Sejarah Padumukan Kerajaan Kajane di Desa Jambar (1)

KUNINGAN (MASS) – Kaum muda Kuningan tentunya wajib mengetahui sejarah yang terdapat di Kabupaten Kuningan. Hal itu agar mengetahui bagaimana sejarah masa lampu Kuningan.

Tentu  untuk dijadikan bahan pembelajaran dalam menempuh kehidupan di zaman sekarang ini. Menurut sejarah presiden pertama Indonesia pun pernah mengamanatkan kepada seluruh penduduk Indonesia akan pentingnya menjaga sejarah “jangan lupa akan  sejarah (JAS MERAH).

Salah satunya sejarah di Desa Jambar Kecamatan Nusaherang. Desa yang teridiri dari lima dusun itu yakni kampung Ciwaru (Dusun Pahing), Karanganyar (Dusun Manis), Karangtengah/Kongsi (Dusun Wage), Awiluar (Dusun Puhun), Burunyangku dan Tenjolayar (Dusun Kliwon) itu banyak menyimpan sejarah yang tidak terlepas dari Kabupaten Kuningan.

Disebutkan dalam sebuah arsip nama Jambar ini berasal dari kata Jembar yang artinya sportif, konsisten, menepati janji. Berdasarkan dokumen yang diberikan oleh Kuwu Awan Kuswandi kepada kuninganmass.com di Balai Desa Jambar, Kamis(26/4/2018) diceritakan sejarahnya.

Menurutunya,  dahulu  kala  pada Tahun 732 M daerah ini sudah ada pemukiman/padumukan masyarakat dibawah naungan Kerajaan Kajane. Kerajaan Kajane (Kuningan)  yang merupakan bagian dari Kerajaan Padjajaran.

“Untuk wilayah Kuningan dibawah kekuasaan Aria Kamuning,” ujarnya mengawali cerita.

Pada masa itu, lanjut dia,   agama yang diyakini oleh masyarakat sekitar adalah agama Sanghiang. Namun pada Tahun 1479 M agama Islam datang mewarnai Kerajaan Kajane yang dibawa oleh Syeikh Sarif Hidayatullah bersama Ki Gedeng.

Sementara itu dalam dokumen desa diceritakan setelah Kerajaan Kajane diislamkan, kerajaan Kajane mengutus utusan untuk menyebarluaskan agama Islam keseluruh pelosok daerah kekuasaannya.

Dan nampaknya ajakan dari para utusan kerajaan direspon dengan baik oleh seluruh penduduk kerajaan. Tak lama kemudian setelah terdengar kabar tersebut lalu Syekh Sarif Hidayatullah langsung mengutus Syeikh Marmagati dan Syeikh Ali Mutamad  untuk pergi ke Karanganyar sebagai saksi untuk menemui para Jawara dari berbagai daerah yang di pimpin oleh Mbah Buyut Rundasih.

“Singkat cerita setelah Mbah Buyut Rundasih bertekuk lutut dan serempak diikuti masyarakatnya. Mereka semua masuk Islam. Utusan dari Syeikh Sarif ini mengatakan “Urang dieumah Jembar”. Singkat cerita lama kelamaan Karanganyar disebut Jambar oleh warga-warga Awiluar, Tenjolayar, Burunyangku,dan Karangtengah,” ujarnya. (argi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com