KUNINGAN (MASS) – Hal yang paling tidak bisa di bendung saat ini adalah dimana kehidupan sudah tidak ada lagi sekat. Kemudahan arus informasi dalam berbagai fasilits yang tersedia membuat perubahan sosial yang Unpredictable. Mahasiswa yang memiliki kewajiban sebagai Agent Of Change, generasi yang berkewajiban memberikan dampak melalui pemikiran kritis dan aksi nyata. Namun, dewasa ini fenomena mahasiswa yang mendiami sudut-sudut kampus lalu berjoget-joget mengikuti trend di Tiktok menimbulkan pertanyaan: Apakah mahasiswa masih peduli dengan isu sosial, atau mereka justru terlena dengan tren joget-joget dan konten hiburan di media sosial?
TikTok merupakan platform media sosial yang didominasi oleh konten video pendek telah menjadi trend di berbagai kalangan usia. Menurut data dari Statista (2023), pengguna aktif TikTok di seluruh dunia mencapai 1,5 miliar pengguna, dengan mayoritas pengguna berusia antara 18-24 tahun. Di Indonesia sendiri, TikTok menjadi salah satu platform paling populer, dengan lebih dari 100 juta pengguna, hampir seluruh orang Indonesia di usia Mahasiswa aktif menggunakannya. Platform ini menawarkan kemudahan untuk menjadi viral, dengan algoritma yang memprioritaskan konten menarik, lucu, dan menghibur.
Namun, di balik popularitasnya, TikTok juga menuai kritik. Konten-konten seperti joget-joget, tantangan viral, dan hiburan ringan sering dinilai kurang substantif. Lalu, di mana peran mahasiswa sebagai kaum intelektual yang seharusnya kritis terhadap isu-isu sosial?
Dulu, mahasiswa dikenal sebagai garda terdepan dalam menyuarakan isu-isu sosial, politik, dan lingkungan. Namun, kini, kita melihat pergeseran yang signifikan. Mahasiswa lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat konten TikTok, mengejar popularitas, dan terlibat dalam tren viral yang tidak memiliki esensi dalam jati dirinya sebagai mahasiswa
Meskipun tren joget-joget di TikTok mendominasi, tidak semua mahasiswa kehilangan kepedulian terhadap isu sosial. Beberapa mahasiswa justru memanfaatkan TikTok sebagai medium untuk menyuarakan isu-isu penting. Misalnya, kampanye tentang perubahan iklim, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia sering kali viral di TikTok. Namun, sayangnya, konten-konten seperti ini kalah bersaing dengan konten hiburan yang lebih menarik perhatian.
Kecenderungan mahasiswa untuk terlena dengan tren joget-joget di TikTok berpotensi mengikis kesadaran sosial dan intelektualitas mereka. Menurut Jean Twenge, psikolog yang meneliti generasi muda, penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis dan empati sosial. Hal ini terjadi karena algoritma media sosial cenderung memprioritaskan konten yang menghibur, bukan yang mendidik.
Selain itu, penelitian dari Journal of Social Issues (2022) menunjukkan bahwa paparan berlebihan terhadap konten hiburan di media sosial dapat menyebabkan penurunan minat terhadap isu-isu sosial yang kompleks. Mahasiswa, yang seharusnya menjadi generasi pemikir, justru terancam kehilangan kemampuan untuk menganalisis dan merespons masalah-masalah sosial secara mendalam.
Tidak ada yang salah dengan hiburan, termasuk konten joget-joget di TikTok. Namun, sebagai mahasiswa—kaum intelektual yang diharapkan membawa perubahan—perlu ada keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab sosial. TikTok bisa menjadi alat yang powerful untuk menyebarkan kesadaran sosial, jika digunakan dengan bijak.
Mahasiswa harus kembali ke peran utamanya sebagai Agent Of Change. Jika tidak, kita mungkin akan kehilangan generasi yang seharusnya menjadi penggerak perubahan di tengah kompleksitas masalah sosial yang kita hadapi saat ini.
Oleh : Muh. R. Arraqiib
(Aktivis Muda Kuningan/Pegiat Literasi)