Mahasiswa Gizi Unisa Pahami UU dan Regulasi Profesi Gizi

KUNINGAN (MASS) – Program Studi Gizi Universitas Islam Al-Ihya (Unisa) Kuningan menggelar kuliah umum Perundang-undangan dan Regulasi Profesi Gizi. Acara itu dilaskanakan di Masjid Al-Ihya Centre Unisa, Kamis (26/9/2019).

Hadir dalam acara itu seluruh mahasiswa Gizi Unisa termasuk mahasiswa baru yang akan mengikuti perkuliahan awal oktober. Kemudian hadir juga para Kaprodi di Fakultas Kesehatan Unsia yang terdiri dari Prodi Gizi dan Prodi Kesehatan Masyarakat.

Kaprodi Gizi Unisa, Aep Saepudin menerangkan, kuliah umum tersebut rutin digelar untuk inetrnal mahasiswa Gizi sebelum memasuki perkuliahan tahun ajaran baru. Melalui kegiatan itu dia berharap para mahasiswa, baik yang baru masuk maupun yang akan lulus memiliki kompetensi yang baik dan menyeluruh tentang ilmu gizi.

“Selain memiliki tiga kompetensi utama gizi, yaitu gizi masyarakat, gizi dietetik, dan gizi good service, mahasiswa gizi yang nanti akan berprofesi sebagai nutritionist harus memahami perundang-undangan atau aturan main tentang profesi yang akan digelutinya,” kata Aep.

Karena hal itu, lanjutnya, pada kesempatan itu dihadirkan narasumber dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Kabupaten Kuningan, Cahyani Wira Prayuda. Ketua Persagi tersebut menyampaikan dua materi inti yaitu mengenai gerakan revolusi mental dan regulasi profesi gizi. Menurutnya, gerakan revolusi mental sangat penting disampaikan kepada seluruh mahasiswa untuk meneguhkan kembali karakter sebagai mahasiswa Unisa.

“Pemateri menyampaikan juga gerakan revolusi mental sebelum masuk ke materi inti. Gerakan ini penting kembali dipahami oleh setiap mahasiswa sebelum mengikuti perkuliahan,” tuturnya.

Sementara, Cahyani Wira Prayuda menerangkan, selain memahami regulasi profesi gizi, para mahasiswa sebagai agen perubahan di lingkungan masyarakat sekaligus calon tenaga kesehatan bidang gizi harus mampu meningkatkan keadaan gizi masyarakat. Menurutnya, jika sudah menjadi bagian dari Persagi, para nutrisionist tersebut mampu mengembagkan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang gizi dan bidang lainnya yang saling berkaitan.

“Semoga mampu meningkatkan status gizi masyarakat yang optimal, yaitu keadaan gizi pada tingkat setinggi mungkin, dan mampu memahamkan warga dan menyadarkannya pada pola makan sesuai PUGS yang di beberapa negara di sebut nutritional guidline,” tuturnya. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com