Miris Kabupaten Kuningan Termasuk Penyumbang Stunting Terbanyak

KUNINGAN (MASS) – Apa itu Stunting? Stunting adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang pendek atau sangat pendek dibandingkan tinggi badan orang seusianya. Penyebab utamanya yaitu kekurangan gizi kronis terutama pada masa 1000 hari kelahiran pertama yang mana tehitung dari masa janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Jadi stunting ini baru nampak di usia dua tahun, Penyebab lain yaitu pola asuh, perilaku yang tidak sehat dan sanitasi yang buruk.

Menurut berbagai penelitian membuktikan kurangnya asupan gizi dalam waktu yang lama, stunting bukan hanya berdampak pada tubuh yang pendek tetapi juga beresiko sering terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan otak yang mengakibatkan kemampuan mental dan belajar yang kurang serta prestasi sekolah yang buruk.

Berdasarkan data Riskesdas Kemenkes RI, angka prevalensi stunting di Jawa Barat sebesar 29,2 %. Angka ini hampir mendekati angka prevalensi di tingkat nasional yakni 30,8 %. Menurut Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyebutkan ada 13 daerah dengan penderita terbanyak. Ironisnya Kabupaten Kuningan menjadi salah satu penyumbang penderita stunting terbanyak di Jawa Barat yaitu sebesar 42 %.

Di Kabupaten Kuningan sendiri ada 10 desa yang anaknya mengalami stunting diantaranya yaitu Desa Sagaranten, Desa Citundun, Desa Pakembangan, Desa Kadurama, Desa Ciputat, Desa Sukaraja, Desa Cikeusik, Desa Cisantana, Desa Ciasih dan Desa Bunigeulis, harus segera ada langkah nyata dari pemerintah daerah untuk menekan angka tersebut.

Untuk mencegah stunting para orang tua wajib memberikan asupan gizi yang baik pada anak, dengan cara memberikan ASI eksklusif (ASI saja tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, madu, air putih dan tanpa tambahan makanan padat seperti pisang, bubur, biskuit) dimulai dari bayi lahir sampai bayi berusia 6 bulan dan dilanjutkan dengan memberikan makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang baik dan tepat, pemberian ASI pun tetap diteruskan sampai usia 2 tahun.

Dari sisi pola asuh juga dapat diterapkan dengan membawa balita ke posyandu untuk imunisasi dasar lengkap, menerapkan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) sederhananya dengan pembiasaan cuci tangan yang baik dengan sabun dan air. Dan pencegahan stunting untuk ibu hamil bisa dengan memberikan tablet Fe.

Apabila stunting tidak segera ditanggulangi, akan berdampak pada rendahnya generasi baru yang membangun bangsa. Karenanya untuk melahirkan generasi bebas stunting di kemudian hari, tidak ada salahnya bagi remaja perempuan turut andil dalam mencegah stunting yaitu dengan cara memperhatikan gizinya agar seimbang.***

Penulis: Anisa Melinda (Kader PK IMM Komisariat STIKES Kuningan)