Warga Positif Covid Biayai Sendiri Swab dan Karantina Mandiri

KUNINGAN (MASS) – Janji pemerintah yang berkomitmen untuk menggratiskan pemeriksaan swab bagi suspect corona, rupanya masih dipertanyakan. Ini dialami sendiri oleh seorang pria yang tinggal di Kecamatan Kuningan, yang kemudian divonis positif covid 3 pekan kebelakang.

“Tiga minggu lalu saya positif hasil swab. Parahnya, Dinas Kesehatan dan Labkesda Kuningan tidak membantu apa-apa. Akhirnya saya karantina mandiri, padahal di Cirebon minimal dikasih gratis pemeriksaan swab,” ungkap dia kepada portal berita ini, Sabtu (17/10/2020).

Ia telah memiliki kesadaran diri ketika merasa terjadi sesuatu pada dirinya dengan langsung mendatangi instansi yang memiliki kapasitas dibidangnya, yaitu puskesmas, labkesda atau dinas kesehatan. Pria ini pun melaporkan kecurigaan yang menimpanya sendiri lantaran terbaring sakit selama 4 hari.

“Saya laporkan mungkin saya ketularan covid, karena bapak saya yang sudah positif duluan dan diisolasi di RSGJ Cirebon. Ibu dan kakak saya yang sempet nemenin di RS juga kayak saya, sudah positif duluan. Cuma bapak dan saya saja yang sakit. Sedangkan ibu dan kakak saya engga,” tuturnya.

Setelah beberapa hari paska sakit, pria ini mencoba untuk meminta agar diswab secara gratis di Kuningan. Sebab untuk menjalani swab di Cirebon secara gratis terganjal KTP beralamat Kuningan. Sebelumnya ia mencoba menjalani rapid test dengan hasil negatif.

Hingga terpaksa dirinya harus melakukan pemeriksaan swab secara mandiri tanpa bantuan pemerintah. Di Unswagati, ia diswab dengan merogoh kocek dari kantongnya sendiri.

“Benar saja, hasilnya saya dinyatakan positif. Tapi waktu itu, dari pihak Unswagati menyebutkan virusnya tinggal sedikit,” tuturnya.

Sebelum itu, dirinya sempat mendatangi Labkesda dan Dinas Kesehatan Kuningan paska dari puskesmas. Kala mengobrol di front office, ia tidak diberikan solusi selain disuruh swab mandiri. Sepertinya mereka satu suara menyarankan supaya swab mandiri berbayar, baik di Prodia, Linggarjati atau Unswagati.

Ia merasa heran atas perlakuan pihak kesehatan. Meski sudah mengakui sakit 4 hari dan ayahnya sedang diisolasi karena positif, namun dibiarkan pulang tanpa memastikan harus diswab atau akan dikarantina. Padahal ia membawa rujukan dari puskesmas dan menceritakan apa adanya.

“Lucu, saya sudah bilang saya habis sakit, bapak saya positif covid dan lagi diisolasi, saya habis nemenin bapak di RS. Ibu dan kakak saya juga positif, walaupun ga ada gejala. Kenapa saya dibiarkan pulang tanpa memastikan saya diswab dan bakal dikarantina?,” ungkapnya.

Dia tidak mendapat rekomendasi untuk menjalani swab di Ciharendong. Padahal sepengetahuannya, di situ terdapat rumah sakit khusus covid yang tentu diasumsikan lengkap.

“Ngapain juga beli gedung buat RS kalo RS pada sepi, padahal masih bisa nampung. Mubazir,” ketusnya.

Sebagai bagian dari warga Kuningan yang tergolong melek informasi, dirinya merasa belum jelas mengetahui bagaimana caranya agar mendapatkan swab gratis. Sedangkan aparat atau pegawai pemerintahan, mereka mampu mendapatkan pelayanan seperti itu.

“Seperti kemarin para polisi sehabis ada demo, mereka gratis swab,” kata pria ini.

Untuk swab mandiri, kala itu harus mengeluarkan biaya di atas 1 juta rupiah. Dirinya tidak sanggup untuk melakukannya sekeluarga, sehingga hanya seorang diri. Yang ia lakukan karantina mandiri agar tidak menularkan ke orang lain.

“Jadi, saya ngalamin apa yang perantau rasakan, yang gak bisa balik lagi ke tempat nyari uang kalau gak diswab dulu. Berat itu. Yang berat bukan sakitnya, tapi sanksi sosial ekonomi,” tandasnya.

Sekarang ini, ia telah dinyatakan sembuh dan tidak menularkan virusnya. Namun dirinya berharap, masyarakat yang kasusnya mirip dengannya yang jadi suspect, bisa punya akses informasi yang jelas bagaimana cara mendapatkan fasilitas swab gratis dan bantuan dalam proses kesembuhannya.

“Karena kalau Kuningan tidak bisa memberi swab gratis, sangat disayangkan. Berarti pemkab sudah salah dalam alokasi anggaran. Kenapa kalau beli gedung untuk RS covid bisa, tapi untuk swab warganya aja gak bisa. Kalah sama kabupaten dan kota Cirebon yang gak beli gedung buat pasien covid, tapi bisa kasih swab gratis. Bahkan Kota Cirebon bisa kasih penginapan gratis untuk shelter suspect covid,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kuningan, dr Hj Susi Lusiyanti saat dikonfirmasi menegaskan, tidak menarif sedikitpun kepada suspect kontak erat.

“Swab bagi suspek kontak erat gratis semua bagi masyarakat selama ini kita gak pernah narif sedikitpun. Kalau ke UGJ nya kita bayar 200 ribu per sample tapi dibayar oleh anggaran kita,” jelas Susi.

Ia kemudian meminta data jelas orang yang menceritakan, untuk melakukan upaya tracing seperti apa kejadiannya. (deden)