Kisah-kisah Inspiratif Dibalik Diwisudanya 695 Lulusan Uniku

KUNINGAN (MASS)- Setelah beres diwisuda pada Rabu,  695 lulusan Uniku berhak menyandang gelar sarjana maupun magister. Dibalik beresnya menempuh kuliah  banyak kisah yang bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang akan kuliah.

Ternyata dari 695 yang diwisuda itu tidak semua mulus melaksanakan kuliah hingga beres. Ada yang sempat break karena harus mencari uang untuk kuliah. Ada juga bisa selesai karena bantuan beasiswa dan bapak angkat serta banyak hal yang terkadang harus menguras air mata.

Kuninganmass.com menyajikan beberapa kisah mahasiswa yang bisa menjadi inspirasi karena ternyata mereka tidak pernah bermimpi menjadi sarjana. Namun, kerja keras membuat mimpi  itu berhasil terwujud.

Nama pertama adalah Ammar Chania  yang lulus dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Ekonomi (PE) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Namanya tidak asing di Uniku karena ia kerap berprestasi ditingkat nasional terutama dalam lomba cerita inspiratif.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa ia terlahir dari keluarga kurang mampu. Ia bisa kuliah ke Uniku berkat jasa orang tua angkat yang bernama Ade. PNS yang berkerja di SMAN Ciniru itu menyisihkan rejekinya untuk membantu Ammar melanjutkan kuliah.

Sejak pertama kali masuk ke Uniku, sosok Ammar menjadi perhatian. Ketika mengikuti tes calon mahasiswa baru Uniku ia datang jalan kaki dari Desa Pakapasan Hantara.

Jalan kaki ia lakukan selama tiga semester dan pada semester empat ia diberikan motor oleh ayah angkatnya.

Belum lagi postur tubuhya yang kecil, rambut kriting dan berkulit seperti warga Indonesia bagian timur membuat panitia tersentak. Banyak yang bersimpati dengan kerja kerasnya dan memang kerja keras itu berbuah hasil dimana berbagai penghargaan memenuhi lemari Ammar.

Lulusan yang kedua adalah Yaya Cahayadi yang kini berhak menyandang gelar Sarjana Kehutanan . Anak tukang kayu dari Desa Geresik Kecamatan Ciawigebang itu tidak pernah bermimpi menjadi sarjana.

Bapak yang bernama Cartim adalah petani dan tukang kayu. Sedangkan ibunya Casih adalah ibu rumah tangga. Ia terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara.

Pasca lulus dari SMK Pertiwi, ia berkerja di perusahaan di kawasan Industri Karawang. Ia hanya kuat 2 tahun dan saat itu statusnya adalah outsourcing sehingga tidak diperpanjang.

Dengan bekal uang pesangon Rp4 juta ia memberanikan diri kuliah ke Uniku. Meski jurusannya adalah kehutanan jauh dari basik di SMK. Namun, ia yakin ini adalah jalannya.

“Jujur punya uang Rp4 juta dan sisanya bapak jual pohon jati. Saya lulus SMK 2012 masuk 2014. Perlu lima tahun untuk lulus karena banyak break terutama membantu dosen penelitian,” ujar Yaya yang mengaku raihan IPK-nya adalah 3,39.

Selain dari membantu dosen, biaya kuliah ia peroleh dari beasiswa serta  juga dari hasil kerajinan tangan atau handmade. Kerajinanan tangan yang kini ia beri nama rautproject.id berawal dari temannya yang ingin memberikan kado kepada pacarnya yang tengah ulang tahun.

“Teman saya ingin memberikan kado spesial tapi unik dan saya pada saat itu membuatkannya dari ranting pohon dan ternyata  berhasil dan setelah itu terus berlanjut hingga saat ini,” jelas Yaya yang menerangkan berkat mendampingi dosen penelitian ia jadi mengetahui pulau Kalimantan dan Papua.

Pria yang mengaku sudah punya pacar itu, alasan dinamakan rautproject.id  karena semua kerajinan tangan yang dibuat bermodal pisau raut. Untuk harga jual produk mulai dari Rp20 ribu hingga jutaaan rupiah. Salah satunya untuk patung arca.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu sehingga saya bisa menjadi sarjana. Saya tidak pernah bermimpi jadi sarjana. Namun, hasil kerja keras dan doa terutama dari orang tua sehingga terwujud,” ujar Yaya yang mengaku ingin berkerja di bidang kehutanan itu.

Dan terakhir adalah Deden. Lajang asal dari Desa Pakembangan Kecamatan Garawangi itu lulus menjadi Sarjana Ekonomi. Tidak ada yang mengetahui bagaimana proses kerja keras ia bisa menjadi sarjana.

Ia ditinggal oleh ayahnya sejak umur balita. Posisi ayahnya digantikan oleh kakeknya yang bernama Dadan. Dengan kasih sayang dan dibawah arahan kekeknya itu ia tumbuh menjadi anak yang berbakat dalam berbagai cabang olah raga.

“Pada waktu kecil saya minta ia untuk memilih cabor apa yang akan digeluti karena ia sama berbakatnya terutama di tenis meja dan sepakbola. Pilihanya adalah sepakbola dan dari sepakbola itu ia kini menjadi pemain Pesik Kuningan dan berkeja di Dishub Kuningan,” jelas Dadan yang terlihat bangga dengan diwisudanya Deden yang ia anggap sudah menjadi anak sendiri bukan cucu.

Ia bercerita dengan kerja keras semua bisa terwujud dan ini juga bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin melanjutkan kuliah. Semua tidak ada yang tidak mungkin selama mau kerja keras dan berdoa kepada Allah SWT. (agus sagi mustawan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com