Jajan Jalanan : Berburu Sarapan di Kota Kuningan

KUNINGAN (MASS) – Jajan jalanan kali ini, membawa kuninganmass.com untuk berburu sarapan di Kota Kuningan. Sejak pukul 6 pagi, kuninganmass.com coba menjelajahi jalanan Kuningan yang masih lenggang.

Beberapa kendaraan sudah berlalu lalang, pejalan kaki dan pesepeda pun terlihat sudah mulai melakukan aktifitas.
Suasana yang masih dingin, dengan cahaya pagi yang hangat dan matahari yang belum terlihat menemani perjalanan.

Kanan kiri jalan sudah cukup banyak berjejer penjual sarapan, mulai dari bubur kacang, bubur ayam, ketoprak, dan sorabi gorengan.

Tapi kendaraan kami mendadak berputar arah di sekitar Jalan Juanda, Kuningan. Tepatnya di depan salah satu rumah sakit swasta, di sekitar BAZNas.

Seorang ibu yang sibuk dengan kayu bakar, membuat adonan sorabi, serta anaknya yang sedari tadi menggoreng bala-bala dan tempe menarik perhatian kami. Meski sudah terlewat beberapa meter, kami memilih berputar kembali dan memutuskan sarapan disana.

Karena masih tradisional, kami harus sabar menunggu antrian pembuatan sorabi. Sembari menunggu, kami memilih duduk menghadap jalan raya, arah timur-selatan.

Secangkir the hangat tawar kami ambil untuk menemani waktu menunggu. Dan jackpot, pagi itu, kami masih bisa melihat pemandangan fajar yang indah.

Dengan ornament langit yang berwana orange memancar. Semua itu, cukup untuk menghangatkan tubuh dan menyegarkan mata kami yang sedikit terkantuk-kantuk.

Selang sepuluh sampai lima belas menit, serabi dan gorengan bala-bala serta tempe dihidangkan. Dengan lahapnya, hidangan yang masih serba ‘hangat’ itu memberikan kenyamanan di lidah dan perut kami yang keroncongan.

Tak terasa, selain satu sorabi, satu goreng tempe dan dua bala-bala alias pia-pia juga habis dilahap. Semua porsinya pun cukup besar.

Mungkin memang benar, sarapan sembari bercengkrama dan mengobrol adalah hal paling tepat dilakukan untuk men-charge semangat.

Obrolan yang kami lakukan pun dua arah, selain obrolan bersama salah satu rekan, obrolan dengan dua pedagang yang terus sibuk membuat sorabi dan gorengan pun berlanjut.

Belakangan, kami ketahui nama pedagang tersebut adalah Ibu Amah dan anak laki-lakinya. Ibu Amah sendiri, merupakan warga Beber yang sudah lama berjualan dan akhirnya menetap di Kuningan.

“Sudah lama, aya merenan (20 tahun, red) sakitu mah,” ujarnya saat ditanyai berapa lama berjualan dan kuninganmass.com menyebut angka 20 tahun, Selasa (13/7/2020) pagi.

Ibu Amah adalah orang yang ramah meski sedikit pemalu ketika kuninganmass.com mengambil gambar dirinya membuat sorabi.

Anaknya pun ramah dan murah senyum. Hal-hal kecil seperti itu, sadar atau tidak, sangat ampuh menyentuh emosi pelanggan.

Ibu Amah juga menjawab beberapa pertanyaan kami dengan terus membuat sorabi. Dirinya bilang, selepas salat Subuh mereka biasanya langsung berdagang sampai jam 8 pagi, itupun kalau habis.

Siangnya, dilanjut setelah duhur hingga maghrib oleh sang anak. Selepas maghrib, dirinya tidak memilih berdagang.

Ibu Amah juga bercerita tentang ketiga anak lainnya yang sudah menikah dan memilih berwiraswasta masing-masing.

Ada juga yang memilih jalan yang sama, berjualan sorabi. Saat ‘digoda’ dengan pertanyaan ‘sudah banyak cabangnya dong bu ?’, dirinya hanya memberi senyuman lebar dan bilang, jika itu bukan cabang, tapi mandiri.

“Namanya juga dagang, ada rame ada sepinya. Komo Kamari nuju kitu (pandemic, red) mah,” jawabnya saat ditanyai soal ramai tidaknya pembeli di tempatnya berjualan.

Setelah kurang lebih setengah jam disana, kuninganmass.com memilih berhenti dan segera kembali ke tempat kami. Mensyukuri perut yang sudah terisi, sembari menikmati udara pagi dan sinar mentari.

Kadang, pandangan kami ke kanan dan ke kiri membaw pada tontonan menarik lain lagi. Suasana Kuningan saat pagi.

Apalagi sepanjang jalan baru Awirarangan. Pemandangan ciremai yang membentang selalu terlihat menenangkan, meski saying, jalannya masih ada yang berlubang. (eki)