Beginilah Cara Warga Desa Cigedang Kelola Sampah

KUNINGAN (MASS) – Pengelolaan sampah di Kabupaten Kuningan masih terbatas. Sebagai bukti dari  376 desa/kelurahan di kota kuda,  baru 48 tempat terlayani oleh pihak Dinas Lingkungan Hidup. Sisanya masyarakat membuang ke sungai, ke kebun atau ada yang mengubur dan membakar.

Situasi ini akan menjadi bom waktu apabila dibiarkan karena tingkat konsumsi terus meningkat ditambah lagi jumlah penduduk terus meningkat. Di Desa Cigedang Kecamatan Luragung juga mempunyai permasalahan yang sama. Dan akhirnya para pemuda tersadarkan dan mereka didorong  oleh Pemdes setempat untuk melakukan penanganan terhadap sampah.

Saat ini sampah dalam sehari diangkut dua kali. Sebelumnya pemdes menyediakan TPS, mesin pengelola sampah, mobil bak terbuka dan tekahir membentuk BUMDes.  Dengan langkah ini maka di desa yang terletak di ujung timur Kuningan itu peramasalahan sampah sedikit demi sedikit teratasi.

Ketua Pengelola Sampah, Dadang Kurnia mengatakan, hal ini dilakukan atas dasar kesadaran pemuda melihat masyarakat yang membuang sampah sembarangan dan merasa resah akan lingkungan yang kotor, maka pihaknya tergerak untuk mengelola sampah di Cigedang.

Selain itu, pihak pemerintah desa pun ikut serta merangkul dan memfasilitasi para pemuda dengan menyediakan TPA, satu mesin alat pembakaran sampah, satu mobil kolbak untuk mengangkut sampah dan membentuk BUMDes. Hal ini membuat para pemuda termotivasi.

“Memang dari awal pihak desa sudah memfasilitasi satu mesin pembakaran sampah, jadi sangat disayangkan sekali jika tidak dimanfaatkan. Selain itu, Alhamdulillah para pemuda disini juga pada semangat dan kompak,” ujarnya, Minggu (7/10/2018).

Dalam sehari, pihaknya mengangkut sampah sebanyak dua kali angkutan dengan mendatangi ke tiap bloknya dengan mengendarai mobil dan menggunakan pengeras suara. Selain itu, pihaknya juga menerapkan sistem bank sampah bagi masyarakat yang ingin menabung.

“Layaknya penjual perabot atau penjual tahu bulat tuh, nanti dengan sendirinya masyarakat datang sambil membawa sampah dan tiap bulannya masyarakat dipungut 10 ribu per bulan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Ondi Rohendi mengatakan, sebelumnya wacana ini sudah dari dulu direncanakan, namun baru tahun sekarang bisa terlaksana. Bahkan  di  Kuningan timur akan dijadikan percontohan bagi desa lainnya.

Terkait kompos sampah, kini masih terus diusahakan untuk dikembangkan. karena bukan hanya sampah plastaik yang dihasilkan tapi sampah organik pun sangat banyak.

“Alhamdulillah setelah berjuangan maka pengelolaan sampah  teratasi  dengan melakukan kerjasama dengan pihak DLH dan Kampus ITB. Ya semoga ini bisa jadi warisan bagi generasi selanjutnya karena kalau sampah tidak dikelola kita yang akan rugi,” ujar Ondi. (argi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com