggala,” tutur Rasidin.

Sontak Ki Centong selaku pimpinan prajurit geram. Ia menghampiri Suramanggala hingga terjadi cekcok mulut. Suramanggala berkilah, prajurit hanya menanyakan rumah sehingga diarahkan ke rumahnya. Kalau saja langsung menanyakan Suramanggala, maka ia akan menunjuk dirinya.

Tak terima alasan Suramanggala, Ki Centong mengajaknya bertarung. Bahkan puluhan prajuritnya dikerahkan. Namun ternyata kesaktian Suramanggala mampu mengalahkan ke 42 prajurit itu. Satu prajurit berhasil kabur ke Padjadjaran, sedangkan 41 prajurit lainnya takluk menjadi anak buah Suramanggala. Konon, 41 prajurit itu menjadi macan.

“Sehingga nyuguh di sini kepada 41 prajurit, wasiat Suramanggala, supaya mereka hente ngagalaksak ngaganggu masyarakat. Begitu kisahnya,” tukas Rasidin.

Ketua Panitia Upacara Adat Nyuguh, Dadang Bardan MPd mengungkapkan, acara tersebut digelar rutin tiap Bulan Mulud Jumat pertama. Di Dukuhmaja sudah dilestarikan sejak 2014 lalu. Itu karena Desa Luragung Landeuh tidak menyelenggarakannya lagi sejak 2010-2013.

“Awalnya digelar rutin oleh Luragung Landeuh dan kebetulan Dukuhmaja masih bagian dari Luragung Landeuh. Tapi sejak 2010 tidak diselenggarakan lagi. Maka mulai 2014 kami gelar kembali dengan tujuan melestarikan adat budaya Sunda,” jelasnya.

Baik Dadang maupun Rasidin berharap, ada perhatian pemda terhadap akses jalan menuju Cireundeu. Sebab jalan tersebut belum tersentuh pembangunan disamping curam. Tiap tahun, acara Nyuguh bakal dilestarikan oleh warga Dukuhmaja. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com