Pria Ini Sudah 46 Tahun Jadi Anggota “DPR”

KUNINGAN (MASS)- Rambutnya terlihat sudah memutih. Giginya pun sudah hilang satu persatu. Namun, sorot mata masih tajam, sehingga dengan cekatan ia bisa menentukan titik mana yang harus dimasukan benang.

Ya, itulah sosok Komod pria kelahiran 17 Juni 1950. Diusianya yang akan menginjak 68 tahun ia setia menggelutinya profesi yang dicintainya yakni sebagai tukang sol sepatu.

Entah berapa ribu sepatu yang ia sudah sol dan juga berapa ribu orang menikmati jasanya. Ia sangat menikmati profesi yang sudah digelutinya sejak tahun 70-an.

Kini, sudah menginjak tahun ke 46. Namun, tidak ada tanda-tanda ayah lima orang anak ini akan berhenti. Baginya selama Allah memberikan kekuatan akan terus menggeluti profesi ini.

“Kalau ditanya kapan akan berhenti tidak tahu. Selama orang masih membutuhkan saya akan terus berkerja dan saya pun butuh untuk menafkahi keluarga,” ujar Komod menjawab pertanyaan kuninganmass.com Jumat (16/3/2018) pagi.

Dengan sebatang rokok di tangan lalu dihisapnya dalam-dalam, ia pun meceritakan perjalan hidupnya. Dulu, sebelum ramai seperti sekarang ia merupkan tukang sol pertama di Kuningan.

Masih jelas dalam ingatannya ketika terminal berada di kawasan perkotaan, Komod muda menempati sudut salah satu pertokoan Siliwangi. Ia kala itu dikenal sebagai tukang sol sepatu paling “jago” di Kuningan.

Kakek dua anak cucu itu sempat menikmati masa jaya dalam profesinya. Dalam sehari pernah mendapatkan Rp300 ribu. Namun, pendapatan itu sekarang hanya tinggal kenangan saja.

Pada saat ini sudah mendapakan Rp150 ribu sudah sagat besar karena banyak saingan. Bahkan, pernah tidak mendapakan konsumen sama sekali.

Situasi itu belum pernah dialami ketika pertama kali menggeluiti usaha ini. Hanya kepasrahan dan terus berdoa yang membuat ia terus bertahan.

“Saya yakin Allah akan memberikan rezeki selama manusia mau berusaha. Saya anti harus mengemis karena lebih mulia menjadi tukang sol,” jelasnya yang terus mengisap rokok hasil pemberian tukang parkir.

Karena mulai sepi konsumen, maka Komdod tahun 72 memutuskan berganti lokasi. Ia mencoba peruntungan di bawah pohon besar samping  Kantor Pegadaian Kuningan  atau di Jalan Dewi Sartika.

Meski tidak seperti dulu namun konsumen selalu ada terlebih lokasinya cukup strategis. Ia pun tidak sendiri mengajak tukang sol lainnya yakni Saleh dan Rohman. Nama terakhir adalah adiknya.

“Kami disini ingin berbagi rejeki karena terkadang yang sol ingin buru-buru. Kalau yang dua mah sih masih baru menjadi Anggota “DPR” (Di Bawah Pohon Rindang). Saya mah paling lama,” ujar Komod sambil terkekeh-kekeh.

Julukan sebagai anggota DPR sudah diketahui banyak oleh konsumen setianya. Untuk tarif sol, ia mengaku tidak mematok  secara langsung karena melihat dulu yang harus dikerjakan.

“Terkadanng Rp15 ribu atau Rp5.000 untuk sekedar mengelem. Banyak juga yang menawar meski sudah murah, tapi bagi saya tidak menjadi masalah,” ujar warga RT 003/001 Blok Cigintung Kelurahan Cigintung Kecamatan Kuningan.

Kita bisa belajar dari Sosok Komod. Pria bersahaja ini menikmati profesi yang digelutinya. Selama ada kemauan pasti ada jalan untk mencari rejeki. (agus “sagi” mustawan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com