Pinara jadi Desa Mati

KUNINGAN (MASS)-  Kejadian gerakan tanah dan tanah longsor di Desa Pinara Kecamatan Ciniru membuat warga setempat meninggalkan  tempat kelahirannya. Kejadian bencana sendiri terjadi selama dua kali yakni pada Rabu (21/2/2018)  jam 23.00 WIB dan Sabtu (24/2/2018) jam 03.00 WIB.

Untuk menghindari bencana susulan yang akan memakan korban jiwa yang banyak maka pemerintah pada Sabtu pagi   melakukan evakuasi kepada seluruh warga. Total ada 500 KK dengan jumlah 1.500 jiwa diungsikan.

Mereka diungsikan ke dua desa yakni Desa Ciniru dan Desa Cijemit. Mereka ditempatkan di Aula Kecamatan Ciniru, Gedung PGRI, Balai Desa Cijemit, ruang kelas SMPN 1 Ciniru, dan ruang Posyandu Desa Cijemit, Gedung Koperasi Rumawat, Posko Kesehatan di Puskes Kecamatan Ciniru.

Proses evakuasi warga dari Desa Pinara sangat mengharukan dan menyedihkan. Raut muka warga terlihat sedih dan kosong. Mereka tidak percaya harus pergi meninggalkan desa yang mereka cinta dan dihuni sejak puluhan tahun lalu.

TNI, polisi, perangkat desa, pegawai kecamatan, Satpol PP, karang taruna, Banser dan relawan bahu membahu membantu warga. Ada yang menyebarangkan warga melintas sungai, membawa barang milik warga, mengendong lansia, dan membantu menurunkan warga dari bukit.

“Sekarang warga sudah aman di tempat  penampungan. Pasca ditinggkakan oleh warga maka kini Desa Pinara tidak berpenghuni atau bisa disebt desa mati,” ujar Camat Ciniru Jaenudin, Sabtu malam (24/2/2018).

Sementara itu, Plt Bupati Kuningan Dede Sembada sudah meninjau para pengungsi. Dengan kejadian ini maka permukiman  mereka harus relokasi.

Menurut Desem ada 3 titik untuk relokasi perumahan Pinara  yanki  Nyimplung, Sawah Belok Ciniru (daket lapangan futsal), dan Godol. Untuk kelakyakannay  menunggu survey dar  tim Geologi.

“Yang terpenting sekarang warga aman, pemerintah ingin yang terbaik bagi warga maka akan melakukan berbagai cara,” ujar Desem. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com