Goal Poacher : Antitesa Politik Kuningan

KUNINGAN (MASS) – Tahun 80an hingga 2000an sosok goal poacher atau Penyerang Subur di lapangan hijau sangat menjadi momok menakutkan bagi bek – bek lawan. Namun saat ini sosok-sosok seperti itu sudah jarang ditemukan atau menuju ambang kepunahan karena perubahan era sepakbola modern dan strategi para entrenador yang baru.

Dalam definisi klasik, goal poacher merupakan seorang penyerang yang tugasnya hanya mencetak goal, itu saja. Mereka hanya menunggu bola dan mencari celah di sekitaran kotak pinalti lawan hingga bola datang kepadanya. Ia tak harus berbadan tinggi besar, memiliki skill diatas rata-rata atau pun tendangan yang keras. Ia justru cukup memiliki respon yang tinggi, oportunis dan positioning yang pas serta finishing touch yang kece. Sehingga tak jarang ia mencetak goal dengan menggunakan bagian tubuh lain selain kaki dan kepala, bisa bokong, badan atau punggungnya seperti yang dilakukan Super Pipo pada zamanya.

Biasanya seorang goal poacher akan ditemani dengan striker lain yang bertipe berbeda dengannya, ia lebih berfungsi sebagai second striker yang memberi umpan trough pass, mengacak-acak pertahanan lawan dan mengacaukan konsentrasi marking terhadap Centre Forward atau striker murni yang sudah bersiap menerima umpan cantik. Sebut saja legenda goal poacher zamanold seperti Gerd muller, Hernan Crespo, Fillippo Inzaghi, Hernan Crespo, Ruud Van Nistelrooy, Alan Shearer, Robbie Fowler, Cristian Vieri, David Trezeguet dll

Lalu apa yang membuatnya berada diambang kepunahan saat ini ? Perubahan formasi sepakbola modern menjadi seleksi alam yang memaksa seorang goal poacher tidak memiliki posisi seperti formasi 4-5-1, 4-3-2-1 atau 4-4-1-1 dalam posisi ini dibutuhkan striker yang memiliki skill diatas rata-rata karena dirinya berdiri sendiri di depan untuk berhadapan langsung dengan bek-bek lawan, striker yang berkembang dengan adanya formasi ini adalah maceman Luis Suarez, Z.Ibrahimovic dan Didier Drogba, mereka sangat disukai para pelatih karena selain subur mencetak goal tapi juga lihai mengecoh bek-bek tangguh untuk duel udara, solo run, feint skill, sombrero bahkan body charge sekalipun.

Menjamurnya gelandang-gelandang kreatif & wenger hebat yang bisa dipasang dipelbagai posisi hingga mengisi peranan seorang penyerang seperti C.Ronaldo, Messi, Cesc Fabregas, Robinho, Kaka dll. Bahkan nyaris pada gelaran Piala Eropa 2012 ketika tim matador menjuarai ajang kenamaan tersebut tampil tanpa memasang striker murni sekalipun, sang entrenador lebih suka menggunakan 6 gelandang sebagai penyerang.

Setali tiga uang Johan Cruyff legenda sepakbola asal negri kincir angin pernah berkomentar untuk Inzaghi. “He scores the most beautiful goal, but He doesn’t have any qualities”

Bahkan Nistelrooy, suksesornya di Timnas belanda pun tak jua lepas dari komentarnya.

“He is a great goalscorer, but a poor footballer”

Inilah gambaran dari para goal poacher dilapangan hijau, begitu adanya, tertentu sosoknya, sangat menentukan kehadiranya, dirindukan penampilanya.

Bagaimana dengan goal poacher di dunia politik, pada eranya ada sosok yang tidak mengerti apa-apa tentang politik, Ia berkuasa dikancah politik, seorang yang mengaku pernah melakukan KKN tetap tersenyum menjadi calon kepala daerah, seorang yang hanya memiliki uang diusung untuk menjadi pemimpin daerah, seorang yang memiliki keturunan darah bekas kepala daerah didukung ramai-ramai menjadi calon penguasa daerah. Tugas goal poacher seperti ini cukup ringan, ia tak harus memiliki track record politik yang bagus, atau memiliki karakter yang mulus. Tak harus gaya komunikasi yang lugas dan kepemimpinan yang tegas mereka cukup memiliki salah satu syarat di atas. Karena mereka akan didampingi oleh konsultan-konsultan kenamaan, timses yang hebat dan relawan yang loyalis.

