Antara Hedonisme Mahasiswa dan Isra Mi’raj

KUNINGAN (MASS) – Setiap tanggal 27 Rajab, ummat Islam dari berbagai kalangan akan memperingati peristiwa isra mi’raj. Isra mi’raj adalah sebuah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW didampingi oleh malaikat Jibril. Isra adalah perjalanan di bumi yang dilakukan Nabi Muhammad SAW bersama malaikat Jibril dari Masjidil Haram (Mekkah) sampai ke Masjidil Aqsha (Yerussalem). Sedangkan mi’raj adalah perjalanan langit Nabi SAW dari Masjidil Aqsha dan terus naik melewati tujuh lapisan langit sampai ke Sidratul Muntaha kemudian Allah SWT memberi perintah solat untuk seluruh ummat Islam pada Rasulullah SAW.

Isra mi’raj sendiri bukan hanya sebagai sebuah perjalanan spiritual saja, dimana ummat Islam mendapat perintah untuk melaksanakan solat. Bukan pula hanya sebagai peristiwa luar biasa yang sulit untuk dibenarkan secara logika oleh manusia. Isra mi’raj juga bukan sekedar bukti kasih sayang dan penghiburan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang tengah berduka cita setelah ditinggal oleh dua orang yang dicintainya. Terlepas dari hal-hal tersebut, isra mi’raj mengandung banyak hikmah dan pelajaran bagi seluruh ummat manusia, khususnya ummat Islam.

Mahasiswa sebagai generasi muda penerus bangsa dan harapan bangsa tentu menjadi pemeran penting dalam aspek moral, sosial, akademik dan politik. Mahasiswa memiliki banyak fungsi dan posisi. Diantaranya adalah mahasiswa sebagai agent of change (agen perubahan), guardian of value (penjaga nilai-nilai), iron stock (generasi penerus) dan agent of social control (agen pengendali sosial). Mahasiswa memang diberi beban yang berat, bukan hanya sebatas belajar di ruang kelas untuk mengejar IPK cumlaude. Lebih dari itu mahasiswa dibebani kewajiban terhadap lingkungan, suku, bangsa dan agamanya.

Melihat realitas sekarang, hal yang justru dilakukan mahasiswa jauh dari apa yang diharapkan. Hanya segelintir mahasiswa yang benar-benar bisa diharapkan sesuai dengan peran dan posisi yang telah disebutkan diatas. Sebagian yang lain, lebih senang menerapkan gaya hidup hedonisme dan pragmatisme. Sebagian lainnya menjadi mahasiswa yang apatis, hanya mementingkan diri pribadi dan karirnya dibanding mencoba untuk memperhatikan lingkungan masyarakatnya.

Peringatan-peringatan hari besar nasional dan hari besar Islam, memang rutin dilakukan kapanpun dan dimanapun, termasuk peringatan isra mi’raj. Namun, tidak semua orang termasuk mahasiswa mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa yang mereka peringati tersebut. Padahal, dalam setiap peristiwa pasti mengandung pelajaran dan keteladanan bagi siapa saja yang mau menyelaminya. Berkaitan dengan tulisan ini, adalah peristiwa perjalanan isra mi’raj Nabi Muhammad SAW yang mengandung banyak hikmah dan pelajaran, termasuk bagi mahasiswa sebagai generasi muda penerus dan harapan bangsa.

Pelajaran pertama, adalah tentang keteladanan. Nabi Muhammad SAW memberi banyak teladan, dengan contoh kecil ketika Rasulullah lebih memilih meminum susu dibandingkan khamr (minuman keras) saat berada di Baitul Maqdis (Yerussalem). Hal ini bukan hanya karena beliau ingin memberi pelajaran bahwa susu lebih sehat dari khamr, tapi karena beliau tahu meminum susu lebih baik dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuhnya, agar beliau tetap bisa menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik. Sedangkan jika Nabi Muhammad SAW lebih memilih meminum khamr, tentu akan timbul kemudharatan, walaupun khamr dianggap sebagai salah satu kenikmatan dunia, namun mengingat tanggung jawab yang diberikan padanya tentu saja beliau tidak bisa terlarut dalam kesenangan dunia dan melalaikan tugasnya, bahkan saat beliau berada di surga dengan kenikmatan yang hakiki ia lebih memilih kembali ke bumi daripada menikmati kesenangan seorang diri. Sebuah teladan yang mungkin dianggap kurang berarti, namun sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Posisi mahasiswa yang diantaranya sebagai agen perubahan dan generasi penerus juga tentu tidak bisa terlarut pada kesenangan sesaat yang bersifat pribadi, sedangkan tugasnya terhadap orang tua, masyarakat, bangsa dan agama dilalaikan.

Pelajaran yang kedua, yaitu keberanian dan semangat Nabi Muhammad SAW untuk membangun peradaban yang kuat. Setelah peristiwa isra miraj, beliau mengambil langkah yang berani, sebuah perjalanan baru untuk kemajuan Islam. Beliau memutuskan untuk hijrah ke Madinah, memulai periode dakwah yang baru, yaitu dakwah secara terang-terangan setelah sebelumnya selama 13 tahun beliau berdakwah secara sembunyi-sembunyi dan kurang membuahkan hasil yang diharapkan. Sebagai mahasiswa tentu saja kita juga harus memiliki keberanian dan semangat untuk membangun peradaban dan bangsa yang kuat. Sikap tidak takut untuk menebar dan menegakkan kebenaran, sikap berani mengambil tindakan terutama saat melihat rakyat yang tertindas serta ketidakadilan yang dilakukan oleh penguasa, pengusaha maupun penegak hukum.

Selain dua hal di atas yang dapat mahasiswa jadikan sebagai pelajaran, ada banyak hal lain yang perlu dipahami dan diteladani. Seperti spirit untuk menegakkan keadilan, tidak membuat orang lain merasa terbebani dan kesusahan dengan kebijakan yang ada. Spirit untuk terus berjuang dan bersabar, saat kebenaran yang disampaikan tidak diterima dan dianggap tidak bermakna tapi tetap pantang menyerah mencari segala cara agar berhasil. Mahasiswa akan mampu menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik jika mampu meneladani secara baik contoh yang diberikan Rasulullah SAW tersebut.

Sebagai mahasiswa Indonesia yang berada di Indonesia, sebuah negara demokrasi yang mempunyai hukum dan norma sosial, tentu hal-hal yang dilakukanpun tidak boleh menggunakan cara yang anarkis dan meresahkan masyarakat. Memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat, menegakkan kebenaran memang menjadi tugas mahasiswa sebagai agen harapan yang membawa perubahan dan meneruskan peradaban. Namun, mahasiswa harus tetap menjaga nilai-nilai moral, budaya, agama dan lain-lain. Mahasiswa juga bertugas sebagai pengendali sosial, bukan justru menjadi masalah sosial. Jadi, apapun tindakan yang akan diambil harus memperhatikan nilai-nilai yang ada, dilakukan dengan jalan damai dan pertimbangan yang matang. Sehingga tugas dan tujuan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan apa yang telah dicontohkan Rasulullah SAW yang selalu mengambil langkah damai dan tidak merugikan ataupun menyakiti pihak lain serta tidak merusak tatanan nilai yang ada.***

Penulis: Nur Cahyani (Divisi intelektual & kemahasiswaan HIMA PAI Unisa)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com