Peserta Aksi Bela Tauhid Sangat Kecewa Dengan Kapolres

KUNINGAN (MASS)- Ribuan masa dari berbagai elemen muslim yang ada di Kabupaten Kuningan turun ke jalan untuk menyambangi Mapolres Kuningan.Mereka menuntut pelaku oknum Banser yang telah membakar bendera tauhid segera dihukum dengan kasus penistaan agama.

Dari pantauan kuninganmasss.com aksi yang dimulai dari jam 1 lebih itu, menjadi perhatian warga dan agar aksi tidak terganggu maka dilakukan penutupan jalan dari mulai pasar Ancaran hingga depan Kantor PUPUR Kuningan. Aksi sendiri berjalan lancar dan ratusan anggota polisi menjaga aksi tersebut.

Dari setiap perwakilan elemen melakukan orasinya yang intinya menuntut hukuman berat bagi pelaku pembakaran bendera yang bertulsikan kalimat tauhid itu. Aksi yang dilakukan oleh oknum Banser itu sangat menyakitkan bagi kaum muslim sehingga membuat semua umat Islam bangkit.

“Kami melakukan aksi ini karena kami dipanggil  dan ini skenario Allah SWT, ini pertolongan Allah. Satu bendera dibakar ternyata Allhamdulilah  ribuan bendera berkibar di NKRI,” jelas Penanggungjawab Aksi Bela Tauhid E Kholidin kepada wartawan, Jumat sore sekitar jam 14,00 WIB.

Pria yang juga Ketua FPI Kuningan menyebutkan, aksi ini juga ingin bagian dari informasi kepada warga bahwa bendera yang dibakar itu bukan bendera HTI. Tapi bendera tauhid. Dengan begini maka warga tidak perlu ketakutan ketika mengibarkan bendera tauhid.

“Warga Kuningan perlu mengetahui hal ini sehingga tidak ada rasa ketakutan. Karena yang saya ketahui ketika masyarakat mengibarkan bendera tauhid,  dianggap sebagai salah satu organisasi terlarang sehingga mereka ditangkap dan mereka dipenjarakan. Ini yang kami tidak terima dan yang ini kami sampai pada saat tadi orasi,” jelasnya.

Endin mengatakan, memberikan kepercayaan sepenuhnya  kepada pihak penegak hukum.  Jangan sampai tebang pilih, karena bagi muslim itu penistaan agama, maka tetapkan ia menjadi tersangka dan proses hukum.

Dikatakan, kalau penegak hukum menjalankan hukum dengan adil, maka pihaknya yakin Indonesia akan jauh lebih baik, Indonesia akan lebih kondusif , damai. Umat Islam tidak akan marah dan sebaliknya pada saat penerapan hukuman ada faktor keganjilan dan seolah-olah ada tebang pilih maka kemungkinan aksi selanjutnya akan  dilakukan.

“Nanti jumlah lebih besar lagi. Ini Bagian dari iftitah. Jujur ini bagian dari pembukakan kami dari aksi bela tauhid,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Endin mengaku kecewa sekali dengan sikap Kapolres Kuningan Iman Setiawan yang tidak menemui peserta aksi. Padahal, ini kesempatan emas untuk menyapa, menyampaikan salam silaturahmim. Kemudian mengimbau karena tufoksinya adalah melindungi, mengayomi masayarakat dan hal itu harusnya disampaikan.

“Mungkin karena beliau ada berbagai pertimbangan. Ada berbagai tekanan sehingga tidak bisa terealisasi pertemuan itu. Kami dari panitia dan komponem umat Islam sangat kecewa dan menyesal  atas apa yang dilakukan ataupun yang sudah diberikan  Bapak Kapolres. Tapi kami tidak bisa memaksa karena itu hak mereka, itu kewanangan mereka, itu kebijakan mereka,” ujarnya lagi.

Mengakhiri pernyataan Endin mengaku, pihaknya sudah tidak ada lagi permasaalah dengan teman NU, Ansor dan Banser. Tapi,  punya permasalahan dengan oknum Banser yang telah membakar kalimat tauhid.

Mengenai jumlah massa Endi menyebuktan lebih dari 3.000 orang. Sesuai dengan perjanjian maka aksi sampai jam 16.00 WIB dan peserta kembali pulang ke tempat masing-masing. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com