Beginilah Sejarah Nama Kadugede

KUNINGAN (MASS) – Kembali kepada lanjutan sejarah Cikadu yang menceritakan buah duren hanyut dan sampai disuatu tempat yang bernama Cisanggarung.

Saat ini kawasan itu dikenal dengan sebutan Desa Kadugede. Penasaran? beginilah kelanjutan ceritanya.

Sebelumnya perlu diketahui pada zaman penjajahan Jepang Kepala Desa disebut juga dengan nama Ngabai. Ngabai inilah bertugas memimpin dan menggerakan roda kedesaan.

Mereka  kerjanya hanya sebatas pengawasan ketertiban dan keamanan semata, tidak berbentuk pemerintahan seperti sekarang.

Diceritakan pada suatu hari ada seorang petani yang sedang berjalan menuju kkehutan.Ia berpakaian pangsi dan menggunakan iket, dengan gobang ditengteng dipingganngnya.

Petani tersebut kaget sewaktu melintas sungai yang sekarang bernama Sungai Cisanggarung, karena dipinggir sungai tersebut ada sebuah duren/kadu yang ukurannya menakjubkan lebih besar dari duren/kadu yang biasa.

“Duren tersebut tersangkut disela-sela akar pepohonan yang merimbun dipinggir sungai. Melihat duren / kadu yang aneh itu, petani tersebut tidak melanjutkan kehutan melainkan pulang kembali dan memberitahukan kepada warga yang ditemui perihal keberadaan duren / kadu besar tersebut,” ujar Dadang Suganda S Hut Kepala Desa Kadugede mengawali ceritanya.

Sehingga tak ayal lagi masyarakat yang mendengar berita tersebut merasa penasaran untuk melihat keberadaan duren dengan ukuran besar tersebut.

Dalam sekejap, dari informasi mulut kemulut lokasi dimana adanya duren / kadu besar itu dipenuhi oleh orang-orang yang penasaran ingin membuktikan dan melihat langsung duren / kadu yang diberitakan oleh petani sang penemu.

“Saking anehnya tempat tersebut setiap hari dipenuhi oleh warga yang ingin melihat duren aneh itu. Sehingga dari hari kehari, dari nulut kemulut membuat semakin bertambah warga yang berkumpul melihat duren  ukuran dengan berdecak kagum,” lanjutnya saat ditemui Jumat (5/10/2018).

Sudah barang tentu, Hal itu terdengar oleh Ngabai dan diutuslah anak buahnya untuk membawa duren kerumahnya.

Ternyata Ngabai juga terkesimak kaget dan takjub. Selama ini informasi warga dari mulut kemulut itu ternyata benar duren itu ukurannya lebih besar dari duren biasanya.

Kemudian duren tersebut dikupas yang terbagi dalam 7 bagian. Dan isinya besar.

“Sejak diketemukan duren ukuran besar daerah itu ramai dikunjungi orang dari berbagai pelosok sehingga oleh warga di daerah lokasi adanya duren  besar tersebut terkenal dengan nama Kadugede” ujar jebolan Uniku ini.

Sedangkan simbol 7 bagian duren  besar itu diabadikan dengan penamaan 7 blok berdasarkan letak geografis. Adapun nama-nama ketujuh blok tersebut adalah Blok Bangong, Sindang ketawang, Garaseah, Cijeuler, Dukuh, Gayam dan Cibogo.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, pada era kemerdekaan nama Ngabai kemudian diganti menajdi Kuwu.

Nama blok pun diganti dengan nama-nama dari Bahasa Jawa yakni Manis, Kliwon, Wage, Pahing dan Puhun.

Sekedar menguatkan, terkait sumber sejarah. Sejarah ini merupakan kisah turun temurun yang dimulai dituliskan dari Kepala Desa sebelumnya yang bernama bapak H Maman wijaya yang didapat dari ayahnya, yang juga Kepala Desa Kadugede yang bernama H Arka Wijaya.(Argi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com