Tradisi Nyekar Kaum Sarungan

KUNINGAN (Mass) – Tradisi Nyekar (tabur bunga) atau ziarah kubur bagi masyarakat Indonesia khususnya di Kabupaten Kuningan kepada seseorang yang telah terlebih dahulu wafat atau meninggal dunia, sepertinya masih erat membudaya di sebagian besar kalangan masyarakat. Tradisi yang kerap dilakukan di bulan khusus ini terkadang memang jarang dilaksanakan pada bulan-bulan lain.

Bahkan, ada banyak macam nama untuk tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan atau di akhir bulan Sya’ban, dengan istilah arwahan, nyekar (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar Jawa Timur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi semacam kewajiban yang bila ditinggalkan serasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

Tak terkecuali bagi warga Desa Winduhaji Kuningan, Alan Suwgiri bersama sanak keluarganya melakukan ziarah kubur di pemakaman umum setempat. Dirinya yang mengaku sebagai kaum sarungan (NU,red) menilai, budaya ngembang atau nyekar ke kuburan di saat tertentu, jelas menjadi sebuah budaya yang tak bisa dihindari dari kehidupan.

“Tradisi berziarah kubur tetaplah perlu dilestarikan karena tidak bertentangan dengan syari’ah Islam. Bahkan, malah dapat mengingatkan akan kehidupan di akhirat nanti,” kata Alan yang tak lain Wakil Sekretaris GP Ansor Kuningan kepada kuninganmass.com usai ziarah kubur kemarin, Kamis (7/7).

Baginya, tradisi semacam ini justru merupakan modal yang bagus untuk mempersiapkan diri setiap menyongsong bulan Ramadhan. “Idul Fitri merupakan hari kemenangan dan syukuran bagi mereka yang telah menjalankan ibadah puasa. Hari dimana manusia kembali kepada fitrah aslinya, yang tidak punya dosa dan noda seperti seorang bayi yang baru lahir dari kandungan Ibunya, lahir dengan wajah dan mental baru menjadi manusia berwatak jiwa tauhid yang tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, sebuah kalimah atau ucapan Hari Raya Idul Fitri yakni Minal ‘Aidin Wal Faizin yang kerap disampaikan setiap orang kepada sesamanya selalu disambut dengan takbir, tahlil dan tahmid sebagai bentuk pensucian akidah dari anasir kemusyrikan yang dapat merusak tauhid seseorang.

“Karena fitrah manusia adalah tauhid kepada Allah SWT. Al Quran menerangkan bahwa, sesungguhnya manusia telah bertauhid sejak ia di alam arwah,” pungkasnya. (andri)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com