“Jangan Tutup Ponpesnya”

KUNINGAN (MASS)- Banyak desakan dari warga agar ponpes MI yang berada di Desa Segong Kecamatan Karangkancana ditutup disikapi oleh salah satu pengurus MI. Menurut Hamdani Artha ia tidak menginginkan ponpes ini ditutup karena tidak ada yang salah dengan ponpes.

“Yang lain pada pulang saya berdua disini bertahan. Saya tidak ingin ponpes ditutup karena tidak salah. Saya sedih dengan kondisi ponpes yang harus seperti ini sepi. Padahal, sebelumnya ramai karena ada 150 santri mondok di sini,” ujar Hamdani kepada kuninganmass.com, Jumat siang.

Ia mengaku, tidak mengetahui persis apa yang terjadi dengan Aa (pengasuh ponpes) dan hingga saat ini pun belum mengetahui posisi Aa dimana.

Siswa SMK Luragung ini mengetahuinya Aa diisukan melakukan pelecehan. Akibat kejadian itu maka santri diliburkan dan istri Aa pun pergi dari ponpes.

Siswa yang berperawakan jangkung ini menyebutkan, selain ada TPA, di ponpes MI ada MD dan SMP IT. Setiap hari aktivitas padat dan Aa dibantu oleh 15 pengerus ponpes.

Ia mengenal sosok gurunya adalah orang baik dan perhatian sehingga sampai sekarang belum yakin dengan kasus yang menimpa Aa.

“Saya ingin mempertahankan ponpes dan mendoakan agar permasalahan yang terjadi dengan Aa  cepat kelar. Saya ingin pelajar seperti biasa,” ujarnya.

kuninganmass.com sendiri menyusuri setiap ruang yang ada di ponpes tersebut.  Sepi tanpa penghuni. Padahal terlihat bekas-bekas aktivitas.

Di rumah sang guru pun sepi. Terlihat tumpukan baju diluar. Kondisinya  menyedihkan. Ponpes yang dibangun sejak 2006 itu sudah banyak melahirakn santri-santri yang pintar mengaji.

“Saya datang ke sini tahun 2010 . Memang perkembangan pesantren pesat karena Aa orangnya sangat baik dan komitmen membangun ponpes. Bahkan, dalan waktu dekat ingin mengembangkan ponpes lebih luas lagi,” tandasnya.

Sekedar meningatkan pada Jumat malam ini dikabarkan akan ada pertemuan dari dua warga desa yakni Segong dan Karangbaru. Mereka ingin berdiskusi terkait kelanjutan ponpes ke depannya. Warga sendiri menginginkan ditutup.

Kejadian ini menjadi perhatian warga Kuningan dan  meminta agar bupati turun tangan agar ponpes tetap berjalan. Pengasuh boleh berganti tapi pendidikan tetap berjalan. Sebab, Ponpes MI sudah berdiri sangat baik dan tinggal melanjutkannya.

“Jangan sampai ponpes ditutup. Membangun ponpes itu sulit dan mengumpulkan santri juga sulit. Agar tetap berjalan bupati turun tangan dan bentuk kepengurusan baru. MUI juga harus turun tangan dan juga para tokoh agama,”” ujar Toni Suroso salah satu warga yang prihatin dengan kejadian ini. (agus) 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com