Desa Sagarahiang Menyimpan Situs Jaman Purba (3)

DARMA (MASS) – Dahulu kala di jaman kuno (Hindu-Budha) di Jawa Barat, tumbuh pemerintahan Kerajaan Sunda yang pusat atau ibu kota kerajaannya pernah berpindah-pindah. Paling tidak diketahui adanya empat buah ibu kota atau pusat kerajaan selama masa Kerajaan Sunda. Keempat pusat kerajaan dimaksud adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran.

Menurut Kang Ukad atau biasa di sapa Tablo, relawan pencita alam, pusat Kerajaan Sunda yang berpindah-pindah itu pernah berlokasi secara kronologis yakni diantaranya Galuh, Pakuan, Saunggalah, Pakuan, Kawali, dan Pakuan. Jadi Kerajaan Sunda itu berakhir pada waktu pusat kerajaannya berkedudukan di Pakwan Padjajaran.

Disebutkan dalam Naskah-naskah Wangsakerta yang sekarang ada di Saunggalah 3 (di Citameng) “Eksistensi kerajaan Saunggalah dalam lingkungan kehidupan kerajaan-kerajaan lainnya, khususnya di Jawa Barat seperti Kerajaan Galuh, Sunda, dan Galunggung. Salah satu keterangan penting adalah diungkapkannya akhir kekuasaan kerajaan Saunggalah dan kerajaan Galunggung, yang selanjutnya bersatu (digabungkan) dengan kerajaan Galuh Pakuan (Ekadjati et.al, 1989: 60)”

                                Kang Tablo

Terlepas dari masalah benar atau tidaknya isi riwayat terhadap pemahaman situs sejarah tersebut, sejarah kerajaan Saunggalah merupakan pemanfaatan cerita-cerita tradisional yang berkaitan dengan adanya situs-situs sejarah di Kabupaten Kuningan.

Adapun situs sejarah terpenting yang berhubungan dengan eksistensi kerajaan Saunggalah adalah situs sejarah yang terdapat di Bukit Sanghiang yakni di Desa Sagarahiyang Kecamatan Darma Kuningan. Sebab di tempat tersebut, ditemukannya benda-benda peninggalan arkeologi berupa Lingga dan Arca Nandi serta papan-papan batu yang diduga bekas reruntuhan bangunan candi yang berasal dari abad ke-7 atau ke-8 Masehi.

Sementara itu menurut Kepala Desa Sagarahiang Iman Budi Kortana, A.Md menyebutkan penyebaran agama Islam yang pertama di Kuningan itu yakni dari Desa Sagarahiang yang kemudian menyebar ke Kelurahan Winduherang Kecamatan Cigugur.

Hal ini diperjelas dengan adanya arsip sejarah yang ada di Desa Sagarahiang itu sendiri yang menceritakan “Ditahun 1372 M masuklah agama Islam ke wilayah Kerajaan Arile atau Saung Galah yang dibawa oleh :

  1. Eyang Syeikh Haji Maulana Akbar (Babakan Dayeuh)
  2. Eyang Syeikh Haji Abdus Salam (Babakan Dayeuh)
  3. Eyang Syeikh Haji Abdus Salim ( Babakan Dayeuh)
  4. Syeikh Mangundana (Muncangu Heuleut)
Gerbang menuju Bukit Lingga

Untuk merubah Ajaran Sanghiang Windu Darma pada waktu itu menjadi Agama Islam, dan Agama Islam masuk ke 9 (Sembilan) Kabuyutan yang sekarang dikenal sebagai :

  1. Eyang Syeikh Marmagati (Koncangan)
  2. Kyai Dugal (Citampian)
  3. Buyut Jago (Astana Tengah)
  4. Langlang Buana (Dangddeur)
  5. Sanghiang Sukma Dipucuk / Eyang Sangkuwukarees (Munjul Pasiripis)
  6. Buyut Lubang (Birit Desa)
  7. Buyut Brebes (Blok Dukuh)
  8. Buyut Indun (Astana Wetan)
  9. Buyut Bewos (Astana Kulon)

Eyang Syeikh Haji maulan Akbar dan 9 Kabuyutan diatas mulai membangun roda Pemerintahan dan berdirilah sebuah Desa yaitu Desa Sagarahiang. Makna nama Sagarahiang itu sendiri diambil dari 2 suku kata yaitu Sagara yang berarti Lautan, Sedangkan Hiang yang berarti Leluhur/Dewa/Raja. Sagarahiang mempunyai arti Lautan Leluhur/Dewa/Raja, dengan bukti banyaknya Situs-situs Purbakala,” (arsip Desa Sagarahiang).

“Begitulah sejarahnya berdasarkan arsip Desa Sagarahiang yang kami miliki. Arsip ini kita jaga sejak pemerintahan Kuwu H Amin di masa perjuangan yang mana dengan bukti sejarah masuknya batalion Umar Wirahadi Kusumah, Yogi SM, Abi Manyu dan Mas’ud Wisnu Saputra. Sampai 14 generasi kuwu,” ujarnya. (argi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com