Geothermal, Acep Sebut Masih Tahap Penelitian

KUNINGAN (Mass) – Soal rencana lelang proyek Geothermal di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ciremai, kembali mendapat tanggapan Bupati Kuningan H Acep Purnama SH MH. Bahkan, Bupati Acep menegaskan rencana lelang proyek Geothermal tersebut masih dalam tahap penelitian.

“Mereka (Kementrian ESDM, red) menyampaikan bahwa terkait dengan panas bumi atau geothermal yang terkandung di wilayah Gunung Ciremai, sedang dalam pelaksanaan pelelangan. Mereka juga melakukan ini baru dalam tahap penelitian, kalau potensinya ada dan potensinya cukup diteruskan, kalau tidak ada ya sudah, walaupun dalam penelitian ini mereka sudah mengeluarkan biaya tinggi,” ucap Bupati Kuningan H Acep Purnama SH MH ketika ditemui kuninganmass.com di ruang kerjanya, Kamis (22/9).

Masih menurut Acep, pertimbangan Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menggali potensi tersebut untuk pemasokan listrik nasional. Sedangkan potensi geothermal di kaki Gunung Ciremai itu merupakan salah satu dari lima titik potensi geothermal, yang tengah dilakukan pelelangan oleh pemerintah pusat.

“Ada lima titik potensi geothermal yang sedang dilakukan pelelangan, salah satunya di Gunung Ciremai dari keseluruhan nasional yang berjumlah 30 titik, sudah berjalan delapan titik, menyusul lima titik dan sisanya masih tahap penelitian. Asumsinya, ini untuk memenuhi pasokan listrik hingga Tahun 2025,” sebutnya.

Jadi lanjut Bupati Acep, jika pasokan listrik itu tidak ditambah kemungkinan hingga Tahun 2020 mengalami kekurangan atau defisit pasokan listrik. Imbasnya, bisa saja terjadi pemadaman listrik secara bergilir.

“Kebetulan potensi itu ada di wilayah Kuningan, sehingga mereka datang kesini menyampaikan maksud dan tujuannya. Ya kita terima dengan baik, namun perlu disampaikan pertama mereka menyampaikan niat baik ini adalah untuk bangsa dan negara, bukan untuk kepentingan golongan atau perorangan,” kata Acep menjelaskan.

Adapun pemenangnya siapa kata Acep, hingga saat ini pihaknya belum mengetahui secara pasti karena masih dalam proses. Lalu, tidak ada satu titik pun yang dinilai bisa berakibat buruk.

“Kalau misalnya ada isu seperti Lapindo itu berbeda, karena menggalinya minyak. Jadi, materialnya beda dan ini kan panas bumi yang akan dikeluarkan itu uap. Keuntungannya, potensi itu akan diolah menjadi energi yang bisa menggerakan listrik, dan lahan yang diperlukan tidak lebih dari tiga hektar,” pungkasnya.(andri)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com