Setiap Kita Adalah Guru

KUNINGAN (MASS)- Dalam Wikipedia, secara umum pengertian guru adalah pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah atau pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

Secara formal, guru adalah seorang pengajar di sekolah negeri ataupun swasta yang memiliki kemampuan berdasarkan latar belakang pendidikan formal minimal sarjana, dan telah memiliki ketetapan hokum yang sah sebagai guru berdasarkan undang-undang guru dan dosen yang berlaku di Indonesia.

Dalam pengertian yang sederhana, guru adalah orang yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru dalam pandangan masyarakat adalah orang yang melaksanakan pendidikan di tempat-tempat tertentu tidak mesti di lembaga pendidikan formal, tetapi bisa juga di Masjid, di Surau atau Musholla, di Rumah dan sebagainya.

Hakikat guru atau pendidik dalam Islam pada prinsipnya tidak hanya mereka yang mempunyai kualifikasi keguruan secara formal yang diperoleh dari bangku sekolah perguruan tinggi. Melainkan yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kompetensi keilmuan tertentu dan dapat menjadikan orang lain pandai dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Ranah kognitif menjadikan peserta didik cerdas intelektualnya, ranah afektif menjadikan siswa mempunyai sikap dan perilaku yang sopan, dan ranah psikomotorik menjadikan siswa terampil dalam melaksanakan aktivitas secara efektif dan efesien, scara tepat guna.

Lalu, siapa sesungguhnya yang disebut guru itu?  Menurut saya, guru adalah mereka yang di gugu dan ditiru. Mereka yang menjadi panutan bagi orang disekitarnya. Guru juga memberikan seluruh pribadi guru, memberikan contoh perilaku guru dalam keseharian pada siswa.

Apa yang guru lakukan, bagaimana guru bicara, sikap dan bahasa tubuh guru, semuanya menjadi contoh bagi siswa. Itulah makna, digugu dan ditiru. Menjadi sosok yang menjadi panutan dan sosok yang ideal untuk ditiru.

Jika memperhatikan beberapa pengertian tentang guru di atas, setiap kita adalah guru. Pengertian guru menurut istilah masa sekarang, menjadi arti yang lebih luas dalam masyarakat dari arti diatas, yakni semua orang yang pernah memberikan suatu ilmu atau kependidikan tertentu kepada seseorang atau sekelompok orang dapat disebut sebagai “guru”.

Sebagai contoh, mereka yang melakukan dakwah dengan berceramah tentang makna hidup, pembentukan akhlak karimah yang dapat membuat orang berperilaku sopan sebagai bagian dari pembelajaran afektif (sikap), sekalipun tidak berdiri di depan kelas, mereka adalah guru.

Para Orang Tua yang mendidik dan membesarkan anak-anaknya agar terbentuk kepribadian yang baik adalah sosok guru yang pertama dan utama dalam kehidupan. Meskipun mereka tidak berdiri di depan kelas, akan tetapi disadari atau tidak para orang tua sudah dapat melakukan proses pembentukan kognitif, afektif dan psikomotorik pada anak.

Para Pejabat yang dengan kekuasaannya mampu memberikan kesejehteraan , rasa aman dan nyaman kepada rakyatnya bisa juga disebut guru. Karena dengan memberikan rasa aman dan nyaman membuat rakyat tidak berperilaku yang negative.

Ketika rakyat tidak berperilaku negative ini adalah bagian dari ranah afektif (sikap) yang tercantum dalam proses pembelajaran. Dimana dengan ranah afektif setiap orang harus mampu bersikap baik kepada orang lain.

Seorang Guru Silat yang mengajarkan jurus-jurus silat kepada muridnya bisa juga disebut guru. Dia mungkin tidak mampu untuk tampil di depan kelas secara formal, tetapi begitu banyak muridnya yang sukses sebagai hasil didikannya.

Dia mengajarkan jurus-jurus kepada muridnya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan sehingga menghasilkan murid yang tidak hanya kuat dalam fisik tetapi kuat juga dalam mental. Proses menghapalkan jurus, terbentuknya fisik dan mental yang kuat adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tugas seorang guru.

Demikian halnya dengan wartawan, dengan tugas jurnalisnya mereka bisa disebut guru. Ketika mereka mencari dan menyusun berita untuk dimuat di media baik cetak maupun elektronik, sebenarnya sedang menyampaikan ilmu kepada masyarakat luas.

Masyarakat yang tidak mengetahui tentang kejadian di luar sana dapat mengetahui dari informasi yang disampaikan wartawan melalui media tadi. Setidaknya aspek kognitif (pengetahuan) dalam pembelajaran telah diajarkan oleh wartawan melalui berita yang ditulisnya.

Dari sedikit contoh berbagai profesi di atas, jika saja seluruh aktifitas kita, diniatkan untuk membentuk perilaku yang baik, mencerdaskan anak bangsa, diniatkan agar sosok diri, menjadi sosok yang patut untuk digugu dan ditiru, Maka, semua kita patut untuk disebut seorang guru.

Jadi jangan sempitkan makna guru, hanya pada mereka yang berdiri di depan kelas untuk mentransfer ilmu. Jadikan setiap kita adalah guru, minimal untuk lingkungan terkecil dimana kita berada.***

SELAMAT HARI GURU
Penulis : SUEB, Kepala MTsN 12 Ciamis asal Kuningan
Pelatih Perguruan Silat

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com