Pelayanan Sekolah Selama Lockdown? Sekarang saat Krusial Kalau Tak Mau Ditinggal

KUNINGAN (MASS) – Selama sekitar hampir 3 bulan ini anak-anak diliburkan sekolahnya karena pandemic Covid-19, mereka disuruh untuk belajar dari rumah. Ternyata yang dipusingkan pada akhirnya adalah orang tua mereka, karena mereka yang dominan harus mengajarkan anak-anaknya. Seringkali meraka tidak tahu apa dan bagaimana cara mengajarkannya. “Mayoritas orang tua tidak pernah sekolah keguruan, pak/bu”.

Akhirnya banyak yang merasa sekolah tidak fair, karena hanya memberi tugas dan memindahkan tanggung jawab pendidikan sekolah ke orang tua, tapi SPP minta dibayar full. Karena merasa beban harus mengajar dan mungkin karena kondisi ekonomi juga, sampai ada selentingan, “SPP minta dibagi 2 donk sama orang tuanya. Khan orang tuanya yang mengajar.”

Jangan sampai hal itu terjadi. Karena sebenarnya tidak etis, tapi mungkin terceploskan karena ada perasaan ketidakadilan. Disini tantangan sekolah untuk terus memberi pelayanan terbaik ditengah keterbatasan. Harus kreatif memberi pelayanan pendidikan terbaik untuk siswa. Karena pastinya sekolah punya target siswa sudah menguasai apa seharusnya sekarang ini.

Contoh tentang sekolah menjadi kreatif bagaimana? Maaf saya bukan guru, tapi mungkin bisa jadi pertimbangan misal, apa guru rajin menghubungi satu per satu siswanya, mengajar dan menanyakan perkembangan anak didiknya? Membangun kedekatan emosional dan tahu gurunya peduli itu penting.

Contoh lain, membuat video pengajaran yang bisa ditonton anak didiknya (baik secara langsung atau rekaman). Iya tidak semua siswa punya akses internet, tapi jangan jadi alasan tidak melakukannya dan mengorbankan yang punya akses internet. Beda ‘feelnya’ kalau siswa menonton gurunya sendiri yang mengajar, dibanding guru lain dari channel Youtube yang dikasih linknya sama sekolah atau dari TVRI, yang belum tentu cocok dengan kurikulum sekolah, apalagi yang menyandang ‘Sekolah Plus’. Mana plusnya?

Video bisa dibikin sesuai jadwal sekolah. Kalau sekolahnya tiap hari, ya dibuat tiap hari. Ingat lho, selama lockdown ini, anak-anak kita lebih banyak bermain dibanding belajar. Dengan adanya video ini, orang tua juga bisa ikut belajar, jadi paham maksud tugasnya apa, dan mengajarkannya ke anak.

Terus, selama lockdown ini, apa yang sekolah tugaskan ke guru agar anak-anak tetap bisa belajar secara optimal? Apa cuma sekedar memberi tugas?

Bagaimana kalau sekolah juga menyuruh gurunya visiting (mengunjungi) siswa dengan tetap memperhatikan keamanan dan social distancing, dan persetujuan orang tuanya? Mohon maaf sebelumnya, kalau guru selama masa lockdown masih bisa keluar rumah kalau ada keperluan, harusnya untuk visiting ini juga bisa.

Sebentar lagi tahun ajaran baru. Tidak dipungkiri sekolah akan berlomba-lomba mencoba mendapatkan murid baru untuk masuk sekolahnya. Marketing terbaik bukanlah spanduk pendaftaran atau postingan iklan sekolah di media sosial, tapi orang tua siswa yang puas akan pelayanan sekolah. Mereka akan merekomendasikan sekolah anaknya, kalau dirasa sekolah all out hadir untuk pendidikan anaknya ditengah keterbatasan.

Ditambah lagi, ada celetukan, “Kalau siswa cuma dikasih tugas saja selama lockdown, bisa berkinerja baik, ngapain juga masih sekolah formal. Sekalian saja homeschooling, lebih hemat.” Jadi bisa jadi akan ada anak yang keluar sekolah di tengah jalan, dan menjalankan homeschooling, kalau sekolah tidak bisa memberi manfaat / benefit yang lebih.

Mohon maaf kalau ada kata yang tidak berkenan. Tulisan ini dimaksudkan untuk kritik membangun, demi pendidikan anak-anak kita, yang kondisi pendidikannya sedang memprihatinkan. Cobalah lihat anak-anak sekeliling kita, apa mereka masih efektif belajar di rumah atau lebih sering bermain atau main HP?

Semoga bisa diterima dengan lapang dada untuk jadi bahan introspeksi semua pihak yang berkepentingan.

Penulis:
Anton Fathoni Y., SE
Orang tua siswa dan pemerhati pendidikan anak