Pakar Tata Ruang Unpad Tertarik pada Raperda Mata Air di Kuningan

KUNINGAN (MASS) – Raperda perlindungan mata air yang tengah digodok DPRD Kuningan rupanya menarik perhatian seorang akademisi Unpad Bandung, Ir Sari Wahyuni MSc SH MH MKn. Kamis (1/11/2018), jebolan planologi Unpad dan manajemen lingkungan Australia ini melakukan kunjungan ke Kuningan guna menemui Ketua DPRD Kuningan, Rana Suparman SSos.

“Ini suatu kemajuan besar. Kuningan jadi pionir. Mudah-mudahan jadi tunas yang bisa berkembang kemana-mana. Kita bisa start dari warisan kita sendiri,” kata Sari kepada para awak media kala berada di ruang kerja Rana.

Ketertarikannya terhadap raperda tersebut lantaran menerapkan Patanjala (konsep/teori warisan leluhur). Sebagai seorang yang paham tata ruang, menurut Sari, sudah menjadi keharusan tata ruang sebuah daerah atau negara itu berbasiskan DAS (Daerah Aliran Sungai), bukan berdasarkan wilayah.

“Sumber utama kehidupan itu air, maka ketika bicara tata ruang seharusnya mengacu ke sana. Orang-orang yang berada di sekelilingnya punya kewajiban untuk menjaganya secara terintegrasi dari hulu ke hilir,” jelasnya.

Sari mengakui kondisi gunung beserta hutannya di Indonesia sebagian besar sudah rusak. Guna mengatasinya dibutuhkan sebuah perda yang bisa berkesinambungan dengan perlindungan mata air, pengelolaan air sungai dan hutannya. Kalau masyarakat mau sejahtera, menurut Sari, maka harus kembali ke sana (Teori Patanjala).

“Patanjala sudah ada sejak dulu. Patanjala bukan mitos. Ini disebutkan pada naskah yang dibuat Prabu Darmasiksa tahun 1.441 Saka atau 1.500 Masehi,” sebutnya.

Masyarakat adat, biasanya mengadopsi Patanjala. Sebagai seorang ahli Planologi sekaligus hukum, Sari mengaku terkejut ketika masih ada naskah kuno di Ciburuy yang didalamnya menjelaskan Patanjala.

“Di naskah itu ada hukum alam, ada hukum negara sejahtera. Ada istilah leuweung larangan, baladaan dan lainnya. Kawan-kawan Belantara (komunitas lingkungan) mempelajarinya. Secara scientific ketika saya di ITB juga sesuai yaitu bagaimana menata ruang berbasis aliran sungai. Planologi itu kan mencakup pula kawasan lindung,” ungkapnya. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com