Rana: Tujuan Study Banding Harus Jelas

ANCARAN (Mass) – Sepulang dari sejumlah kabupaten/kota yang dikunjungi para wakil rakyat dalam agenda study banding, mendapat komentar tajam dari Ketua DPRD Kuningan, Rana Suparman SSos. Bahkan, study banding yang dilakukan seluruh jajaran komisi itu wajib mempunyai tujuan yang jelas, sebagai wujud dalam pelayanan terhadap kepentingan rakyat.

“Ya sekalipun ke Bali, asal tujuan jelas dan yang dibawa juga jelas, jangan sampai malah tujuannya itu tidak jelas. Nah kan 50 anggota dewan ini dari berbagai macam kalangan, ada yang pengusaha, akademisi, politisi murni, tokoh agama lalu berproses politik dalam pemilu kemarin masuk kesini, ya disini kan sudah harus satu pemikiran,” tegas Rana saat ditemui awak media di ruang kerjanya itu, Jumat (15/4).

Namun lanjut Rana, kegiatan study banding yang dilakukan para wakil rakyat itu jangan seolah-olah dijadikan sebagai hal yang dinilai alergi. Justru, study banding itu bisa memberikan penambahan kecerdasan pada setiap anggota dewan, dalam meningkatkan wawasannya.

“Kalau study banding komisi setiap caturwulan memang ada agenda. Tapi, jangan sampai cara berpikir komisi itu juga tidak mempunyai referensi. Ide-ide kemajuan daerah lain ada yang bisa diterapkan di Kuningan, namun ada pula yang tidak bisa diterapkan disini,” terangnya.

Oleh sebab itu, baginya sebagai wakil rakyat itu harus mampu menjawab segala persoalan rakyat yang ada, sebagai wujud pengabdian dalam melayani kepentingan rakyat. “Nah dalam menjawab ini butuh referensi, pasti kan keluar. Nah ketika lima tahun yang akan datang, maka kita anggap nol lagi. Kita buat agenda ini misalnya seperti Bimtek yang rutin dilaksanakan setiap tahun,” katanya.

Dirinya mencontohkan, kegiatan Bimtek yang digelar pemerintah sebagai wujud peningkatan kapasitas pegawai itu, setiap tahun berjalan. Hal itu sebagai langkah dalam menjawab persoalan rakyat yang setiap waktu berubah seiring perkembangan jaman.

“Kita kaji setiap persoalan yang ada di Kuningan, kita bimtek lagi, kita study banding lagi, kan gitu. Tapi kalau study bandingnya liat pantai itu gak relevan. Tapi, kalau ke Bali nya itu ke Ubud, kan disana itu pertanian, ya relevan,” sebutnya.

Menurutnya, anggaran yang dipakai untuk study banding walaupun dengan tujuan daerah yang cukup jauh seperti Bali, dinilai bisa mencukupi. Selama, dalam agenda itu anggaran yang dipergunakan hanya untuk akomodasi perjalanan seperti ongkos tiket, menginap, dan makan.

“Ya kalau hanya sebatas tiket, tidur, makan ya cukup kan. Tapi kalau anggota dewan nuntut, terus ada uang saku untuk hiburan, intertaint ya gak cukup,” pungkasnya. (andri)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com