Akan kah Kuningan kembali mundur menuju era 80an ketika goal poacher itu moncer malang melintang? Jawaban ini akan terbukti nanti pasca pemilihan kepala daerah berlangsung. Masyarakat yang pintar dan sadar akan politik akan memilih calon kepala daerah yang benar benar seorang pemimpin yang tugasnya menjemput bola tidak hanya menunggu, yang karakternya rajin turun ke lapangan bukan hanya menanti aspirasi masyarakat, yang sifatnya kreatif tidak hanya mengandalkan anak buahnya, hingga goal-goal yang dihasilkan atau pencapaian daerah yang dicapai merupakan andil besar kepemimpinanya.

Seperti apa yang harus dipilih rakyat? Tentunya masyarakat butuh seorang playmaker, bukan goal poacher yang manja. Sosok playmaker sendiri merupakan karakter talisman pekerja keras atau jimat keberuntungan sebagai pemain kunci yang memimpin jalannya pertandingan sedari latihan, pertandingan hingga masa breakdown diluar lapangan. Sosok inilah yang sangat benar-benar dibutuhkan. Ia memiliki visi tidak hanya mencetak goal yang akan mengangkat kepentingan dirinya menjadi top scorer melainkan Ia akan mengangkat kepentingan tim untuk sebuah kemenangan. Tak peduli siapa yang mencetak goal, ia akan memberikan segenap kemampuanya melalui seluruh jiwa raganya yang dituangkan kedalam troughpass, early cross, darting run, incisive run, long ball, marking, one touch play, knuckle shot, lunging tackle, maupun pin point pass untuk menghantarkan timnya menjadi pemenang.

Dari mana kita dapat mengetahui sosok seperti ini ? Tilik riwayat hidupnya, seperti apa ia dimasalalu, bagaimana pengalaman hidupnya, jika ia seorang pengusaha. Lihatlah apakah anak buahnya sejahtera dibawah usahanya, jika ia seorang politisi, tanyai kawan politiknya apakah ia tergolong yang baik atau pura-pura baik, kalau ia seorang anak raja, uji kemandirianya dengan kesederhanaan, kalau dia anak pejabat cukup uji dengan pengetahuan yang layak.

Berikutnya masyarakat boleh lihat tetangganya, dalam ajaran muslim sudah cukup jelas bahwa muslim yang baik ketika ia kaya raya, tidak mungkin akan membiarkan tetangganya berkesusahan. Sudah berlaku adil belum terhadap sekitarnya? Sudah bermanfaat belum bagi sesamanya? Jangan sampai gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di sebrang lautan tampak.

Yang ketiga ialah dalami visi dan misi darinya, sebab hal itu merupakan rancangan dari praktik kepemimpinan yang akan diembannya selama ia memimpin. Jangan sampai kota kuda ini menjadi kota yang tidak ramah terhadap kuda, atau kota yang sudah tidak memiliki kuda. Jangan sampai kabupaten konservasi tapi banyak bencana karena kurang konservasi lahan. Jangan sampai Kuningan Asri menjadi Kuningan tak Asri kerana di ujung timur banyak galian pasir yang benar-benar asli.

Selebihnya masyarakat boleh lihat tim suksesnya, karena dalam suatu keterangan jelas terujar bahwa “Tidak perlu engkau tanyakan (tentang) siapa seseorang itu, namun tanyakanlah siapa teman dekatnya. Karena setiap orang itu meniru (tabiat) teman dekatnya”

Jika kelak pasca 27 Juni 2018 dari ketiga pasangan itu seorang goal poacher yang terpilih, maka Kuningan akan mundur menuju tahun 80an dimana daerah lain telah meninggalkan gaya penyerang bertipe manja. Mereka sekarang sangat senang dengan penyerang bertipe kreatif dan tangguh dan bahkan pemain yang bisa menjadi pemain kunci yang meramu pertandingan menjadi lebih hidup yang kita sebut sebagai playmaker.

Tentukan pilihanmu 27 Juni nanti, No Money, No Racist because My Game is Fairplay.

Penulis: Ageng Sutrisno Wisanggeni Wicaksono (Pengurus ICMI Orda Kuningan/Wakil Sekretaris Bidang Olahraga & Pariwisata DPD KNPI Kuningan/Direktur Program Kuningan Institut/Penikmat Espresso)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com