KUNINGAN (MASS) – KH Eyang Hasan Maolani adalah seorang tokoh agama Indonesia pada masa penjajahan Kolonial Belanda sekitar abad ke-19. Hasan Maolani dikenal masyarakat lokal Desa Lengkong, Kabupaten Kuningan sebagai Eyang Hasan Maolani.
Selain itu, Ia juga dikenal sebagai Eyang Menado setelah ia diasingkan di Sulawesi Utara. KH Eyang Hasan Maolani sendiri dimakamkan di Manado. Beliau dikenal sebagai sosok pahlawan yang berani menentang penjajahan.
Salah satu peninggalan sejarah KH Eyang Hasan Maolani yang berada di Lengkong adalah kitab Fathul Qarib, yang merupakan tulisan tangan beliau.
Hal tersebut diungkapkan oleh Adi M. Syafaat, yang menjelaskan bahwa kitab tersebut telah diteliti oleh ahli filologi, Prof. Dr. Oman Fathurrahman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kertas yang digunakan dalam kitab itu berasal dari Eropa.
Selain kitab Fathul Qarib, rumah peninggalan KH Eyang Hasan Maolani juga masih berdiri kokoh. Rumah tersebut telah berusia lebih dari 200 tahun.
“Rumah ini adalah peningkatan beliau, sudah 200 tahun lebih umurnya. Sempat pernah di renovasi dan perbaikan, tapi bentuk aslinya tetap di pertahankan,” ujarnya.
Beberapa peninggalan lainnya seperti, Bakor, tongkat, kursi, rambut dan baju Eyang Hasan Maolani ada di dalam rumah bersejarah Eyang Hasan Maolani. (didin/mgg)