Keumpleung, Seni Pencak Silat Budaya Karuhun yang Kembali ‘Hidup’

KUNINGAN (MASS) – Seni pencak silat karuhun yang berada di Kampung Cililitan, Dusun Puhun Desa/Kecamatan Subang tengah digalakkan kembali beberapa tahun belakangan.

Kuninganmass.com berkesempatan melihat dan mewawancarai langsung, salah satu praktisinya. Abah Midhal, lelaki yang usianya sudah mencapai sekitar 80 tahunan.

Meski tak lagi muda, Abah Midhal nyatanya masih sangat enerjik, terutama dalam penampilan panggung dan atraksinya.

Terlihat, selain masih ‘lincah’ ketika silat, Abah Midhal juga masih sanggup berguling-guling di tanah. Sesekali, kepalanya juga masih kuat beradu, ‘menyundul’ buah kelapa yang di lempar.

“Ti nenek moyang, karuhun,” jawab Abah Midhal di sela-sela istirahatnya sewaktu keumpleung tampil di hajatan sunatnya Febri, putra dari Tono dan Icih, Kamis (17/9/2020).

Abah Midhal menjelaskan, pada dasarnya Keumpleung ini hanyalah sebutan warga kampung karena alunan musik yang dipakai mengiringi silatnya, terdapat suara yang menyerupai nada ‘keum’ dan ‘pleung’.

Dalam pagelarannya, bukan hanya pencak silat. Ada juga kawih yang dinyanyikan sinden serta lagu-lagu yang notabene sunda. Selain itu, ada juga atraksi ‘dagelan’, debus.

“Nya aya jangjawokan mah (semacam do’a dan jampi-jampi untuk atraksi, red),” jelasnya saat ditanyai rahasia atrakasi-atraksi ‘berbahaya’.

Keumpleung sendiri lebih terasa ‘sakral’ ketika pentas di malam hari. Selain karena musiknya yang terasa sangat ‘buhun’ dengan alunan biola, kendang dan gong.

Suasana panggung yang dibuat gotong royong dari bambu dan papan, serta terpal diatasnya, membuat suasana terasa kembali ke masa lalu. Para penampil juga serba memakai pakaian hitam, khas silat.

Hal lain yang menbuat menarik, adanya keberadaan sinden laki-laki. Suaranya mirip perempuan. Tetapi yang bernyanyi adalah lelaki tulen.

Ada beberapa bagian dari pertunjukan keumpleung. Biasanya, dibuka dari Kidung bubuka, ada juga Rampak Silat bubuka.

Lalu penampilan dan sparing. Disana, diperagakan oleh anak-anak, remaja hingga pemuda.

Pertunjukan juga kadang diseling dengan alunan kawih dan lagu hiburan. Baru selanjutnya ditampilkan juga dagelan, debus. Atraksinya berbahaya.

Atraksi berbahaya ini, kebanyakan praktisinya tak lagi muda. Meski begitu, mereka masih lincah dalam gerakan silatnya. Juga terasa ‘mencekam’ saat nyambat.

Sesekali kita yang melihat juga dibuat ngilu, karena para orang tua masih sangar menggigit kelapa, sundul buah kelapa, main bola kelapa tanpa sepatu, mematahkan kayu, sampai memakan bara api yang masih menyala.

Kabarnya, ada juga yang sering membengkokan linggis. Sayang, waktu itu tak ditampilkan karena waktu yang mepet.

Dalam kesempatan itu, pertunjukan berakhir menjelang tengah malam. Pencak silat, ditutup dengan atraksi silat tepak dua dari kalangan tua.

“Belum (belum diajari yang mudanya, red)” jawab Abah Midhal, saat ditanyai kenapa atraksi berbahaya masih dilakukan hanya oleh orang-orang tua.

Kini, Keumpleung mulai kembali dilirik sebagai aset budaya. Meski zaman bergeser, kemajuan teknologi, serta banyak teralihnya fokus anak-anak pada gadget, pencak silat yang satu ini selalu bisa menjadi alasan pertunjukan di dunia nyata lebih menyebangkan.

Apalagi, kini Keumpleung mulei diperkenalkan secara luas. Dari mulai desa, kecamatan, hingga ke kabupaten dan akan terus diperkenalkan secara luas. (eki)