Ciri-ciri Pecandu Game Online dan Dampak Buruk Bagi Otak

KUNINGAN (MASS) – Di zaman millenial ini kita hidup tidak lepas dengan teknologi. Perkembangan teknologi di zaman millenial yang begitu pesat membuat masyarakat Indonesia terbilang amat tertinggal. Hal ini dibuktikan salah satunya oleh permasalahn hoax yang begitu cepat menyebar.

Namun, selain permasalahan hoax, terdapat pula hal yang dapat berdampak buruk bagi masyarakat, terlebih generasi muda adalah  game online. Saat ini  game online  sedang maraknya dimainkan maupun dibicarakan diberbagai sosmed oleh semua kalangan, baik itu anak-anak, remaja bahkan orang dewasa.

Menurut Nourma Nurjanah SKm Dosen Kesmas STIKes Muhammadiyah Kuningan, game online menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan anak, remaja bahkan orang dewasa di zaman sekarang ini. Permainan ini mampu menyita waktu separuh dari aktivitas sehari-hari pada umumnya, terutama bagi mereka yang telah mengalami kecanduan.

“Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organizations (WHO) menetapkan kecanduan game atau game disorder ke dalam versi terbaru International Statistical Classification of Diseases (ICD) sebagai penyakit gangguan mental untuk pertama kalinya,” ujarnya, Jum’at (2/11/2018).

Ia menjelaskan, dalam versi terbaru ICD-11, WHO menyebut bahwa kecanduan game merupakan disorders due to addictive behavior atau gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Dijelaskan dr Siste, seseorang dikatakan online/video gaming disorder bila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan WHO, yaitu adanya perilaku berpola dengan karakteristik sebagai berikut ada ganguan kontrol untuk melakukan permainan tersebut (tidak dapat mengendalikan diri).

Lalu, lebih memprioritaskan memainkan permainan tersebut dibandingkan dengan aktivitas yang seharusnya lebih diutamakan. Kemudian, intensitasnya semakin meningkat dan berkelanjutan meskipun ada konsekuensi atau dampak negatif yang dirasakan.

Perilaku berpola tersebut menyebabkan gangguan yang bermakna pada fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan dan area penting lainnya. Dan terakhir pola tersebut sudah belangsung selama 12 bulan.

Selain itu, terdapat pula delapan gangguan kesehatan, terutama pada otak menurut tulisan yang dimuat oleh rumah terapi khalifa. Ke delapan gangguan itu yakni penurunan konsentrasi belajar, memicu autisme, mengganggu fungsi daya ingat, atrofi/penyusutan otak, kelainan neurotransmitter dopamine, kelainan respon otak, memicu halusinasi dan gangguan sirkulasi seperti pusing kepala, migrain atau vertigo.(argi)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com