KUNINGAN (MASS) – Di tengah derasnya arus digitalisasi, Mustofa Abdullah, lulusan S1 Ilmu Politik dari Universitas Indonesia, tetap setia pada dunia literasi. Sejak tahun 2000, ia telah mengoleksi buku bacaan dan kini memiliki sekitar 3.000 judul buku yang terpajang rapi di ruang tamu rumahnya yang terletak di Taman Ciharendong Kencana, Cigintung.
Salah satu buku langka yang menjadi kebanggaannya adalah “Khalifah Rasulullah,” yang ditulis oleh Khalid Muh Khalid. Buku ini membahas tentang keteladanan hidup dari empat Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, serta Khalifah Umar bin Abdul Azis.
“Buku ini sangat berkesan bagi saya karena mengajarkan nilai-nilai kepemimpinan yang kini sering kali terlupakan,” tutur Mustofa kala diwawancara kuninganmass.com pad Sabtu (30/8/2025).
Di tengah masyarakat yang sering kali disibukkan dengan berbagai kesibukan dan teknologi, Mustofa percaya bahwa membaca adalah jendela dunia. Ia menganggap buku sebagai sumber ilmu yang tak ternilai, dan setiap lembar buku menyimpan sejarah dan pelajaran yang berharga. “Membaca membantu saya memahami konteks sosial dan politik yang terjadi di sekitar kita,” tambahnya.
Mustofa juga aktif dalam berbagai kegiatan literasi, termasuk diskusi buku dan seminar. “Saya ingin berbagi kecintaan ini kepada generasi muda agar mereka lebih terbuka terhadap berbagai pandangan dan pengetahuan,” ujarnya.
Koleksi buku Mustofa tidak hanya terbatas pada buku-buku politik dan sejarah; ia juga memiliki beragam genre, mulai dari sastra klasik hingga buku-buku motivasi. “Setiap buku memiliki ceritanya sendiri, dan saya merasa terhubung dengan setiap penulis yang telah mencurahkan hati dan pikirannya dalam karya mereka,” jelasnya.
Salah satu alasan Mustofa memilih “Khalifah Rasulullah” sebagai buku yang istimewa adalah karena nilai-nilai kepemimpinan yang terkandung di dalamnya. “Keteladanan dari para pemimpin tersebut seharusnya menjadi pedoman bagi kita semua, terutama di zaman sekarang, di mana sikap kepemimpinan yang baik sering kali hilang,” paparnya.
Ia menyebutkan melalui koleksi bukunya, masyarakat dapat menemukan kembali semangat untuk membaca dan belajar dari sejarah. “Buku ini mengingatkan kita bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu memberikan teladan dan mengedepankan kepentingan masyarakat,” tambahnya.
Ia menunjukkan bahwa buku adalah alat yang kuat untuk menciptakan perubahan positif dalam masyarakat. Melalui koleksi bukunya, Mustofa berharap dapat meneruskan semangat membaca kepada generasi mendatang, agar mereka tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga pelaku perubahan yang inspirasional dalam masyarakat. “Mari kita jaga cinta membaca, karena di sanalah letak kekuatan kita,” pungkasnya. (raqib)