Menengok Keindahan Peninggalan Prasejarah

KUNINGAN (MASS)-  Sebagai bekas kota peningalan zaman prasejarah Kabupaten Kuningan banyak menyimpan situs–situs prasejarah. Dari sekian peninggalan situs-situs prasejarah Situs Museum Taman Purbakala Cipari yang paling dikenal di nusantara.

Situs yang selalu menjadi tujuan wisata berada di lingkungan Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur. Dengan luas 7000 m2 situs ini berbentuk sebuah taman yang dikelilingi tembok batu setinggi 2 meter yang luasnya 2500 m2.

Pada hari-hari libur tempat ini kerap dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Bahkan bagi pelajar maupun mahasiswa di seluruh Indonesia mengunjungi tempat ini merupkan suatu hal yang diwajibkan.

Situs Cipari sekarang lebih di kenal dengan Museum Situs Taman Purbakala Cipari semula adalah tanah milik  Wijaya dan sebagian milik beberapa warga masyarakat sekitar. Semula pada permukaan tanah tidak nampak adanya monument-monument maupun artifak yang bercirikan ke purbakalaan.

Tanpa sengaja pada tahun 1971 Wijaya menemukan jenis batuan yang mirip dengan batu yang pernah di pamerkan di Gedung Paseban Tri Panca Tunggal Cigugur.  Informasi ini diteliti oleh P Djati Kusuma dengan mengadakan penggalian percobaan dan menghasilkan sebuah peti kubur batu, kapak batu, gelang batu dan gerabah.

lalu, penemuan ini di laporkan Kelembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional di Jakarta. Setelah itu, lembaga tersebut mengadakan  penelitian dan penggalian.

Adapun proses penggalian sendiri dilakukan dalam dua tahap yakni tahun 1972 penggalian percobaan dengan tujuan penyelamatan dan tahun 1975 kegiatan penggalian tatah. Baru  pada tahun 1976 dilaksanakan pembangunan Site Museum Taman Purbakala Cipari dan akhirnya pada tanggal 23 Februari 1978 di resmikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof DR Syarif Thayeb .

Hasil penelitian Teguh Asmar MA seorang arkeolog dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional menyimpulkan dari analisa typolog stratigrafi, situs Cipari pernah menggalami dua kali masa pemukiman yakni akhir zaman neolitik dan awal zaman perunggu sekitar 1.000 sampai 500 sebelum masehi.

Pada saat itulah kata dia, masyarakatnya telah mengenal organisasi yang baik, selain itu telah memiliki suatu kepercayaan pemujaan terhadap nenek moyang terbukti adanya bangunan dari batu-batu besar yang dinamakan Megalit. Hal ini menggambarkan kepercayaan mereka akan adanya hidup dan kematian. Ditempat tersebut terdapat monumen-monumen sebagai medium penghormatan menjadi tahta dan lambang kematian.

Hingga saat ini area ditemukannya artefak-artefak batu dan gerabah masih tertata baik, juga tingkat kedalaman benda-benda itu terkubur masih orisinal.

Peti kubur yang terbuat dari batu indesit besar berbentuk sirap masih tersusun di tempatnya semula. Mengarah ke timur laut barat daya yang menggambarkan konsep-konsep kekuasaan alam, seperti matahari dan bulan yang menjadi pedoman hidup dari lahir sampai meninggal.

Selain peti kubur, didalam taman ada pula tanah lapang berbentuk lingkaran dengan diameter enam meter dengan dibatasi susunan batu sirap, di tengah-tengahnya terdapat batu.

Tempat yang bernama Batu Temu Gelang ini adalah lokasi upacara dalam hubungan dengan arwah nenek moyang serta berfungsi sebagai tempat musyawarah.

Di kawasan ini juga ada altar batu (punden berundak), yakni bangunan berundak-undak yang di bagian atasnya terdapat benda-benda megalit atau makam seseorang yang dianggap tokoh dan dikeramatkan. Altar ini berfungsi sebagai tempat upacara pemujaan arwah nenek moyang.

Di ketinggian tertentu terdapat pula menhir, yakni batu tegak kasar sebagai medium penghormatan sekaligus tempat pemujaan. Ada pula dolmen (batu meja) yang tersusun dari sebuah batu lebar yang ditopang beberapa batu lain sehingga berbentuk meja.

Fungsi dolmen sebagai tempat pemujaan kepada arwah nenek moyang sekaligus tempat peletakan sesaji. Terdapat juga batu dakon (lumpang batu), yakni batu berlubang satu atau lebih, berfungsi sebagai tempat membuat ramuan obat-obatan.

Walaupun ditemukan artefak-artefak namun temuan ini tidak dapat menjelaskan siapa yang dikubur dalam tiga peti kubur batu itu dan bagaimana ciri-ciri fisiknya, selain diperkirakan tiga orang itu adalah pemuka masyarakat.

Selain dapat melihat peninggalan yang terdapat di taman,  di dalam museum juga terdapat peninggalan  seperti kendi, kendil, jembaran tempat sayur, kekep, buli- buli, batu obsidian, bokor dan lain- lain yang  disimpan rapid an terlindungi.

Dari bukti-bukti sejarah itu dapat disumpulkan bahwa sejak zaman batu sudah ada kehidupan. Maka masarakat Kuningan umumnya telah berbudaya tinggi sejak dulu.(agus sagi mustawan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com