Ngeri, Angka Laki Suka Laki di Kuningan Sudah Sebanyak Ini

KUNINGAN (MASS) – Para orang tua di Kabupaten Kuningan perlu ekstra waspada. Pasalnya, hasil pemetaan terdapat 377 orang yang terindikasi LSL (Laki Suka Laki). Rentang usianya antara usia pelajar sampai usia 40 tahunan.

“Hasil pemetaan untuk kepentingan KPA, dari 18 spot yang dijadikan sasaran pendataan, jumlahnya 377 orang yang terindikasi, mulai usia pelajar sampai usia 40 tahunan. Pokoknya usia produktif” sebut Kabag Kesra Setda, Toni Kusumanto, kala dikonfirmasi kuninganmass.com, Kamis (13/6/2019).

Dari 377 orang tersebut, imbuhnya, banyak diantaranya berstatus mahasiswa. Sebab hasil pemetaan, yang terbanyak itu antara usia 20-35 tahun. Lantaran bersifat ekslusif, maka rekruitmennya pun tidak sembarangan.

“Ya ini termasuk rawan. Kita sudah terbitkan surat edaran ke kades, camat, tokoh, ormas dan lainnya agar menyikapi masalah ini. Termasuk didalamnya imbauan kepada orangtua harus mau melakukan pengawasan kepada anak-anaknya lebih optimal lagi,” ujar Toni.

Menurutnya, pengawasan orangtua yang dianggapnya paling penting. Mereka harus selalu melakukan bimbingan kepada putra-putrinya sekaligus pengawasan optimal. Penyebab mereka itu, sambung dia, karena faktor perilaku.

Tokoh agamapun, diharapkan olehnya selalu menyelipkan hukum agama kaitan dengan LSL pada acara-acara keagamaan. Sama halnya dengan para kades, pada saat program tertentu diminta olehnya agar bisa mengetuk hati mereka yang terindikasi.

“Termasuk kepada yang bersangkutannya, jangan cari informasi dari satu sumber saja, melainkan harus dari berbagai sumber. Kan tadi, karena ekslusif, biasanya sumber yang mereka peroleh dari komunitasnya saja. Tapi kalau membuka wawasan dari berbagai sumber, insya Allah perilakunya bisa berubah,” harapnya.

Lebih jauh Toni mengungkapkan, perilaku menyimpang tersebut berpotensi tinggi terhadap idapan HIV/AIDS. Sebab penularan virus HIV/AIDS itu diantaranya lewat hubungan seksual, lewat darah dengan jarum suntik atau narkoba, serta dapat pula ditularkan melalui air liur.

“Bedanya homo dengan LSL itu, kalau homo belum melakukan perilaku seks, sedangkan LSL mah sudah,” jelas Toni.

Agar dapat teratasi, semua elemen masyarakat diharapkannya bergerak termasuk para orangtua. “Ini termasuk rawan. Karena ini sosial, maka semua diharapkan bergerak. Mungkin ada anak yang di rumahnya kelihatan alim, perlu diawasi bagaimana di luar rumahnya,” seru Toni. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com