Pengorbanan Cinta Seekor Monyet

“Mak, aku akan menuruni bukit Halimun!”

“Jangan bodoh nak, itu bukan tindakan bijak. Orang kampung akan menangkapmu. Di sini tak seperti di Plangon.”

Beberapa tahun yang lalu, Omaw dan Ose bermigrasi dari plangon membawa Onye yang saat itu masih menyusu. Persediaan makanan di Plangon mulai menipis. Namun, itu bukan satu-satunya alasan mengapa mereka bermigrasi. Omaw memiliki prinsip hidup bahwa monyet adalah binatang liar, oleh karena itu monyet harus mencari makan sendiri bukan malah meminta-minta pada manusia.

Kenyataan bahwa plangon telah menjadi tempat wisata membuat Omaw semakin meneguhkan hati untuk bermigrasi. Dan pada suatu hari yang telah ditetapkan dan melalui perhitungan jawa tepat malam Kamis Wage mereka bermigrasi menuju Kuningan tepatnya bukit Halimun dekat perkampungan Salareuma.

Bermigrasi ketempat baru bukan perkara mudah. Selain harus berdebat dengan kelompoknya dan hanya Ose dan anaknya lah yang akhirnya ikut Omaw. Omaw pun harus berebut kekuasaan dengan binatang lain yang sudah lebih dulu menguasai wilayah tersebut. Namun, tak ada suatu hal yang mampu mengalahan keteguhan hati Omaw. Dan kini tinggalah mereka di bukit Halimun.

Bukit Halimun masih sangat asri. Meski sesungguhnya bukit Halimun adalah lahan milik warga yang jarang terjaman. Bukit Halimun lebih didominasi oleh pepohonan penghasil kayu, diantaranya Jati, Arbise, Mahoni, dan beberapa pohon petai dan jambu serta pohon-pohon yang tumbuh liar dengan sendirinya.

Di bukit Halimun Onye tumbuh menjadi monyet remaja. Dan setelah Onye berumur dua tahun ia memiliki adik yang kemudian diberinama Omo. Keluarga monyet tersebut hidup bahagia dan sejahtera. Omaw tak pernah merasa kekurangan betina, apalagi kekurangan makanan. Hidup di hutan yang masih jarang didatangi manusia adalah surga bagi mereka berempat.

Pada suatu hari Omaw mengajak Onye menuruni bukit Halimun. Omaw hendak menunjukan pemukiman warga agar Onye menjadi lebih hati-hati ketika menjumpai manusia. Kedua monyet tersebut melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan lincah. Dan pada tepian perkampungan mereka berhenti. Tepat di pertigaan jalan kampung tersebut ada pertunjukan topeng monyet.

“Pak kenapa monyet itu bertingkah seperti manusia?”

“Karena dia sudah diperbudak oleh manusia. Kamu jangan sekali-kali menuruni bukit Halimun dan bertemu manusia.”

“Tapi monyet itu tidak apa-apa.”

“Kita berbeda nak. Kita adalah musuh bagi mereka, sedangkan monyet itu adalah hiburan bagi mereka.”

Namun jawaban Omaw tak memuaskan Onye. Ia berpikir kenapa keluarganya tidak bisa bersahabat dengan manusia. Malahan Omaw sering menyuruh untuk memetik pisang di perkebunan milik warga tentu ketika situasi aman. Tetapi bukankah itu akan membuat manusia benci kepada monyet? Namun, menurut Omaw itu lah yang seharusnya. Monyet itu binatang liar.

Semakin diperhatikan semakin Onye sadar betapa cantiknya monyet yang tengah mengenakan rok mini itu. Berlenggak-lenggok membawa keranjang sayur. Atau sesekali memakai topeng bayi dan juga mengendarai motor. Onye senyum-senyum sendiri memperhatikannya. Dari ingar-bingar suara musik dan teriakan pawang, Onye tahu nama monyet betina itu adalah Sarimin.

Dada Onye berdebar kencang. Ia terus memperhatikan Sarimin dari atas pohon mahoni. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, inikah namanya jatuh cinta. Inikah namanya cinta seekor monyet. Namun, belum puas Onye memperhatikan tingkah polah Sarimin, Omaw sudah menarik telinga Onye dan mengajaknya pulang.

