Tantangan Ekonomi Kuningan di Era Digitalisasi Perdagangan

KUNINGAN (MASS) – Pembangunan perdagangan merupakan salah satu kegiatan di bidang ekonomi yang mempunyai peran strategis dalam rangka pembangunan yang berwawasan nusantara. Sektor perdagangan berperan dalam mendukung kelancaran penyaluran arus barang dan jasa, memenuhi kebutuhan pokok rakyat, serta mendorong pem­bentukan harga yang wajar.

Pembangunan perdagangan sangat penting dalam upaya mem­percepat pertumbuhan ekonomi dan pemerataan, dan memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam penciptaan lapangan usaha serta perluasan kesempatan kerja dan peningkatan pendapatan. Kegiatan sektor perdagangan saling berkait dan saling menunjang dengan kegiatan sektor lainnya, seperti sektor produksi, yaitu pertanian, industri, dan pertambangan; sektor keuangan; sektor perhubungan dan telekomunikasi. Pembangunan perdagangan berperan penting pula dalam menciptakan dan mempertahankan stabilitas ekonomi dalam mengendalikan inflasi dan mengamankan neraca pembayaran.

Peran sektor perdagangan yang akan bertambah penting, ditandai dengan munculnya keunggulan Ekonomi Kreatif sebagai pemicu inovasi perdagangan tanpa batas, kont ribusi subsektor perdagangan eceran yang semakin signif ikan dalam pembentukan PDB, dan penciptaan lapangan kerja secara luas. Hal ini terjadi karena: terbentuknya integrasi domestik di sektor perdagangan; terciptanya intensitas mutual partnership dan linkage antara perdagangan eceran dengan perdagangan besar; terciptanya transaksi domest ik dan ekspor dari UKM maupun perusahaan skala besar; terciptanya intensitas koordinasi antara fasilitator Pusat (Kementerian Perdagangan) dan fasilitator Daerah (instansi terkait) dalam pengembangan perdagangan eceran, perdagangan besar, dan pembinaan sektor informal; dan tingginya tingkat penerapan manaj emen dan teknologi perdagangan, termasuk yang terkait dengan jaringan.

Penggunaan metode perdagangan dan bisnis berbasis teknologi informasi semakin umum digunakan sehingga meningkatkan efisiensi ekonomi, baik secara individu, kelompok atau antarkomunitas pelaku bisnis perdagangan, antara lain maraknya pemasaran melalui internet dan bisnis periklanan. Selain itu, keterlibatan pelaku perdagangan eceran dan perdagangan besar dalam ekspor dan impor semakin signifikan dan produktif. Implikasi kondisi di atas terhadap ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat sangat baik sekalipun pertumbuhan jumlah penduduk merambat naik. Transportasi yang terkendala oleh faktor geografis relatif teratasi karena sinergi antar wilayah. Faktor terpent ing yang mendasari hasil pembangunan perdagangan adalah peningkatan indeks kepercayaan bisnis pada semua lini perdagangan di Indonesia.

Perkembangan jumlah usaha dan nilai transaksi sektor perdagangan mengalami peningkatan, yaitu nilai transaksi perdagangan eceran dan nilai transaksi perdagangan ekspor-impor. Sedangkan dalam kategori nilai transaksi perdagangan besar, terlihat proporsi nilai transaksi perdagangan nasional didominasi oleh transaksi perdagangan dalam negeri untuk distribusi dan nondistribusi serta transaksi para eksportir, yaitu berada di atas transaksi importir dan transaksi perdagangan besar yang berdasarkan fee atau kontrak.

Peran sistem logistik, intermediasi perdagangan, jaringan koleksi, pengumpul, pengecer, grosir, dan dist ribusi umumnya semakin berkembang dan meningkat, yang didorong oleh meningkatnya penggunaan teknologi elekt ronik, transportasi yang memadai, dan meningkatnya indeks kepercayaan bisnis di semua lini perdagangan dan perekonomian.

Sektor perdagangan memberi kontribusi positif terhadap penciptaan tenaga kerja, lingkungan hidup, kebudayaan, dan keamanan nasional serta pembentukan norma sosial bangsa.

Sementara itu, tenaga kerja di bidang perdagangan lebih didominasi pada perdagangan eceran di pertokoan, warung, eceran t radisional, eceran modern, kecuali mobil dan motor. Dengan peningkatan sinergi dan koordinasi, maka 70 persen tenaga kerja sektor perdagangan yang terisi oleh usaha informal dapat dit ingkatkan statusnya.  Selain itu, integrasi strategis dengan segmen komunitas ekonomi kreatif diyakini akan membuka peluang kesempatan kerja yang signifikan.

Kabupaten Kuningan Sebagai Kabupaten Perdagangan Potensi perekonomian di Kabupaten Kuningan dalam kurun waktu 2010 s.d. 2016 menempatkan kategori perdagangan (G) menjadi kategori yang benar-benar mendominasi pola distribusi struktur perekonomian setelah pertanian.

Tabel 1. Sarana Perekonomian Masyarakat di Kabupaten Kuningan Tahun 2013 s.d. 2017

Tabel 2. Kontribusi dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor Kabupaten Kuningan 2011 – 2017

Dari sisi peran maka kategori (G) Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor pada PDRB Kabupaten Kuningan sejak 2010 s.d. 2016 selalu menunjukkan angka di atas 15 persen dan baru pada tahun 2017 berada dibawah angka 15 persen. Walaupun tampak grafik menurun pada pertumbuhannya akan tetapi nilai dari kategori G ini sangatlah tinggi dan memberi warna dalam pertumbuhan perekonomian Kabupaten Kuningan secara keseluruhan.

