Berkunjung Ke Patilasan Naladria, Peninggalan Desa Gunungaci

SUBANG (MASS) – Kali ini kuninganmass.com berkunjung ke salah satu peninggalan sejarah yang berada di Limus Nunggal Blok Kancana Desa Gunungaci Kecamatan Subang. Peninggalan sejarah tersebut berupa tiga makam yang dianggap kramat.

Ruspendi (67) penjaga peninggalan sejarah di tempat tersebut, atau yang lebih dikenal sebagai kuncen, memberikan saya cerita yang cukup mengejutkan, dimana tempat yang saya datangi ini merupakan tempat singgah Naladria dari tiga pertapaannya di tiga gunung selama 21 tahun.

“Ini tempat singgahnya Naladria setelah bertapa di Gunung Subang 7 tahun, melanjutkan pertapaan di Gunung Hurip 7 tahun, dan di Gunung Tilu juga 7 tahun,” cerita lelaki sepuh itu sambil menikmati sebatang rokok, Jumat (11/10/2019).

Cerita Naladria sempat terpotong karena jam sudah menunjukkan pukul 11.00 WIB, kami bergegas untuk bersiap shalat Jumat. Selesai Jumatan, saya kembali dihinggapi rasa ingin tahu soal Naladria, Pak Ruspendi tidak keberatan.

Pak Ruspendi bercerita soal dipercaya menjadi penjaga tempat sejarah itu sejak tahun 1979. Dirinya diberi amanah oleh Sesepuh Arda, yang saat ini dimakaman di salah satu tiga makam patilasan Naladria.

“Saya juga gak tau, tiba-tiba dipercaya menjadi penjaga aja,” ujarnya dalam bahasa sunda saat kami tanyai apakah estafet penjaga ini diturunkan secara generasi atau dipilih.

Di patilasan Naladria, sebutan tempatnya berupa limus nunggal ternyata mempunyai arti tersendiri. Limus Nunggal merupakan sempalan dari kalimat Muslim Nunggal, atau satu-satunya islam, bisa juga muslim pertama.

Penuturan Ruspendi, sebutan itu diberikan karena Naladria merupakan orang pertama yang membuka wilayah di sana dan beragama islam, sebelum kedatangan tiga kanca-nya, Mas Raden Kuwu, Rangga Kancana, dan Masdiloh. Konon, kedatangan kanca-nya inilah cikal bakal blok tersebut dinamai Kancana.

Dalam ceritanya, selama merawat petilasan, meski jauh dari pusat kota, ternyata cukup dikenal. Beberapa kali dirinya mengantarkan peziarah dari Banten, Jakarta bahkan Jawa Timur.

“Banyak yang datang berziarah, membaca hadoroh dan mengaku dibukakan gambaran soal emas,” ucapnya dalam bahasa dan logat sunda yang khas.

Ruspendi bertutur bahwa gambaran emas hanyalah gambaran kemuliaan, bukan gambaran tertimbunnya emas.

“Ya namanya juga petilasan orang suci, yang duanya juga makam tokoh sesepuh Arda dan Raturan Asih,” ungkapnya.

Dari ceritanya, petilasan tersebut baru dibuka dan dibangunkan pagar pada tahun 2008. Dan baru direnovasi kembali pada 2018. Menurut pengakuan Ruspendi, hal itu sesuai dengan “waktu”nya. (eki/trainee)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com