Budaya Korupsi, dari Mulai yang Sederhana

KUNINGAN (MASS) – Mahasiswi Hukum Tata Negara asal Kuningan, Elysa Heldawati kembali menyoroti soal susah ditekannya praktik korupsi.


Menurutnya, hal itu karena tidak sadarnya hampir semua orang, bahwa dari hal-hal kecil, sudah diajarkan budaya korupsi yang sederhana.


“Ya seperti gratifikasi sama pungli. Akhirnya ketemu dampak ke awal, pantes kalo korupsi seperti sudah mengakar,” tururnya.

Dirinya mencontohkan, negara-negara yang berhasil menekan angka korupsi besar-besaran, yakni dengan cara bikin aturan dan sinergi vertikal dan horizontal.

” Termasuk beberapa bagian di KPK juga adopsi dari luar. Cuman mungkin implementasinya rada susah. Soalnya edukasi pemahaman dasar bentuk-bentuk kecil korupsi di kita aja masih rancu,” terangnya.

Gratifikasi misalnya, sering disalah artikan seolah ucapan terima kasih yang lumrah dan wajar. Apalagi, bentuknya hampir sama.

“Yang membedakan keduanya adalah motif, niat, substansi dan pengaruhnya,” ujarnya.

Saat ditanyai perihal steatment seorang kepala dinas soal pungli, dan seolah memperluas ruang gratifikasi dalam samaran ‘terima kasih’, Elysa turut menanggapinya.

“Menurutku harusnya nggak (layak bicara seperti itu, red) sih. Soalnya gini, tentang pungli, gratifikasi sama ucapan terimaksih kan tipis-tipis,” sebutnya.

Diterangkan, semua harus paham bener dan mengeathui fundamennya sampai mana.

Untuk menghindari stigma buruk atau kemungkinan yang tidak diinginkan, mending kepala dinas menyebutkan, tidak usah kasih ucapan terimaksih atau bentuk apapun itu.

“Mau gimanapun bentuknya atau niatnya resikokan tetap ada,” tambahnya.

Disisi lain, masih menurut Elysa, dengan sikap seperti melarang ucapan terima kasih dalam bentuk apapun, bisa menciptakan tubuh kelembagaan yang kredibel, dan transparan.

“Dan itu berpengaruh ke tingkat kepercayaan masyarakat nantinya,” jelasnya di akhir. (eki)