Guruku, You’re My Inspiration

KUNINGAN (MASS) – Tidak ada satupun dari kita yang tidak mengenal “Guru”, secara bahasa guru berarti sebagai seseorang yang memiliki kapabilitas untuk menjadi panutan dan dapat di gugu serta ditiru. Tuntutan guru harus memiliki kemampuan mentransformasikan pengetahuan dan pengalamannya, memberikan tauladan, masih juga ditambah dengan sebuah harapan bahwa guru harus mampu memberi inspirasi kepada seluruh anak didiknya agar mereka dapat menemukan caranya sendiri untuk mengembangkan potensi diri dan juga memiliki akhlak yang baik.

Guru inspiratif bukanlah hanya sekedar ukuran skala kompetensi sesuai dengan gelar kependidikan yang dimilkinya. Guru harus memiliki kemampuanuntuk mengajar didepan kelas, membuat bahan evaluasi, dan menentukan kelulusan siswa. Guru inspiratif harus memiliki pribadi menarik yang dapat terlihat langsung oleh siswa sehingga dapat memberikan kemauan siswa untuk mengembangkan potensi diri, menumbuhkan kesadaran untuk meraih masa depan yang cemerlang bagi siswa.Pribadi menarik dan kesadaran siswa untuk mejadi lebih berprestasi ini yang akan menciptakan keakraban interaksi sosial antara guru dan siswa.Kondisi keakraban yang tercipta dari proses belajar seperti ini yang akan mampu menghilangkan “stempel” bahwa guru adalah sosok yang menakutkan dan angker, tetapi dapat berubah menjadi mitra belajar yang dapat memberikan suasana kebagadiaan saat proses transfer knowledge berlangsung.

Andai profesi mengajar seorang guru disamakan dengan tentara di medan perang dan proses transformasi ilmu serta tauladan disejajarkan perangnya seorang tentara di medan perang. Maka sangat realistis bahwa guru juga harus memiliki bekal “AMUNISI” yang cukup untuk hadir dalam gelanggang “mengajar” tersebut.

Ada beberapa bekal atau amunisi yang harus disiapkan seorang guru untuk mampu menciptakan kondisi belajar mengajar yang membuat siswa memiliki inspirasi untuk menata masa depan nya dengan lebih baik. 

A. Menjalin Ikatan Emosional

Guru yang menyenangkan akan membuat siswa termotivasi untuk mengikuti kelas, dan ini adalah fakta yang tak terbantahkan. Atau sebaliknya siswa akan membuat alasan apapun untuk tidak hadir di kelas apabila guru yang memberi pelajaran adalah guru yang tidak menyenangkan.

Ikatan emosional yang terbentuk dengan baik secara langsung juga mampu memberikan motivasi kepada siswa untuk mampu dan bisa mengerti apa yang diajarkan oleh guru sesulit apapun materi yang diberikan, setahap demi setahap siswa pasti akan mampu menyelesaikan pelajarannya dengan baik. Bahkan, guru tersebut sduah bisa menjadi favorit di mata siswa, maka bukan tidak mungkin siswa mampu untuk mengingat setiap kata bahkan hingga titik dan koma yang diucapkan gurunya. Ini adalah hal yang sangat luar Biasa!

Sebaliknya jika guru menjadi sosok yang dianggap pilih kasih, terlalu galak, pernah dan bahkan senang menyinggung perasaan siswa saat belajar, maka sepintar apapun guru mengajar, suasana belajar membuat siswa menjadi tidak nyaman dan bahkan cenderung tidak bahagia saat belajar. Boleh jadi, siswa menjadi begitu sangat antipasti dengan mata pelajaran yang diajarkan tersebut. Hal-hal baik sekalipun seolah segera mereka ingin lupakan begitu lepas ujian selesai.

Pernahkah sebagai seorang guru kita berfikir mengapa siswa cenderung menutup diri ketika kita berperilaku negatif padanya? Ketika otak merasa menerima tekanan atau dalam kondisi terancam, kapasitas saraf untuk berpikir rasional jadi mengecil. Kondisi ini dapat menghentikan proses belajar pada saat itu dan setelahnya. Pada saat seperti ini kemampuan belajar siswa benar-benar berkurang sampai ke titik terendahnya.