Sepanjang malam bayangan Sarimin tak juga sirna. Kedua matanya tak bisa dipejamkan. Hatinya cemas dan terus bergemuruh. Jelas Onye mencintai Sarimin. Cinta pada pandangan pertama.

Keesokan harinya dengan wajah letih Onye menghampiri ibunya yang tengah menyusui Omo.

“Mak aku ingin kawin.”

“Kamu masih remaja nak, setidaknya tunggu dulu dua kali musim panas lagi, baru umurmu cukup dewasa untuk kawin.”

“Tapi aku mencintai seekor monyet betina, mak.”

“Paling itu hanya cinta monyet, cinta remaja beberapa hari lagi akan hilang. Eh, siapa yang kau cintai nak, bukankah di sini tidak ada monyet selain kita berempat? Jangan bilang kau mencintai adikmu. Bulu adikmu masih hitam, sadarlah nak.”

“Mak, aku mencintai Sarimin. Kemarin aku melihatnya di pertigaan kampung, berlenggak-lenggok menari ditengah kerumunan manusia.”

“Apa… jangan gila nak. Dia bukan betina yang tepat untuk kau cintai. Biar mak suruh bapakmu mencari betina remaja ke Plangon jika memang bisa membuatmu hidup normal kembali.”

“Sudahlah mak.”

Kemelut dalam benak Onye benar-benar menjadi semakin ruwet. Ia mencintai Sarimin. Seribu kali ia mencintai Sarimin. Tapi sepertinya kedua orang tuanya tak menyetujui untuk mengawini Sarimin. Dan entah pula Sarimin hendak berkawin dengan Onye atau tidak. Namun, melupakan Sarimin bukan perkara mudah. Seolah Sarimin ada dibalik kelopak mata Onye, karena setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Sarimin berjelaga di hadapannya.

Onye benar-benar merasa gila. Kepalanya terasa hendak pecah. Sarimin-sarimin kecil serupa burung pipit berputar-putar mengelilingi kepalanya. Dan ketika akhirnya ia bisa tertidur karena sudah dua hari matanya melek, ia memimpikan Sarimin. Onye menggenggam tangan Sarimin, melompat dari satu pohon ke pohon lain bersama, memakan satu pisang berdua, dan main air di sungai saling ciprat menciprat. Hingga saat Onye terbangun karena sudah siang, ia tahu bahwa ia telah mimpi basah.

Beberapa kali Onye mencoba menuruni bukit Halimun namun dengan cepat Omaw mengetahuinya lantas menarik telinganya kembali ke bukit.

Tetapi Onye benar-benar tidak bisa terus-terusan membiarkan bayang-bayang Sarimin mengintainya. Dan terbesitlah ide untuk kabur dari bukit Halimun untuk mencari Sarimin.

Saat pagi masih belum cukup terang, Onye dengan lompatan yang amat hati-hati meninggalkan keluarganya menuruni bukit.

Kampung masing lengang. Warga masih sibuk di dapur dan belum menunjukan batang hidung mereka. Onye tiba di pertigaan tempat ia melihat Sarimin. Namun, Onye tidak tahu apakah Sarimin tinggal dekat pertigaan itu atau kapan Onye bisa melihat Sarimin di pertigaan. Ia hanya memiliki tekad dan keteguhan hati bahwa ia akan meilihat Sarimin di sana. Bukankah bapaknya juga pernah berkata bahwa hanya keteguhan hati yang mampu mewujudkan keinginan yang besar.

Semakin siang warga semakin ramai beraktifitas. Pertigaan tempat Sarimin kemarin, dekat dengan sekolah dasar dan hari ini bukan hari libur. Onye yang tidak terlalu akrab dengan manusia sedikit gentar. Namun, membayangkan harus dihantui oleh bayang-bayang Sarimin membuat Onye tak mengurungkan niat.

Hari sudah siang dan Onye masih menunggu di atas pohon mahoni memperhatikan pertigaan. Desakan untuk bertemu Sarimin semakin memaksanya untuk menuruni pohon mahoni. Tak bisa tidak dan tak bisa lagi ditunda-tunda.

Dengan langkah sedikit ragu Onye menuruni pohon mahoni bermaksud untuk mencari tahu dimana Sarimin berada. Namun, tepat ketika ia menginjakan kaki di tanah, seseorang berseru kencang.

“Monyet jadi-jadian…!”

