Gerakan Makan Buah dan Sayur Dimulai Dari Ciloa

KUNINGAN (MASS)- SDN 2 Ciloa Kecamatan Kramatmulya menjadi lokasi dijadikan Gebyar Gerakan Makan Buah dan Sayur (Gebyur). Kegiatan digelar pada Jumat (7/2/2020) ini bagian dari rangkain Perayaan Hari Giji Nasional 2020.

Acara dihadiri Sekda Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar MSi, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Drs H Uca Somantri MSi. Lalu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Dr Ukas Suharfaputra MP, Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Ir H Dodi Nurochmatuddin MP.

Selanjutnua Wakil Ketua TP-PKK Kuningan Yoan Ridho Suganda, Camat Kramatmulya Guruh Irawan ZulkarnaenSSTP MSi, Pimpinan UN World Food Programe Peter Holtsberg dari swiss, Perwakilan Food Industry Asia – Evolve , Mukarram Sabeera Barakathali dan undangan lainnya.

Kepala  SDN Ciloa 2 Juhana SPd mengaku, merasa berterima kasih sekali dan bangga telah mendapat kepercayaan untuk dijadikan sebagai lokasi percontohan untuk progas dan kampanye buah dan sayur serta pendidikan gizi.  Meski  masih tahap awal pelaksanaan, pihaknya  sudah mulai merasakan manfaatnya.

“Semoga kedepan dengan dukungan seluruh jajaran yang ada disini, sehingga kami bisa menjadi lebih baik lagi dan benar-benar bisa menjadi contoh bagi yang lain,” jelasnya.

Ia  mengimbau seluruh orang tua untuk betul-betul berkomitmen menjalankan pesan yang telah disampaikan melalui program ini dan ia  mohon dengan seluruh kerendahan hati, para komite sekolah untuk terus mendukung sekolah ini menjadi lebih baik kedepannya.

Sementara itu Pimpinan UN World Food Programe, Peter Holtsberg mengatakan, ia senang bisa hadir di SDN 2 Ciloa. Menurutnya anak sekolah Indonesia itu menghadapi beban ganda. Salah satunya adalah gizi buruk .

“Implikasi serius kepada anak terhadap kesehatan ini akan berdampak kepada kesejahteraan generasi saat ini dan masa depannya serta ekonomi dan kesehatan negara,” jelasnya.

Ditreangkan Beberapa penyebab kekurangan gizi dapat berasal dari rendahnya asupan makanan yang sehat aman dan penyedia bukti-bukti sudah menunjukkan bahwa orang Indonesia itu rata-rata mengkonsumsi dua kali lebih banyak sereal dan kurang dari setengah harian yang direkomendasikan buah dan sayuran.

“Sekolah percontohan ini akan menerima pendidikan gizi di dalam kelas melalui perangkat digital serta pelatihan guru-guru dengan materi didalam kelas digital telah dirancang yang disesuaikan untuk menarik dan mempengaruhi anak sekolah,” ujarnya lagi.

Para guru juga lanjut dia, akan dilatih, kemudian orang tua juga akan menerima ya kampanye-kampanye bisa melalui kelompok media sosial untuk implementasi yang lebih luas di masa depan dan berharap juga program ini dapat berkelanjutan.

Ditempat yang sama Perwakilan Food Industry Asia – Evolve , Mukarram Sabeera Barakathali, mengatakan,  partnership dengan program ini mencoba untuk menggaris bawahi pentingnya bekerja sama dengan beberapa mitra sektor-sektor lain juga untuk betul-betul memberikan informasi kepada konsumennya.

“Dalam hal ini adalah tentang makanan yang bergizi dan juga bagaimana melakukan gaya hidup yang sehat. Ini adalah bagian dari program program gizi anak sekolah yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan konsumsi buah dan sayuran misalnya melalui pendidikan giz,” tandasnya.

Sementara Sekda menuturkan Indonesia saat ini sedang dihadapi dengan masalah stunting masih tinggi, masalah gizi, obesitas dan kekurangan zat gizi mikro juga menjadi beberapa dari tantangan terbesar yang dihadapi di Indonesia. Salah satu kegiatan yang dapat mengutamakan upaya bersama berbagai pemangku kepentingan terhadap komitmen, kampanye, edukasi, akses pangan bergizi dan monitoring program sehingga akan tercipta SDM yang sehat, cerdas, dan tangguh.

“Meningkatkan pengetahuan generasi anak kita untuk sadar gizi dan kesehatan, melakukan penyebarluasan informasi dan promosi kepada masyarakat tentang pentingnya gizi optimal dalam mewujudkan pembangunan SDM berkualitas,’ ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan, meningkatan peran media masa dalam kampanye gizi terhadap anak dan remaja sebagai salah satu penanggulangan stunting, meningkatkan komitmen antara pemangku kepentingan baik sektor kesehatan ataupun non-kesehatan di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, swasta dalam kesehatan dan gizi.

Ia  berharap semoga dengan program percontohan ini SDN 2 Ciloa bisa benar-benar menjadi contoh bagi yang lain, dan semoga program ini bisa sukses dan berjalan dengan baik. (agus)