Perpustakaan Kelamin Relevan dengan Kekinian

CIREBON (MASS) – Ikatan Mahasiswa Kuningan (IMK) mempunyai program rutin bertajuk NGOPI “Ngobrol Perkara Islam” yang diselenggarakan setiap hari kamis malam jumat pukul 18.00 WIB bertempat di sekretariat IMK Puri Taman Sari blok C No 24 kota Cirebon. Rangkaian kajian dimulai dengan sholat maghrib berjamaah, yasinan dan diskusi. Termasuk tadi malam (10/1/2019).

Setelah sukses dengan diskusi buku karya Ali Syariati berjudul Tugas Cendekiawan Muslim yang dibahas bab per bab selama 7 pekan beruturut-turut, kajian rutin ini dilanjut dengan diskusi buku Perpustakaan Kelamin karya Sanghyang Mughni Pancaniti dengan pemantik Arviansyah dan moderator Egi Syahrial Haqkiki.

Menurut Inggil, anggota bidang PKMB yang menaungi program kajian rutin ini menuturkan, bahwa diskusi buku Perpustakaan Kelamin dianggap relevan dengan kondisi mahasiswa zaman sekarang yang sudah kehilangan identitasnya sebagai kaum akademis. Budaya membaca, menganalisa dan berdiskusi telah jauh meninggalkan mahasiswa.

“Buku ini menampar dan memantik para pembacanya agar senantiasa mengistiqomahkan membaca dan mengagungkan buku sebagai peradaban tertinggi di alam dunia. Diharapkan dengan mendiskusikan buku ini, mahasiswa khususnya anggota IMK lebih terpacu lagi untuk membaca,” tutur Inggil.

Tidak hanya membahas perihal buku dan budaya membaca, buku ini juga menjadi bentuk kritik terhadap keseharian yang terjadi dan telah mendarah daging di setiap sendi-sendi berkehidupan. Seperti budaya patriarki, kritik terhadap sistem pendidikan, kritik terhadap budaya individualis orang-orang kota dan lain sebagainya.

“Membaca buku ini seperti membaca narasi miniatur negara Indonesia. Budaya desa, peradaban orang kota, kultur mahasiswa dengan kos-kosannya, dan entitas bernama buku yang kian digerus dari peradaban disajikan begitu apik dan ciamik oleh kang Mughni,” tambah Riki, salah satu peserta diskusi.

Sebagaimana biasanya, diakhir sesi kajian selalu dipungkas dengan refleksi dari setiap peserta yang hadir. Dengan harapan, adanya refleksi tersebut menjadi satu ciri bahwa tiap-tiap peserta diskusi mendapatkan sesuatu yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. (deden/rl)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com