Dramatis, Dua Tim Asal Ciawigebang Lolos ke Final LPI

KUNINGAN (Mass)- Liga Pendidikan Indonesia (LPI) tahun 2017 benar-benar menyuguhkan drama. Betapa tidak banyak pertandingan yang berakhir diluar prediksi.

Seperti pada partai semifinal kedua yang digelar Jumat (31/3/2017) di Stadion Mashud Wisnusaputra tim unggulan SMKN 3 Kuningan dengan SMAN I Ciawigebang. Banyak yang mengunggulkan tim SMKN 3 akan menang.

Namun nyatanya gol pada menit terakhir perpanjangan waktu yang dicetak oleh Adit menghancurkan mimpi tim asuhan Juanda itu lolos ke final. Tim SMAN I Ciawigebang sendiri ditangtang oleh SMKN 5 Kuningan di partai puncak.

Pada partai sebelumnya yang digelar jam 14.00 tidak kalah dramatis juga derby sesama tim Ciawigebang, dimana   SMKN 5 Kuningan mampu mengalahkan SMK PGRI dengan skor 4-1 melalui adu pinalti. Hingga perpanjangan waktu dua kali 7,5 menit kedua bermain imbang (1-1).

Tiga penendang pertama tim SMK PGRI tidak ada yang mampu membobol gawang yang dijaga Ahmad Fauzi. Sedangkan tiga penendang dari SMKN 5 yakni Rizik, Hilman dan Iqbal mulus masuk ke gawang yang dijaga  M Ifan.

Awalnya diprediksi partai puncak akan mempertemukan SMKN 3 dengan SMKN Luragung. Ternyata SMKN Luragung tersingkir dibabak delapan besar oleh SMKN 5 melalui adu pinalti. Padahal selama dua babak tim SMKN 5 dikurung nyaris setengah lapang.

Kembali ke pertandingan SMKN 3 VS SMAN Ciawigebang berlangsung menarik. Kedua tim saling jual beli serangan. Namun, hingga menjelangan berakhir babak tambahan kedudukan tetap sama kuat 1-1.

Tapi tidak disangka petaka datang ke tim SMKN 3, umpan terobosan berhasil dikonversi oleh Adit menjadi gol. Seketika suasana menjadi Hening bagi tim SMKN 3. Asa untuk menang hilang seketika, terlebih waktu hanya meninggal 30 detik lagi.

“Target masuk ke final tercapai. Saya salut dengan perjuangan anak-anak. Semoga nanti difinal kita kembali menang,” ucap juru taktik SMAN Ciawigebang Gigin kepada kuninganmass.com usai pertandingan.

Di lain tempat terlihat raut muka kecewa dimuka pelatih SMKN 3 Kuningan Juanda. Ia mempertanyakan gol yang seharusnya tidak terjadi karena waktu sudah habis.

“Seharusnya waktu sudah habis, tapi sayangnya wasit tidak meniup pluit panjang. Selain itu jugabanyak keputusan wasit yang merugikan tim kami. Andai tiga pemain inti kami bermain ceritanya akan berbeda,” ucap Juanda yang menyebutkan satu dari tiga pemain yang tidak tampil karena mengikuti pelatda atletik.

Dari pantauan Kuninganmass.com, atmosfir pertandingan semifinal sangat terasa dengan hadirnya dua suporter. Yang tentu mendapatkan apluas adalah suporter SMKN 3 Kuningan. Meski jumlah penonton banyak dan harus kalah mereka menyemangati tim. Ini menjadi contoh yang positif. (agus)

 

 

 

 

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com