Grafik 1. PDRB Kategori G Nilai dan Perannya Terhadap PDRB ADHB Kabupaten Kuningan Tahun 2010 – 2017

Secara laju pertumbuhan perekonomian kategori G ini berfluktuasi dengan kecenderungan melemah, kekhawatiran akan menurunnya daya beli penduduk mengemuka mengikuti trend secara nasional dimana penduduk pada saat ini lebih cenderung melakukan proses saving / menabung daripada membelanjakan secara konsumtif kelebihan uang yang dimiliki.

Daya beli tidak menurun tetapi ada perubahan pola belanja masyarakat. Pada saat ini masyarakat lebih cerdas dalam menggunakan uang atau tabungannya untuk melakukan proses belanja yang tidak perlu. Sangat dekatnya Lebaran dengan tahun ajaran baru juga menjadi penyebab mengapa penjualan ritel menurun di masa puasa dan lebaran  dibanding dengan tahun lalu.

Terlepas dari keadaan di atas terkait melemahnya daya beli masyarakat Sensus Ekonomi Listing Tahun 2016 hasilnya menunjukkan bahwa kategori perdagangan masih menjadi kategori dengan daya serap tenaga kerja yang tertinggi di Kabupaten Kuningan.

Tabel 3.  Proporsi Usaha dan Tenaga Kerja Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor di Kabupaten Kuningan dan Propinsi Jawa Barat

Tabel 3. menunjukan bahwa penduduk Kabupaten Kuningan menurut hasil listing Sensus Ekonomi Tahun 2016 dari total 94.885 usaha ternyata 52 persen diantaranya melakukan usaha pada kategori G yaitu Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor atau sejumlah 49.342 usaha.

Tabel 3. juga menunjukan bahwa penduduk Kabupaten Kuningan menurut hasil listing Sensus Ekonomi Tahun 2016 dari total 190.952 tenaga kerja ternyata 42,10 persen diantaranya adalah tenaga kerja pada kategori G yaitu Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor atau sejumlah 80.395 orang tenaga kerja.

Tabel 4. Proporsi Skala Usaha dan Sub Kategori Perdagangan Besar dan Eceran, Reparasi Mobil dan Motor di Kabupaten Kuningan dan Propinsi Jawa Barat

Peran UMK yang sangat besar dalam usaha kategori G ini ada pada kategori Perdagangan Eceran Bukan Sepeda Motor dan Mobil, untuk Kabupaten Kuningan angka nya ada pada titik 91,28 persen sementara Jawa Barat ada pada angka 89,22 persen.

Grafik 2. Proporsi Usaha dan Tenaga Kerja Kategori Perdagangan (G) Terhadap Total Usaha dan Tenaga Kerja di Kabupaten Kuningan dan Jawa Barat

KESIMPULAN

  1. Peran dari Perdagangan dalam PDRB Kabupaten walaupun secara nominal terus menunjukkan perkembangan namun secara persentase distribusinya cenderung terus menurun dari tahun 2010-2017.
  2. Penurunan dari persentase ini sangat dimungkinkan terjadi karena adanya pergeseran pola perekonomian penduduk Kabupaten Kuningan, terutama dalam sektor perdagangan. Perdagangan yang semula bersifat konvensional berubah menjadi lebih modern dengan adanya digitalisasi perdagangan.
  3. Kesibukan penduduk di era pembangunan salah satunya berdampak pada perubahan pola konsumsi yang menjad lebih berorientasi pada pelayanan yang bersifat lebih privasi, seperti perdagangan online.
  4. Pelaku usaha di Kabupaten Kuningan secara umum kurang sigap dalam menanggapi perubahan dan pertumbuhan teknologi yang cepat di era android seperti pada saat ini dan masih cenderung mempertahankan pola perdagangan konvesional karena kurangnya kemampuan untuk menggunakan sarana digital dalam usahanya.
  5. Perdagangan dengan media online adalah peluang pasar yang sangat besar, bukan ancaman. Hal ini yang membuat pelaku usaha perdagangan merubah orientasi usahanya menjadi lebih menyesuaikan dengan perkembangan tehnologi komunikasi.
  6. Inovasi pelaku usaha perdagangan yang cenderung monoton membuat para konsumen semakin enggan untuk melakukan perdagangan secara face to face.

SARAN

  1. Penurunan distribusi peran dari kategori perdagangan harus disikapi dengan positif untuk terus dilakukan perbaikan.
  2. Kemampuan melakukan proses digitalisasi perdagangan bagi UKM adalah sebuah keharusan bagi pelaku usaha perdagangan tersebut agar tidak tertinggal dalam pemasaran.
  3. Diversifikasi keanekaan produk yang dapat dilakukan pelaku usaha perdagangan seharusmya terus dan secara kontinyu mendapatkan bimbingan dari instansi terkait.
  4. Perdagangan dengan media online untuk pelaku usaha perdagangan perlu ada pelatihan dan pembimbingan sehingga menjadi lebih mudah operasionalnya.
  5. Pemerintah harus bisa menyediakan fasilitas expo (pameran pemasaran) bagi usaha yang sudah mampu melakukan pemasaran secara elektornik melalui media sosial maupun aplikasi andorid. Dengan cara seperti ini diyakini bahwa kategori perdagangan mampu berperan lebih baik lagi dalam perekonomian di Kabupaten Kuningan.

Penulis: Asep Hermansyah, S.ST.

BPS Kabupaten Kuningan

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com