Fieldtrip Santri SMAIT Al Multazam Sebagai Sarana Belajar Asyik

KUNINGAN (MASS) – Seiring berkembangnya zaman setiap lini kehidupan melalui proses perubahan globalisasi, tak terkecuali pendidikan. Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan untuk mencapai perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Esensi dari makna pendidikan akan mampu dicapai jika apa yang dilaksanakan sesuai dan tepat sasaran. Melaksanakan pelbagai hal diera globalisasi terutama demi terwujudnya perubahan ke arah yang lebih baik menuntut adanya inovasi.

Dalam rangka mewujudkan hal itu SMAIT Al-Multazam melalui program rutinnya berupaya untuk memfasilitasi pendidikan inovatif, salah satunya adalah kegiatan belajar mengajar yang dikemas dalam agenda FIELDTRIP. Berbicara tentang kegiatan ini, fieldtrip yang biasanya lebih sering dilaksanakan di daerah Bandung kali ini SMAIT Al-Multazam melalui tim wali kelas X yang dinahkodai Ust. Dian Sunandar, S. Pd. I. dan Usth. Mimin Rasmini, S. Psi. melakukan agenda ini di ibukota, tepatnya di Taman Mini Indonesia Indah.

Adapun beberapa tempat yang dikunjungi diantaranya:

  1. Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PPIPTEK), di sini santri disuguhkan berbagai alat peraga sains dan teknologi yang dapat dicoba secara langsung sehingga santri mampu mengaplikasikan teori yang selama ini dipelajari di kelas.
  2. Museum 4 dimensi, di sinj santri disuguhkan film 4 dimensi dengan tema Misi Luar Angkasa. Saat penayangan film setiap orang diberikan kacamata 3 dimensi agar pada saat menonton film tersebut, seolah-oleh terlibat langsung di dalamnya,
  3. Kunjungan ke Museum Transportasi. Di sini santri mampu melihat berbagai alat transportasi tempo dulu, mulai pertama kali ada sampai pada era tertentu secara langsung, bahkan beberapa diantaranya dapat dinaiki.

Dalam aktivitasnya selama mengunjungi tempat-tempat tersebut di atas seluruh santri juga mendapatkan tugas dari setiap guru mata pelajaran untuk melakukan observasi, pencatatan, dan penelitian yang kemudian dibuatkan laporannya.

Kegiatan ini disebut sebagai wahana belajar inovatif bagi santri karena pada beberapa kegiatannya mampu menjawab pertanyaan tentang teori yang selama ini dipelajari di kelas. Dari antusias calon-calon ilmuwan terpancar ketakjuban sains, ilmu dan teknologi, serta alam semesta. Sehingga bisa kita benarkan adanya pepatah: Teori tanpa praktek sama dengan kosong, dan praktek tanpa teori sama dengan bohong. Pepatah tersebut menyiratkan bahwa teori dan praktek bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.

Semoga dengan adanya kegiatan ini, esensi dari belajar mampu tersampaikan. Aamiin. (deden/rls)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com