Onye tersentak kaget ia benar-benar telah melalaikan peringatan bapaknya untuk berhati-hati tehadap manusia. Onye dengan cepat kemudian berlari menuju sekolah karena arah teriakan tersebut berasal dari bawah bukit Halimun sehingga Onye tidak sempat untuk kembali ke bukit.

Prasangka bahwa Onye adalah monyet jadi-jadian membuat orang-orang semakin banyak berdatangan untuk memburu Onye. Dari arah timur sekolah beberapa orang lelaki dan anak-anak datang membawa beberapa kayu balok. Dan dari arah barat orang-orang dewasa membawa beberapa jala ikan. Onye tak bisa berpikir jernih ia hanya mengandalkan instingnya untuk melarikan diri. Tepat disebelah kirinya ada ruang kelas terbuka Onye menyangka bahwa itu adalah jalan keluarnya, sehingga tanpa berpikir panjang Onye melompat menuju pintu ruang kelas yang terbuka itu.

Namun naas ruang kelas bukan arah pelarian yang tepat. Semua jendela tertutup dan orang-orang mulai memblokade pintu, membuat Onye tersudut. Dengan tatapan nanar Onye mulai pasrah ia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi malapetaka tersebut.

“Lihat! Monyet jadi-jadian itu menangis. Jangan-jangan dia adalah biangkerok yang membuat beberapa warga kehilangan uang dan perhiasan.”

“Tangkap saja! Tangkap!”

Semua orang bersepakat dan berambisi untuk menangkap Onye. Seorang lelaki yang membawa kandang besi panjang berusaha membelah kerumunan orang-orang bersiap kalau-kalau si Onye sudah berhasil tertangkap.

Lelaki bertubuh gagah dan paling pemberani mencoba melemparkan jala. Namun onye sempat menghindar. Saat kedua kalinya Onye berusaha menghindar seorang lelaki dengan balok kayu memukul kepala Onye hingga terpental ketembok, dan membuat Onye sidikit sempoyongan dengan kepala yang berdarah. Saat itulah Onye dimasukan kedalam kandang besi. Kemudian mereka membawa Onye ke pos ronda dekat pertigaan.

Dalam kandang besi yang kecil itu Onye menyesali keputusannya untuk menuruni bukit Halimun. Ia sadar bahwa perkataan bapaknya tak satupun yang salah atau berbohong apalagi menakut-nakuti.

Warga kampung perlahan mulai mengerumuni Onye. Mereka menuduh Onye adalah monyet jadi-jadian yang selama ini mencuri uang dan perhiasan mereka. Dan para warga yakin cepat atau lambat akan ada keluarga yang memohon-mohon untuk melepaskan monyet jadi-jadian tersebut.

Onye semakin menyadari bahwa tak seharusnya manusia dan monyet saling berhubungan apalagi saling menyakiti. Ia sadar bahwa tak jarang ia mencuri pisang ataupun buah dikebun, namun ia tak pernah sekalipun menyakiti manusia. Onye semakin larut dalam perenungan sembari menahan kepalanya yang teramat sakit.

Dari kejauhan terdengar ingar-bingar lantunan musik yang Onye kenali. Wajahnya yang semula mengkerut kini sedikit menjadi sumringah. Ia tahu itu adalah Sarimin. Ia tak akan salah bahwa itu adalah Sarimin. Musik semakin kencang dan Onye dengan refleks mendekatkan wajahnya ke jeruji besi. Warga kampung yang tengah berkerumun semakin berasumsi bahwa si Onye adalah manusia, ia adalah monyet jadi-jadian. Lihat saja prilakunya seperti manusia.

Musik semakin terdengar kencang. Dan ketika Sarimin sampai pada kerumunan tersebut. perhatian warga beralih memperhatikan polah Sarimin yang seperti manusia. Sangat menggemaskan.

Onye merasakan dadanya semakin sesak melihat Sarimin begitu dekatnya. Dan ingar-bingar musik yang mengiringi Sarimin perlahan hilang dari pendengaran Onye. Dan rupa Sarimin perlahan memudar. Onye tak bisa lagi menahan rasa sakit dikepalanya.***

“Penulis ripuh asal Salareuma”

Nama asli        : Nana Rudiana
Nama pena  : Rudi Noor
Alamat             : Ds. Salareuma Kec. Cipicung Kab. Kuningan
E-mail              : rudinoor16@gmail.com
No.Hp              : 085320129060

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com