Pelajari Pertanian, Rana Kunjungi Vietnam

KUNINGAN (Mass) – Salah satu pembina organisasi Gerakan Nelayan Tani Indonesia (Ganti) Kabupaten Kuningan, Rana Suparman SSos yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Kuningan, akhirnya bertolak ke luar negeri. Keberangkatan Rana menuju luar negeri yakni Negara Vietnam, dimaksudkan untuk mempelajari soal pertanian.

“Kenapa saya kesana, salah satunya kan mampu melakukan ekspor pertanian ke kita. Jadi, jenis pertanian apa yang memang berpotensi kita kembangkan disini nanti kita akan pelajari disana,” ucap pengurus Ganti Kuningan, Rana Suparman SSos saat ditemui awak media sebelum bertolak ke negara Vietnam kemarin, Rabu (31/3).

Menurutnya, setiap tahun lahan pertanian yang ada di Kuningan semakin berkurang seiring dengan bertambahnya populasi penduduk, sekaligus dengan memanfaatkan areal-areal lahan pertanian untuk pemukiman warga. Makanya, ketika ditawari organisasinya untuk berangkat ke Vietnam dalam rangka mempelajari soal pertanian, baginya di Vietnam saat ini lebih berbicara soal kualitas tentang pertanian.

“Padahal, yang seharusnya berbicara kualitas itu di kita. Karena lahan semakin hari semakin menyempit, maka kita harus berbicara kualitas produktifitas kita. Kenapa malah Vietnam, padahal kemerdekaan juga jauh muda usianya oleh kita, kok malah sekarang mereka (Vietnam, red) lebih bisa mensuplai hasil buminya kepada negara-negara lain,” katanya.

Dirinya meyakini, jika ada keseriusan yang dibangun untuk memajukan pertanian lebih baik kedepan, maka tak bisa dipungkiri hasil pertanian di Indonesia akan lebih baik dari negara-negara lain.

“Memang, saat ini kita terjebak dengan kimiawi. Semua pupuk penggunaannya dengan pupuk kimia, lalu orang tidak berani berspekulasi bagaimana supaya menggunakan dengan pupuk organik, padahal tanah bisa lebih terpelihara dan subur,” ujarnya.

Rana menilai, saat ini Vietnam dalam hal pertanian memang sudah berbicara tentang pemanfaatan pupuk organik, baik dalam hal pengelolaan dan memproduksi sendiri pupuk tersebut untuk dipergunakan.

“Kan hakekat kemandirian itu petani bisa menciptakan kebutuhan pertaniannya. Petani itu bisa mengolah pupuk organiknya, bisa mencari bahan bakunya, bisa memproses dan mempergunakan sendiri pupuk organiknya. Kan itu bisa dilihat bagaimana efisiensi anggaran seorang petani untuk areal pertanian mereka sendiri, sehingga produktifitas pertaniannya lebih efisien,” pungkasnya.(andri)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com