60 Persen Lahan di Cisantana Sudah Milik ‘Asing’

KUNINGAN (MASS)- Kejadian penyegelan bangunan di Desa Cisantana milik warga Cirebon membuat banyak pihak tersadarkan  bahwa lahan di desa yang kerap disebut Lembangnya  Kuningan itu sudah banyak dikuasai ‘asing’ atau non pribumi.

Kuninganmass.com sendiri mencoba menelusuri hal itu dan ternyata memang benar lahan di desa yang berada di kaki gunun Ciremai itu sebagian sudah dikusai oleh orang luar.

Dari ketertangan Kepala Desa Cecep Murad SAg 60 persen lahan yang berada di pinggir jalan sudah dijual oleh warga.Yang membeli dari berbagai kota.

“Kebanyakan warga tertarik karena penawaran yang menggiurkan. Harga pasaran tanah dari mulai Rp1 juta hingga Rp13 juta/bata,” jelas Murad kepada kuninganmass,com, Kamis (18/9/2019).

Lahan banyak dijual sekitar tahun 2014 ketika Cisantana sudah dikenal sebagai kawasan wisata. Warga tidak bisa menahan godaan harga yang menggiurkan karena sebelumnya harga sangat murah.

Diterangkan, kalau dibanding dengan luas laha desa yang mencapai 1200 Ha memang jumlah masih kecil. Tapi, untuk lahan yang berada di pinggir jalan sudah 60 persen berpindah kepemilikan.

“Kami sudah mengingatkan sejak awal agar tanah jangan dijual ke orang luar. Kami ingin ketika Cisatana maju warga tidak menjadi penonton.  Tapi, kembali ke pribadi masyarakat karena itu hak mereka,” tandasnya.

Ia tidak menampik banyak pihak yang datang untuk mengincar lahan di Cisantana, tapi sekuat mungkin dipertahankan karena kalau Cisantana beralih fungsi, dampak akan terasa di kemudian hari dan yang rugi adalah anak cucu.

Mengenai warga yang menjual lahan yang kebanyakan lahan pertanian, saat ini warga beralih profesi menjadi penjual di tempat wisata.

Tentu ini  sangat memperihatinkan karena profesi petani merupakan turun temurun dan hasilnya sudah terasa.

“Kami berharap dengan aturan yang jelas maka kawasanan ini tetap terjaga sehingga tidak menimbulkan kerugian dikemudian hari,” jelasnya.

Dari keterangan yang kuninganmass.com berhasil dihimpun  tanah yang dikuasi oleh non pribumi dari  luas  ratusan meter persegi hingga puluhan Ha. Selain dijadikan vila, juga ada penginapan dan tempat usaha.

Semoga tidak ada lagi lahan yang dijual karena warga akan menjadi penonton ketika  Cisantana terus ditata menjadi kawasan wisata unggulan di Kuningan.

Sementara itu, Kadus Malaraman Wawan, menerangkan, sebelum diserbu oleh pembeli dari luar harga tanah dikisaran Rp500 ribu/bata, namun kini paling tinggi sudah Rp13 juta/bata.

“Dulu saya membeli ketika harga murah, sekarang harganya pada tingggi karena warga sudah mengetahui banyak peminat,” sebut salah seorang pembeli yang enggan disebut namanya. (agus)

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com