CIREBON (MASS) – Teknik batik merawit Cirebon punya ciri khas tersendiri dalam dunia kerajinan batik. Hal itu jugalah yang bisa dilihat di Sanggar Batik Katura di Jalan Trusmi, Trusmi Kulon, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon.
Perajin batik Cirebon Lilis Katura menjelaskan teknik ini memiliki ciri khusus yang membedakannya dari teknik batik lainnya yaitu garis kecil berwarna lebih tua dari warna dasar kain.
“Garis kecil yang ditarik pada kain ini sering disebut tali air, dan warnanya lebih tua dibandingkan warna dasarnya. Pada dasarnya, warna kain bisa apa saja, namun garis tersebut yang menjadi penanda unik dari batik merawit,” papar Lilis saat ditemui Kuninganmass.com pada Jumat (29/11/2025).
Keistimewaan teknik merawit ini telah diakui secara resmi, bahkan batik tulis merawit dari Cirebon mendapatkan sertifikat indikasi geografis pada tahun 2024. “Ini menunjukkan bahwa hanya Cirebon yang memiliki teknik ini, dan sangat penting bagi kami untuk melestarikannya,” tambahnya.
Sanggar Batik Katura bukan hanya sekadar tempat pembuatan batik, tetapi juga merupakan pusat wisata, belanja, dan literasi budaya batik di Kota Cirebon. Dengan bangga, Lilis menyatakan Sanggar Batik Katura menyediakan berbagai macam motif batik khas Trusmi untuk para pecinta batik di seluruh Indonesia.
Tempat yang populer bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin membeli batik asli Cirebon. Melalui pengalaman langsung, para pengunjung juga bisa belajar tentang proses pembuatan batik, menggali lebih dalam tentang budaya dan sejarah di balik setiap kain yang dihasilkan.
Lilis menyebutkan bahwa ketahanan budaya batik di Cirebon tak lepas dari penghargaan internasional yang diraih. Sanggar ini menjadi salah satu penerima Penghargaan Internasional “Upakarti” dari UNESCO pada tahun 2009, sebagai pengakuan atas usaha dan kontribusinya dalam pelestarian budaya batik.
Lilis berharap dengan adanya teknik merawit dan pengakuan indikasi geografis ini, semakin banyak generasi muda yang tertarik untuk belajar membatik. “Kita harus menjaga warisan budaya ini agar tidak punah dan bisa dinikmati oleh generasi yang akan datang,” tuturnya.
Diharapkan melalui Sanggar Batik Katura, masyarakat akan semakin mencintai batik dan kultur yang melekat di dalamnya. “Tugas kita adalah memastikan bahwa keindahan batik tidak hanya dinikmati oleh kita sekarang, tetapi juga oleh generasi mendatang,” tandasnya.
Bagi para pecinta batik, kunjungan ke Sanggar Batik Katura adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Tidak hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk mengenal lebih dekat sejarah dan teknik pembuatan batik yang kaya akan makna.
“Dari segi industri, teknik merawit dapat menjadi peluang besar dalam mengembangkan produk batik Cirebon yang semakin beragam dan berkualitas,” pungkasnya. (raqib)
