KUNINGAN (MASS) – Fitur siaran langsung (live) di TikTok mendadak tidak bisa diakses sejak kemarin malam. Sabtu (30/8/2025). Keputusan itu menimbulkan gelombang protes dari pengguna, terutama pedagang kecil dan kreator konten yang menggantungkan penghasilan dari fitur tersebut. Pantauan awak media, fitur live di Instagram, Facebook, dan YouTube masih dapat digunakan seperti biasa, sehingga publik mempertanyakan alasan TikTok mengambil langkah berbeda.
Sejumlah pengguna TikTok mengungkapkan keresahannya. Akun UDINNN menilai kebijakan itu memutus sumber nafkah banyak orang.
“Aing teh ek dagang, ari sia hirup aing teh ti dagang. Aing teh mayar pajak, ari sia ararindit ka luar negeri. Mah hampura mun aa teu bisa ngabiayaan saminggu kahareupna da teu bisa live atuh,” keluhnya dengan nada emosional.
Senada, akun Rafflie van D’co menegaskan, dampak dari kebijakan tersebut jauh lebih besar dari sekadar menghentikan hiburan. Menurutnya, ribuan orang setiap hari bergantung pada TikTok Live, mulai dari pedagang kecil hingga anak muda yang berkreasi.
“Satu tombol dari pemerintah bisa mematikan ribuan mimpi, ribuan perut yang menunggu makan, dan ruang kreativitas yang selama ini jadi harapan,” ujarnya.
Dilansir dari Detik dan Tirto, perwakilan TikTok menjelaskan penangguhan fitur live dilakukan sebagai langkah pengamanan.
“Sehubungan dengan meningkatnya kekerasan dalam aksi unjuk rasa di Indonesia, kami mengambil langkah-langkah pengamanan tambahan untuk menjaga TikTok tetap menjadi ruang yang aman dan beradab,” kata juru bicara TikTok.
TikTok menegaskan, kebijakan itu tidak bersifat permanen.
“Sebagai bagian dari langkah ini, kami secara sukarela menangguhkan fitur TikTok LIVE selama beberapa hari ke depan di Indonesia,” lanjut mereka.
Selain itu, TikTok menyebut akan memperketat pemantauan konten dan menghapus unggahan yang melanggar Panduan Komunitas.
“Kami juga terus menghapus konten yang melanggar Panduan Komunitas dan memantau situasi yang ada,” tambah jubir TikTok.
Meski disebut hanya bersifat sementara, keputusan tersebut menuai kritik karena dianggap diskriminatif. Banyak pihak bertanya-tanya mengapa hanya TikTok yang menutup akses live, sementara fitur serupa di Instagram, Facebook, dan YouTube tetap beroperasi normal.
Hingga kini, perdebatan antara alasan keamanan yang diusung TikTok dan dampak ekonomi yang dirasakan pengguna masih berlangsung. Di satu sisi, langkah ini diklaim sebagai upaya menjaga ruang digital tetap kondusif, namun di sisi lain, ribuan pedagang dan kreator kehilangan sumber penghasilan utama mereka. (argi)