Rana : Masa Jadi Bupati Handiplast Saja Pakai APBD

KUNINGAN (Mass) – Jadi bupati bukan untuk mencari duit. Menjadi bupati, bukan pula untuk memperkaya diri. Sebaliknya, jadi bupati bertujuan untuk menengok rakyat serta menjawab persoalan yang dirasakan rakyatnya.

Pernyataan ini dilontarkan Ketua DPRD, Rana Suparman SSos yang kebetulan pula menjabat ketua DPC PDIP Kuningan, Senin (13/2/2017). Kepada para awak media, politisi asal Bayuning tersebut mengutarakan kesiapannya untuk mencalonkan bupati.

“Jadi bupati itu jangan dijadikan lahan hidup baru. Enggak bener itu. Masa jadi bupati, sampe beli handiplast saja dari APBD. Gimana ceritanya. Jangan lah. Sedikit-sedikit APBD,” celetuk Rana.

Jadi bupati pun, sambungnya, bukan untuk melakukan pengemasan citra seolah-olah tidak makan APBD. Tapi setelah dicek, semuanya menggunakan APBD. Dia menegaskan, APBD sudah diposkan sesuai dengan belanjanya. Sehingga yang tidak diatur di situ, jangan sampai dipaksakan mengambil dari APBD.

“Saya setuju dengan transfaransi APBD dengan format yang canggih. Transfaransi itu bukan berarti APBD ditaro di tempat-tempat umum pakai akuarium. Maksudnya, setiap dinas beritahu rakyat, pagunya berapa, programnya apa saja, pendapatannya berapa dan dari sector mana saja. Berikan rilis ke rakyat bahwa uang itu dari rakyat,” tandas Rana.

Semuanya dilakukan agar masyarakat jadi tahu. Ia mencontohkan pendapatan yang dihasilkan dari sector galian pasir di wilayah Kuningan timur. Rakyat pasti sudah bisa menghitung berapa rit pasir yang diangkut tiap harinya. Dengan begitu tidak muncul fitnah.

“Saya tahu lah mana yang punya semangat transfaran dan tidak. Karena saya juga sering bersentuhan dengan tokoh-tokoh. Saya kira rakyat sekarang sudah cerdas. Sudah bisa baca tipikal pemimpinnya,” ucap Rana.

Rakyat, menurut dia, tidak bisa dicekoki dengan materi kampanye. Karena mereka sudah bisa membaca gestur orang. Gaya memelas, merengek atau gaya yang dikemas seolah menjadi orang yang selalu dipojokkan, kata Rana, sudah bisa dibaca oleh rakyat.

“Rakyat sudah bisa membaca pengemasan pencitraan atau jurus seseorang dalam upaya mencari simpatik,” tandasnya. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com