Relawan Demokrasi Dilatih Pakai Bridge

KUNINGAN (MASS) – Sedikitnya 30 orang Relawan Demokrasi (Relasi) dilatih oleh KPU Kuningan di Hotel Prima Resort Sangkanurip. Dalam kegiatan bertajuk Bimbingan Teknis Relasi KPU Kuningan itu mereka diberikan pemahaman mendalam kaitan dengan tugas mereka selama ini.

“Bimtek ini 2 hari sejak kemarin sampai hari ini (6-7/1/2018). Sejak dibentuk, keberadaan Relasi di Kuningan berorientasi sebagai tim yang mengemban tugas melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada masyarakat Kuningan untuk Pilkada Serentak Rabu 27 Juni 2018,” terang Asep Z Fauzi, salah seorang komisioner KPU Kuningan.

Pada bimtek kali ini, Relasi diberikan bekal pengetahuan untuk kepentingan kelancaran tugas-tugasnya. Selain diberikan pengetahuan, narasumber yang hadir turut pula memberikan pengalaman menarik ketika di dalam forum. Narasumber yang terdiri dari Ketua KPU Kabupaten Kuningan Heni Susilawati, Komisioner KPU Kabupaten Kuningan Divisi SDM dan Parmas Asep Z Fauzi, serta H Toto Santosa (Jurnalis) mentransferkan pengetahuan melalui metode yang unik dan akurat.

“Metode tersebut adalah metode Bridge (Building Resources in Democracy, Government, and Election). Bridge adalah modul-modul yang fokus pada proses kepemiluan dan digunakan sebagai sarana pengembangan professional,” jelas Asfa, sapaan akrab Asep Z Fauzi.

Modul tersebut, imbuhnya, disusun secara komfrehensif dalam satu paket workshop dan digunakan sebagai alat untuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dalam kerangka yang lebih luas.

“Penggunaan Metode Bridge pada bimtek Relasi bertujuan untuk mendorong penggunaan prinsip-prinsip pemilu; untuk meningkatkan kapasitas pelaksana pemilu dalam melaksanakan pekerjaan mereka secara efektif dan efisien; untuk mengembangkan profesionalitas dan integritas pelaksana pemilu; untuk membangun tim dan jejaring baik di dalam lingkungan penyenggara pemilu maupun komunitas yang lebih luas,” paparnya.

Dengan penggunaan Bridge, lanjut dia, peserta dimotivasi untuk berperan aktif di dalam forum. Artinya, narasumber hanya berperan sebagai fasilitator. Intensitas fasilitator berbicara hanya sekitar 20% saja. Selebihnya adalah keaktifan peserta dalam studi kasus, analisis, presentasi dan bekerja sama dengan peserta lainnya.

“Bridge memiliki karakteristik metodologinya sendiri yakni mengakui dan menghargai adanya keberagaman; mendorong terciptanya dialog, dan saling berbagi pengetahuan yang aktif diantara peserta; bersifat mendorong bukan memerintahkan; peserta bertanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri; dan mendorong rasa kepemilikan lokal terhadap kurikulum lokal yang ada,” tuturnya.

Penggunaan Bridge pada bimtek Relasi sudah diterapkan ketika acara secara resmi dibuka. Mula-mula Relasi diminta untuk membuat lingkaran dan menghafal nama serta hobi peserta lainnya. Hal tersebut menurut Asfa bertujuan untuk meningkatkan rasa peduli antara sesama anggota Relasi.

Selanjutnya, Bridge diterapkan juga oleh Ketua KPU Kabupaten Kuningan Heni Susilawati ketika membawakan materi Peran Relasi dalam Pilkada Kuningan Tahun 2018. Heni dalam paparan materinya membuat peserta menganalisis hambatan dan tantangan Relasi dalam menjalankan tugas-tugasnya. Setelah itu, secara bersama-sama peserta saling memberi tanggapan.

Di dalam paparan materinya yang terdiri dari 3 sesi yakni tentang Mengapa Harus Ada Pemilu; Siklus Pemilihan Umum; dan Strategi Pendidikan Pemilih, Asfa pun menggunakan Bridge dalam transformasi pengetahuan kepada peserta bimtek. Setelah 15 sampai 20 menit penyampaian materi, Asfa membagi peserta ke dalam beberapa kelompok dan memberikan kertas manila untuk mengisi jawaban atas pertanyaan yang diberikan.

Setelah itu, peserta mempresentasikan jawabannya di depan forum. Pemberian pertanyaan tersebut, menurut Asfa sebagai bentuk post test untuk mengetahui keterserapan materi oleh peserta dan alat ukur apakah peserta sudah mampu bekerja sama secara tim atau belum.

“Diharapkan kepada rekan-rekan Relawan Demokrasi yang terdiri dari 5 segmen yakni Pemilih Pemula, Pemilih Perempuan, Pemilih Keagamaan, Pemilih Disabilitas, dan Pemilih Marjinal setelah mengikuti bimtek yang digelar oleh KPU Kabupaten Kuningan mampu menerapkan metode Bridge ketika melakukan sosialisasi dan pendidikan pemilih kepada masyarakat Kuningan,” ucapnya.

Bridge menurut Asfa, bukan semata metode belajar dalam rangka penguasaan kognisi saja melainkan ada penanaman sikap juga ketika metode bridge diterapkan. Dengan penggunaan Bridge pada pelbagai kesempatan dalam rangka menyambut Pilkada Serentak Rabu 27 Juni 2018, diharapkan dapat meningkatkan partsipasi pemilih di Kabupaten Kuningan baik secara kuantitas maupun kualitas. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com