Misi Agamis Tapi Jumlah Penderita HIV dan AIDS Naik Terus

KUNINGAN (MASS)- Misi Kabupaten Kuningan adalah Maju alias  Makmur, Agamis, Pinunjul Berbasis Desa  Tahun 2023. Misi itu sangat bagus. Namun, misi itu ada ada tangtangan terutama dalam misi agamis karena kenyataan di lapangan berbanding terbalik.

Sebagai bukti  jumlah penderita HIV dan AIDS terus meningkat. Berdasarkan data LSM Warga Peduli AIDS Kuningan jumlah penderita naik selama kurun sembilan bulan atau dari Januari-September.

“Dari bulan Januari-September 2019 tercatat lebih dari 82 orang kasus HIV dan lebih dari 44 orang telah berada pada tahap AIDS,” ujar Ketua WPA Ani Zulaeha kepada kuninganmass.com.

Diterangkan, angka ini masih jauh dari prediksi jumlah sesungguhnya yang diperkirakan mencapai lebih dari 88 kasus. Dan dari jumlah tersebut sekitar 2-3 orang per bulan terinfeksi baru HIV yang 1 orang diantaranya ditularkan oleh ibu kepada anak.

Dari data yang dimiliki kuninganmass.com untuk tahun 2018  pada semester satu tahun 2018 sudah bertambah 41 orang. Jumlah itu dengan rincian 20 HIV dan 21 AIDS. Di Kuningan sendiri pertama kali ditemukan HIV dan AIDS  pada tahun 2004.

Sementara itu dari data Bagian Kesra Setda Kuningan dari tahun 2004-2017 kasus HIV ada 249 orang. Sedangkan AIDS 188 kasus. Hingga saat ini 344 orang dinyatakan masih hidup dan 93 orang telah meninggal.

Sekadar informasi HIV dan AIDS di Indonesia dilaporkan mengalami percepatan sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1987. Hingga saat ini, sudah lebih dari 340 kabupaten/kota (>85% dari total kabupaten/kota) di Indonesia yang

Terdapat 34 juta orang terinfeksi HIV di dunia (UNAIDS 2018 Global Report). Sebanyak 37,9 juta orang terinfeksi HIV . Tren kasus HIV & AIDS menurun dikebanyakan negara di dunia tetapi Indonesia termasuk satu dalam 9 negara yang memiliki peningkatan kasus infeksi HIV pada usia 15-49 tahun lebih dari 25 %.

HIV dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak aman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, air susu ibu yang terinfeksi HIV, dan donor darah. Disamping itu Indonesia juga tergolong sebagai negara dengan epidemi HIV & AIDS terkonsentrasi, di mana pada wilayahwilayah tertentu, prevalensi populasi kunci sudah mencapai 5 persen atau lebih.

Bahkan Provinsi Papua tergolong sebagai daerah generalized epidemic dimana masyarakat umum pengidap HIV & AIDS sudah lebih dari 1 persen.  Melihat berbagai kasus HIV & AIDS yang terjadi di masyarakat, masalah HIV & AIDS bukan hanya menjadikan masalah kesehatan bagi penderitanya, namun dampaknya akan menyebabkan masalah-masalah lain, seperti masalah sosial dan ekonomi bagi penderita dan jugakeluarganya. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com