Kisah Penjual Bunga Rampai dari Cikananga

KUNINGAN (MASS)- Menjelang lebaran penjual bunga rampe/rampai di Kabupaten Kuningan sangat mudah dijumpai. Bukan hanya di pasar tapi di pertokoan Siliwangi dan depan kantor pos mereka berjejer.

Mereka ternyata berjualan bukan hanya menjelang lebaran. Pada natalan pun mereka selalu berjualan di TPU Cigugur.

Bahkan, pada saat menjelang Jumat kliwon pun mereka sering menjajakan jualannya.

Di hari-hari biasa mereka menyebar di tiap pasar yang ada di Kabupaten Kuningan.

Dari penelusuran kuninganmass.com penjual itu kebanyakan dari Desa Cikananga Kecamatan Garawangi.

Mereka berjualan sudah turun termurun sejak puluhan tahun lalu. Bukan hanya bunga rampe tapi juga kulit ketupat serta bunga selasi.

“Tahun ini sepi pembeli karena ada corona. Dibanding tahun lalu menurun 50 persen,” ujar Siti salah satu penjual di emperan Pertokoan Siliwangi, Sabtu (23/5/2020).

Ia datang secara rombongan dari desa. Total ada 15 orang yang mengais rejeki dari penjualan bunga, selasi dan ketupat.

Perjuangan mereka dimulai jam 04.00 WIB. Pada saaf pandemi penjualan dibatasi hingga jam 4 sore.

“Kan mau menjelang lebaran , jadi harus datang lebih awal, agar warga yang butuh tinggal beli saja,” ujar Siti yang berjualan bersama suaminya.

Sementara itu, Mansur yang berada di depan Toko Omega mengaku, meski berjualan hampir 12 jam. Namun, hasil tahun ini mengecewakan.

“Jarang mudik dan yang membeli pun banyak yang berhemat. Padahal untuk harga tidak ada perebuhan,” ujar Mansur.

Meski barang yang dijual bayak tidak lagu , pria dengan badan kurus ini mengaku, tidak begitu rugi karena bungan yang dijual merupakan yang ditanam di lahan miliknya.

“Kalau dulu banyak mencari ke gunung, kalau sekarang kan banyak di budidaya di desa, baik di kebun atapun di pematang sawang,” ujarnya lagi.

Ia berharap wabah corona berlalu, sehingga jualannya kembali ramai seperti semula. Andai tidak ada corona pembeli pasti membludak.

Terpisah, Kades Cikananga Diding, mengaku penjual bunga rampai itu sudah ada sejak lama. Bahkan, sudah turun temurun.

” Sejak kecil saya juga sudah ada . Kalau untuk bunga, mereka ada yang menanam sendiri atau mencari ke tempat lain. Mengenai jumlah pedagang jumlah puluhan,” ujarnya.

Diding mengaku, para penjual bunga rampai yang kebanyakan kaum hawa itu minimal ikut membatu ekonomi keluarga, sehingga pihaknya sangat mendukung. (agus)