Perasaan dari masing-masing siswa jelas tidak sama, kalimat yang dipilih guru dalam memberikan pelajaran apabila di terima secara baik mampu meningkatkan motivasi belajarnya namun sebaliknya apabila penerimaan siswa terhadap apa yang disampaikan oleh guru kurang baik pasti akan menciptakan tekanan tersendiri bahkan bisa saja siswa akan merasa bahwa belajar itu adalah sebuah kondisi yang mengancam dirinya.

Pernahkah kita menjumpai seorang guru yang jengkel menghadapi siswanya yang tidak segera paham sehingga guru itu mengulang-ulang penjelasannya, dan lama kelamaan suaranya dihiasi dengan tekanan-tekanan seperti orang marah? Dengan cara itu guru mengharap siswanya segera paham, padahal pada saat yang sama sebenarnya siswa itu sedang menghadapi suasana ancaman sehingga dia merasa tertekan. Dan sesungguhnya dengan cara seperti itu kemampuan siswa untuk belajar semakin berkurang. Bayangkan, guru menginginkan siswanya paham justru ketika dia membuat suasana yang menyabotase kemampuan otak siswanya. Jadi, dapat dipastikan kegagalanlah yang diperolehnya.

Adapun cara yang dapat dilakukan untuk membangun ikatan emosional siswa adalah :

  1. Membuka Kran Komunikasi

Kasih sayang dan ketulusan adalah kuncinya komunikasi, sudahkah kita menyayangi siswa kita dengan tulus?

  1. Memperlakukan Siswa Sebagai Manusia Sederajat

Hormati dan hargai mereka, biarkan mereka berbicara lebih dahulu dan kita menjadi pendengar yang baik. Sudahkah?

  1. Lembut dan Hangat

Dari Aisyah ra., ia berkat bahwa Rasulullah saw bersabda : “Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan dalam semua urusan.” (H.R. Muslim). Kepada orang yang berperilaku lembut, terutama terhadap mereka yang urusannya berada dalam tanggung jawabnya, Rasulullah bersabda . “Ya Allah, siapapun yang mengatur urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan, siapa pun yang mengatur urusan mereka lalu ia bersikap lembut terhadap mereka, mak santunilah mereka . (H.R. Muslim dari Aisyah)

B. Menjadi Teladan

Dalam filsofofi jawa dikatakan bahwa guru merupakan akronim dari kata digugu (diyakini) dan ditiru (dicontoh). Segala perkataan dan tindakan guru akan selalu menjadi pusat perhatian siswa. Dan entah disadari atau tidak semua yang dilakukan guru akan mudah ditiru oleh siswa.

Demikian hebat dan luarbiasanya peran dan pengaruh guru maka sudah seharusnya kita senantiasa menjaga dan memelihara kontemplasi diri atas segala hal yang telah dipebuat. Jangan sampai terjadi perilaku buruk kita menjadi potret yang akan ditiru oleh siswa.

Niat menjadi guru teladan bukanlah sesuatu yang muluk, tetapi memang sebuah kewajiban. Niat tersebut akan menjadi penerang langkah hati kita dan pendorong semangat kita. Yakinkan dalam segala gerak langkah kita bahwa kita akan menjadi teladan bagi siswa dan lingkungan kerja.

Menjadi teladan memang bukan hal mudah karena secara manusiawi kita pasti memiliki kekhilafan. Akan tetapi yang penting kita lakukan adalah kejujuran untuk mengakui kesalahan kita dan berupaya untuk memperbaikinya. Dengan cara semacam ini kita akan tampil secara wajar dan orang lain pun akan melihatya secara utuh.

C. Berpandangan Positif

Seseorang yang memilih cara berpikir dan bersikap positif akan terus menghasilkan buah pikiran yang positif pula sekaligus merangkul harapan rasa optimis dan daya cipta. Sebaliknya seorang yang mengindap pikiran negative tentu saja melibatkan dirinya dalam proses negatif pula. Sebab ia terus-menerus menyalurkan pikiran yang negatif. Tindakan-tindakannya pun akan bersifat negatif terhadap lingkungan sekelilingnya. Seorang mengindap pikiran negatif akan memantulkan buah pikiran negatif dan akan memetik hasil yang negatif pula atas dirinya. Seperti yang dikatakan oleh Willian James, seorang ahli filsafat dan ilmu jiwa :
“Penemuan terbesar dalam generasi umat manusia sekarang ini adalah, bahwa manusia itu bisa merubah cara hidupnya dengan cara merubah jalan pikirannya”

Pandangan positif seorang guru sangatlah penting untuk diperhatikan. Satu hal yang sangat berpengaruh pada diri siswa. Guru harus menampakkan secara jelas dan benar-benar jelas kepada siswanya bahwa kita mempercayai. Sebagai guru, kita percaya bahwa semua siswa mampu dan memiliki motivasi untuk sukses. Buatlah siswa yakin bahwa kita benar-benar mempercayainya. Guru harus berusaha percaya bahwa siswa ingin melakukan yang tebaik, mereka ingin brhasil dan mendapatkan kesuksesan.

