Ternyata TB Hasanudin Mahir Nyabit Padi

KUNINGAN (MASS) – Saat menyapa masyarakat petani di Desa Cidahu Kecamatan Pasawahan, Cagub Nomor urut 2, TB Hasanudin terjun langsung ke sawah menyabit padi. Saat menyabit padi, politisi yang akrab disapa Kang Hasan itu rupanya mahir menyabit padi, tidak terlihat kikuk.

“Saya memang berasal dari keluarga petani. Urusan ngarit mah sudah jadi makanan sehari-hari dulu sewaktu masih muda,” ungkap keturunan Talaga Majalengka itu kepada para awak media Minggu (25/3/2018).

Ditengah terik matahari ia juga menyempatkan makan bersama para petani. Menu makanannya khas petani yang biasa jadi konsumsi sehari-hari. TB tampak lahap menyantapnya.

“Nikmat sekali. Menunya sederhana, makan di sawah bersama para petani di sini,” ujarnya.

Lantaran berasal dari keluarga petani, TB paham betul keluh kesah petani saat berdialog di gelaran panen raya.

“Peningkatan kesejahteraan petani merupakan bagian dari target misi kami pasangan Hasanah bersama Cawabup Anton Charliyan,” tandasnya.

TB mendengar langsung keluhan dari para petani di Cidahu. Saat ini produksi mereka yang lumayan bagus, dari 1 hektar bisa menghasilkan 9 ton lebih. Meski idealnya sekitar 12 ton.

“Tetapi mereka terkendala dengan penjualan gabah kering pada tengkulak, yang hanya berkisar pada Rp4.200/kg nya,” ujar Kang Hasan.

Menurut dia, kondisi ini merupakan hal klasik, yang sangat memperihatinkan. Persoalannya bermuara pada Bulog, yang seharusnya melakukan upaya untuk membantu memberikan solusi meningkatkan penghasilan para petani.

“Karena Bulog itu milik negara, milik rakyat yang tentunya harus dipergunakan untuk kepentingan rakyat,” tandasnya.

Dari dulu sampai sekarang, imbuh TB, kehidupan para petani hampir sama saja, tidak ada perbaikan. Sehingga menurutnya, saat ini sudah saatnya harus ada pemimpin yang mau turun membenahi permasalahan ini.

“Terutama dalam hal marketing, karena persoalan intinya juga hampir tidak berubah, yakni terombang ambingnya harga jual,” kata cagub dari PDIP itu.

Sebenarnya, sambung TB, Bulog bisa berperan dengan cara turun, sekaligus membeli gabah dari para petani dengan harga yang layak. Kemudian melakukan langkah menjaga stabilitas harga plus daya jual petani agar seimbang.

“Jadi menurut hemat saya, ketika panen sedang melimpah, dimana dalam teori ekonomi, ketika komoditas melimpah harga turun. Nah supaya petani tidak sengsara, Bulog turun membeli dengan harga layak, kemudian disimpan, ketika paceklik dijual, supaya harga plus daya jual petani seimbang,” tegas TB. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com