D. Membuat Aturan Main Bersama

Peraturan sungguh perlu, tetapi , tetapi hendaknya dibuat secara bersama-sama sehingga timbul kesadaran dan tanggung jawab untuk melaksanakan peraturan tersebut. Namun, sebelum diterapkan sebuah aturan sebaiknya dibangun dahulu suasana keterbukaan dan kehangatan sehingga masing-masing orang dapat berpendapat dengan bebas. Sedikit meemakan waktu memang, tetapi cukup efektif, terutama dalam pengelolaan kelas.

Pengalaman menunjukkan bahwa menggunakan minggu pertama sekolah untuk menata suasana yang hangat tidak hanya membangun suasana untuk sepanjang tahun, tetapi juga akan menghemat waktu dalam pengelolaan kelas. Tingkat hubungan ini menghasilkan keuntungan tambahan. Jika guru memahami dan bersedia menjalin hubungan saling pengertian dengan siswa, maka guru akan mendapatkan izin untuk menuntut tanggung jawab atas perkataan dan perbuatan mereka. Mereka pasti dengan suka rela melaksanakan aturan tersebut. Hal ini juga membawa konsekuensi logis bahwa meeka pun berhak menuntut hal yang sama dari kita sebagai guru mereka.

E. Membuat Kegembiraan

Jika guru secara sadar dapat menciptakan kegembiraan ke dalam pekerjaannya, maka kegiatan mengajar dan belajar akan lebih menyenangkan. Kegembiraan membuat siswa siap belajar dengan mudah, dan bahkan dapat mengubah sikap negatif menjadi positif, hubungan yang kaku manjadi cair.

Bayangkan jika suasana menegangkan di atas selalu ada dalam proses kegiatan belajar maka sekolah tak ubahnya seperti penjara yang merengut kebebasannya untuk berpikir, berekspresi dan beraktualisasi diri. Oleh karena itu, marilah kita buat suasana belajar dalam keceriaan dan warnai hari-hari kita dengan kegembiraan. Kita masih mempunyai kesempatan untuk memperkenalkan kembali siswa-siswa kita dengan ketaktuban dan kegembiraan belajar.

Dengan suasana belajar yang menyenangkan pastilah akan bermunculan inspirasi-inspirasi baru yang menyegarkan. Inspirasi ini tidak hanya diciptakan oleh guru, tetapi sangat mungkin inspirasi tumbuh dari dalam diri siswa sendiri. 

KESIMPULAN 

Dengan ke-lima (5) hal di atas diyakini bahwa tujuan pembelajaran yang bukan hanya sekedar tranformasi ilmu dapat tercapai, sebab selain sebagai sarana transformasi ilmu belajar dan bersekolah juga merupakan sarana membentuk watak dan kepribadian Siswa.

Ditangan siswa hari ini ada tampuk kepemimpinan negeri ini yang akan dititipkan dan maju mundurnya negeri ini dimasa depan lihatlah guru nya hari ini. Bila semua nilai baik diatas dapat kita lakukan dengan baik maka insyaallah masa depan negeri ini akan semakin baik, karena siswa kita semua sudah terinspirasi nilai kebaikan yang kita tanam hari ini.

Guruku, you’re my inspiration.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Acep Yonni dan Sri Rahayu Yunus, (2011). Begini Cara Menjadi Guru Inspiratif & Disenangi Siswa. Pustaka Widyatama. Yogyakarta
  2. Abdullah Munir, (2010). Super Teacher. PT. Bintang Pustaka Abadi. Yogyakarta.
  3. Dale Carnegie. (1979). Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang . Percetakan Offset Gunung Jati. Jakarta.

Penulis: Tutut Setya Astuti, SKM (Guru SDIT Al Multazam Kabupaten Kuningan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com